SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ramadan: Di Antara Doa, Luka, dan Harap
Sabtu datang dengan langkah pelan, menyusup ke relung hati yang sedang belajar tenang. Ramadan hari ketiga menyapa dengan kesejukan yang berbeda. Ada rasa syukur yang tumbuh perlahan, ada rindu yang disulam doa, ada letih yang luruh dalam sujud panjang.
Di rumah-rumah, di masjid-masjid, di sudut-sudut kota, lantunan ayat suci mengalir bagai embun subuh, menyejukkan, memurnikan, dan menenteramkan.
Hari libur memberi jeda bagi banyak jiwa. Waktu pun terasa lebih ramah. Keluarga berkumpul, senyum mengembang, obrolan sederhana menjadi nikmat luar biasa. Tadarus berlangsung di banyak tempat, dari serambi masjid hingga ruang tamu yang diterangi lampu temaram.
Undangan berbuka berseliweran, kue-kue tradisional menghiasi meja, sementara azan magrib dinanti dengan dada lapang. Ramadan kembali mengajarkan: kebahagiaan sering kali hadir dalam hal-hal yang paling sederhana.
Namun, kehidupan tak pernah hanya memuat satu warna.
Di sebuah kantor kelurahan di Pabaeng-baeng, Makassar, ketegangan pecah. Sakir Dg Rappung (47), sosok yang dikenal sebagai Ketua Ormas KIWAL dan penanggung jawab lapak pedagang kaki lima di kawasan Jalan St. Alauddin Makassar.
Meluapkan protesnya dengan cara yang kelam. Amarah menjelma intimidasi. Badik terhunus. Pintu kantor lurah menjadi saksi kegaduhan yang tak seharusnya terjadi di bulan suci.
Lapak yang digusur, ruang usaha yang hilang, mungkin menorehkan luka di dada. Namun kekerasan bukanlah bahasa yang diajarkan Ramadan. Polisi bergerak cepat.
Sakir diamankan di kediamannya di Jalan Kumala II tanpa perlawanan. Sebuah pelajaran pahit: bahwa keadilan mesti dicari dengan kepala dingin, bukan dengan tangan yang mengancam.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, aparat penegak hukum membongkar praktik gelap yang lama tersembunyi. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menggeledah toko emas dan sejumlah lokasi lain, menelusuri jejak pencucian uang yang berakar pada tambang emas ilegal di Kalimantan Barat.
Bertahun-tahun bumi dikeruk tanpa izin, kekayaan alam dirampas, dan uang kotor mengalir senyap. Kini, satu per satu tabirnya tersingkap. Ramadan seakan mengingatkan: tak ada dosa yang benar-benar bisa disembunyikan selamanya.
Di tengah itu semua, ada kabar yang membawa harap. Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan Gedung Balai Sarkiah di Kabupaten Takalar, sebuah pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Bangunan itu berdiri sebagai simbol ikhtiar memuliakan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Di sanalah doa akan dipanjatkan, anak-anak mengaji, dan masyarakat belajar merawat harmoni.
Harap itu kian terasa saat 100 ton kurma dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mulai didistribusikan ke seluruh penjuru negeri.
Kurma-kurma manis itu akan singgah di pesantren, masjid, mushala, tangan para jurnalis, hingga rumah-rumah kaum dhuafa. Sebuah pesan lembut tentang berbagi, tentang ukhuwah lintas batas, tentang kasih sayang yang tak mengenal jarak.
Dari panggung global, terselip cerita ringan. Presiden Prabowo Subianto tersenyum menanggapi kelakar Presiden Donald Trump yang menyebutnya “pria tangguh” dalam rapat Board of Peace di Washington.
Di tengah isu berat Gaza Palestina, humor kecil itu menjadi jeda yang menyegarkan, mengingatkan bahwa diplomasi juga membutuhkan sentuhan kemanusiaan.
Namun, Sabtu ini tak hanya berisi senyum. Duka menyelimuti langit Krayan, Nunukan. Sebuah pesawat Air Tractor milik PT Pelita Air Service jatuh di perbukitan, merenggut nyawa sang pilot, Captain Hendrick Lodewyck Adam.
Ia pergi dalam tugas, meninggalkan keluarga, sahabat, dan harapan yang belum selesai. Di medan yang sulit dijangkau, tim SAR berjuang menembus jarak dan cuaca, membawa pulang jasad sang kapten dengan hormat. Ramadan kembali mengajarkan: hidup begitu rapuh, dan setiap tarikan napas adalah anugerah.
Ijazah dan Kejujuran Republik
Bayangkan sebuah republik yang fondasi legitimasinya bergantung pada selembar kertas bernama ijazah.
Bukan semata soal angka dan gelar, melainkan kejujuran di balik asal-usulnya.
Isu sensitif kembali mencuat: dugaan kejanggalan ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Pernyataan mantan Rektor UGM, Sofian Effendi, membuka kembali tabir pertanyaan lama, tentang IPK, status kelulusan, skripsi yang disebut tak pernah diuji, hingga kemungkinan tumpang tindih identitas akademik dengan almarhum iparnya, Hari Mulyono.
Di tengah kabut itu, suara Mahfud MD menjadi penanda batas: di pengadilan, tak ada istilah “mirip” atau “identik”.
Yang ada hanya dua: asli atau palsu.
Jika asli, buktikan.
Jika palsu, hadapi konsekuensinya.
Bahkan, bila kebenaran hendak benar-benar disingkap, anak-anak almarhum Hari Mulyono dapat dihadirkan sebagai saksi moral. Karena republik ini tak runtuh oleh tuduhan, melainkan oleh ketakutan untuk membuktikan diri.
Di negeri yang merdeka, kejujuran seharusnya menjadi kekuasaan tertinggi.
Dan dari selembar ijazah, martabat sebuah bangsa sedang diuji.
Demikianlah mozaik hari ini. Antara syukur dan duka, antara amarah dan harap, antara dunia dan langit. Ramadan merajut semuanya menjadi pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kemanusiaan.
Di penghujung Sabtu, saat senja merambat perlahan, kita kembali diingatkan: hidup bukan sekadar tentang apa yang kita kejar, melainkan tentang bagaimana kita menjalaninya. Dengan hati yang lapang. Dengan doa yang panjang. Dengan cinta yang tulus.
Selamat menapaki hari, pembaca setia. Semoga Ramadan menuntun kita pulang, ke dalam diri yang lebih bening.
Salam Santun : Syakhruddin Tagana


Pemenang tidak terlihat diawal Ramadhan, tapi Kita Lht siapa saja Sampai Finish