SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, pagi ini kita kembali bersua di persimpangan waktu, saat Februari bersiap mengakhiri perjalanannya, dan Maret menanti di tikungan hari.
Tiga hari lagi, kalender berganti lembar. Seperti hidup, waktu tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah, mengalir, dan terus mengajarkan makna.
Ramadan pun menyapa dalam irama cuaca yang tak menentu. Kadang hujan menetes perlahan, kadang panas menyengat tanpa aba-aba. Namun di balik itu, semesta seakan sedang menguji ketabahan:
Sejauh mana kita mampu menjaga kesabaran, kesehatan, dan keikhlasan dalam ibadah.
Untuk para pembaca yang sedang diuji sakit, semoga lekas sembuh. Dan bagi yang tetap sehat, semoga senantiasa dijaga dalam kebugaran. Kita saling mendoakan, sebab doa adalah bahasa cinta paling sunyi sekaligus paling tulus.
Terus tingkatkan kewaspadaan, karena BMKG telah mengingatkan agar tgl 25 s/d 27 Februari 2026 harap waspada dengan kondisi hujan lebat yang berpotensi banjir dan tanah longsor, tetap waspada dan tingkatkan doa-doa malam.
Di belahan bumi yang jauh, dunia kembali dikejutkan oleh geliat diplomasi. Pada 19 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memimpin pertemuan Dewan Perdamaian di Washington.
Sebuah forum yang diklaim sebagai mesin diplomasi baru untuk fase lanjutan gencatan senjata dan rekonstruksi Gaza. Janji dana miliaran dolar digelontorkan, komitmen negara-negara disatukan, dan optimisme dibangun di tengah puing-puing luka.
Namun, di balik angka-angka besar itu, tersimpan pertanyaan mendalam: akankah kemanusiaan benar-benar menjadi poros, atau sekadar retorika politik global?
Sementara itu, di ufuk timur Sulawesi Selatan, harapan berdenyut lebih sunyi, namun tak kalah kuat. Tanah Luwu dengan sejarah panjangnya, masih menunggu keadilan pembangunan.
Dari doa para tetua adat hingga suara lantang mahasiswa, aspirasi Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Raya terus menggema.
Ini bukan sekadar pemekaran wilayah, melainkan ikhtiar mendekatkan pelayanan, mempercepat kesejahteraan, dan menjemput masa depan yang lebih setara.
Pertanian, tambang, laut, dan pariwisata terbentang luas. Namun jarak geografis dari pusat pemerintahan kerap menjadi sekat. Di situlah DOB dimaknai: bukan ambisi, melainkan kebutuhan.
Meski moratorium masih menjadi tembok tinggi, keyakinan rakyat Luwu tak runtuh.
Mereka percaya, setiap perjuangan yang jujur akan menemukan jalannya.
Namun kehidupan tak selalu berjalan searah harapan. Di Tana Toraja, sebuah benteng kepercayaan runtuh. Kasat Narkoba yang semestinya menjadi garda terdepan memerangi narkoba, justru terjerat dalam pusaran yang sama.
Tes urine menjadi saksi, dan hukum bergerak tanpa ragu. Sebuah ironi yang getir, namun juga penegasan bahwa hukum harus berdiri di atas semua pangkat.
Peristiwa ini menampar kesadaran kita: bahwa musuh terbesar sering kali bukan di luar, melainkan di dalam diri. Ramadan pun mengingatkan, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjaga integritas jiwa.
Sebab kejatuhan moral tak pernah terjadi dalam sekejap, ia lahir dari kelengahan yang dibiarkan tumbuh.
Nada getir itu kembali bergema dari Maluku. Seorang anggota Brimob harus menerima sanksi pemecatan tidak dengan hormat akibat pelanggaran berat.
Empat belas saksi dihadirkan, fakta-fakta dibuka, dan keputusan dijatuhkan. Berat, namun harus dilakukan. Demi marwah institusi dan keadilan yang tak boleh ditawar.
Namun di tengah hiruk-pikuk tragedi dan kegaduhan dunia, kehidupan selalu menyimpan kisah-kisah kecil yang menyejukkan.
Di sudut media sosial, sepasang pengantin mencuri perhatian. Tanpa resepsi megah, tanpa kemewahan, mereka memilih akad sederhana di KUA, lalu berangkat bulan madu dengan sepeda motor.
Sebuah potret bahagia yang bersahaja. Bahwa cinta tak harus dirayakan dengan gemerlap, cukup dengan keikhlasan dan keberanian melangkah bersama.
Di sanalah kita belajar: bahagia bukan soal seberapa besar pesta, tetapi seberapa tulus niat membangun masa depan. Dalam kesederhanaan, sering kali tersimpan makna paling dalam.
Maka, di hari Rabu yang tenang ini, marilah kita menata kembali hati, menimbang peristiwa dengan bijak, dan menjemput hari esok dengan penuh harap.
Pantun Penutup:
Pergi ke taman memetik delima,
Delima merah disimpan di peti.
Syukuri hidup walau sederhana,
Karena bahagia lahir dari hati.
Sampai disini jumpa kita, insya Allah, Mozaik Kehidupan akan tampil di hadapan pembaca dengan info -info segar yang meneduhkan hati, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447 H.