SYAKHRUDDINNEWS.COM – Subuh belum sepenuhnya membuka tirainya. Langit Makassar masih menyimpan sisa kelam, ketika satu per satu langkah jamaah menembus dingin menuju Masjid Besar Al-Abrar.
Ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai motor perlahan, semua bergerak dalam irama yang sama: rindu akan sujud dan harap akan ampunan.
Di dalam masjid, shaf-shaf rapi terhampar. Suasana hening, khusyuk, dan menenangkan. Bertindak sebagai imam sekaligus mubaligh, Ustadz H. Abd. Rasyid mengawali subuh dengan lantunan ayat-ayat suci yang menggetarkan.
Seusai shalat, tausiah pun mengalir lembut, menyentuh relung kesadaran.
“Marilah kita bersyukur kepada Allah,” ucapnya lirih namun tegas. “Karena hari ini kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan kemauan untuk hadir berjamaah di masjid.
Di luar sana, ada saudara-saudara kita yang ingin berada di tempat ini, namun kesehatannya perlahan dicabut, terbaring di rumah sakit, atau tak lagi sanggup melangkah ke masjid.
Ada pula yang sehat, namun lebih memilih mengejar kesenangan dunia, lupa mampir ke rumah Allah.”
Kalimat itu menggema dalam hati jamaah. Sebuah pengingat sederhana, namun menohok. Betapa kehadiran di subuh hari bukanlah rutinitas biasa, melainkan karunia luar biasa.
Lebih jauh, Ustadz Rasyid mengajak jamaah untuk mengimani sepenuh hati setiap ketetapan takdir Allah SWT. Ia menyinggung bagaimana membangun dan memakmurkan masjid membutuhkan pengorbanan besar, kesabaran, dan keikhlasan.
Semua itu hanya bisa ditopang oleh iman yang kokoh.
Kemudian, ia menuturkan tentang amalan-amalan ringan yang sering dianggap sepele, padahal besar pahalanya: menjawab adzan, senantiasa berdzikir, mengawali setiap aktivitas dengan bismillahirrahmanirrahim, serta memperbanyak tilawah Al-Qur’an.
“Dengan sering berinteraksi dengan Al-Qur’an,” katanya, “hati menjadi lapang, jiwa menjadi tenang, dan rumah tangga pun akan dipenuhi sakinah.”
Di penghujung tausiah, ajakan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW menjadi penutup yang menghangatkan suasana.
Seolah subuh itu bukan hanya menandai pergantian waktu, melainkan juga pembaruan niat dan semangat hidup.
Usai ceramah, jamaah tak serta-merta beranjak. Mushaf-mushaf terbuka. Ayat-ayat suci dilantunkan perlahan, mengisi ruang masjid hingga menjelang waktu isyraq.
Saat satu per satu melangkah pulang, senyum tipis terukir di wajah. Ada ketenangan yang tertinggal, ada bahagia yang sederhana.
Subuh itu mengajarkan satu hal:
bahwa syukur sejati bukan sekadar ucapan,
tetapi kesediaan untuk terus datang, bersujud, dan mengingat-Nya —
setiap pagi, sebelum dunia benar-benar terjaga (sdn)
