SYAKHRUDDINNEWS.COM – Fajar kedua Ramadan 1447 Hijriah menyapa dengan cahaya lembut. Di Masjid Besar Al-Abrar Makassar, udara subuh terasa lebih hangat oleh lantunan zikir dan harap.
Jamaah berdatangan perlahan, mengisi saf-saf shalat dengan wajah teduh dan hati yang terbuka. Ceramah agama subuh kali ini menghadirkan Ustaz Prof. Dr. Hasaruddin, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Negeri Alauddin Makassar.
Acara dipandu dengan penuh kesantunan oleh protokol muda masjid, Mirsalam, seorang remaja masjid yang dengan percaya diri mengalirkan setiap rangkaian kegiatan.
Dalam tausiyahnya, Prof. Hasaruddi mengangkat tema “Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Suci Ramadan.” Sebuah tema sederhana, namun menghunjam tepat ke jantung kegelisahan zaman.
“Dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya lembut, “kita mampu menghabiskan hingga dua belas jam untuk menggulir layar gawai. Namun, untuk membaca Al-Qur’an, lima menit saja sering sudah mengantuk.”
Kalimat itu seolah menjadi cermin. Jamaah terdiam. Masing-masing larut dalam perenungan, menimbang kembali waktu-waktu yang telah terlewat begitu saja.
Ramadan, lanjut beliau, adalah momentum emas untuk mengembalikan prioritas hidup. Saatnya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, bukan sekadar menjadikannya bacaan ritual, melainkan sahabat setia yang membimbing langkah.
“Mari kita maksimalkan Ramadan ini. Minimal dua lembar setiap selesai shalat, dilakukan secara konsisten. Sedikit, tapi berkesinambungan.
Karena Al-Qur’an itulah yang kelak menjadi syafaat kita di akhirat,” ujarnya penuh keteguhan.
Beliau pun mengisahkan Umar bin Khattab, sosok besar yang hatinya luluh bukan oleh pedang, melainkan oleh keindahan ayat-ayat suci.
Bahkan, ada pula orang yang saat membaca Al-Qur’an justru melepas kacamatanya, sebab ayat-ayat itu, dengan izin Allah, mampu menjadi penawar.
Subuh itu bukan sekadar ceramah. Ia menjelma menjadi percakapan batin, mengetuk kesadaran yang mungkin selama ini terlelap.
Acara berlangsung khidmat dan lancar, turut dihadiri Prof. Dr. Syamsuddin AB, M.Pd, serta ditutup dengan dialog interaktif yang memperkaya makna.
Ketika matahari mulai merangkak naik, jamaah pun melangkah pulang dengan hati yang terasa lebih ringan. Di balik kesibukan dunia yang tak pernah berhenti, subuh ini mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam:
bahwa keselamatan dunia dan akhirat bermula dari selembar demi selembar ayat yang dibaca dengan cinta.
Pantun:
Ke taman hati memetik cahaya, Subuh bersih menghapus gulita. Al-Qur’an dibaca penuh setia, Menjadi lentera sepanjang masa.