SYAKHRUDDINNEWS.COM – “Jumat: hari yang mengajak kita pulang” ; Ada hari-hari yang datang seperti biasa. Namun Jumat, ia datang seperti panggilan. Bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan titik balik bagi jiwa yang lelah oleh urusan dunia.
Setiap kali Jumat menyapa, kita seperti diingatkan: hidup bukan hanya soal mengejar, tapi juga soal berhenti sejenak untuk kembali.
Pagi Jumat selalu punya wajah yang khas. Ada yang memilih berolah raga—menyapa tubuh yang lama ditinggalkan. Ada yang menyiapkan “Jumat Berkah” membagi rezeki dengan diam-diam, tanpa ingin dikenal.
Ada pula yang menata diri: memotong kuku, merapikan rambut, mandi lebih bersih, memakai pakaian terbaik.
Seolah-olah Jumat berkata pelan: “Datanglah ke rumah Allah dalam keadaan paling pantas.”
Dan ketika azan berkumandang, dunia mendadak diperingatkan: tinggalkan jual beli, tinggalkan transaksi, tinggalkan keributan yang tak ada habisnya. Sebab Jumat adalah hari akbar, hari ketika manusia diajak merendahkan diri, agar tak merasa paling tinggi.
Di masjid, kita berdiri rapat, bahu bertemu bahu, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa status sosial. Yang tersisa hanya satu identitas: hamba. Sungguh, Jumat bukan sekadar kewajiban. Ia adalah kesempatan emas mengejar pahala yang tak terhitung. Dan di antara langkah menuju masjid, semoga kita sadar: yang kita kejar bukan hanya rezeki, tapi juga rahmat yang tinggi.
Ketika Kekuasaan Bertepuk Tangan; Di ruang rapat yang penuh kursi dan sorot kamera,terdengar tepuk tangan untuk sebuah pernyataan yang disebut “heroik”.
Namun benarkah itu heroik? Ataukah hanya gema yang lahir dari ketakutan yang disamarkan?
Dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama jajaran Kepolisian, tepuk tangan itu seolah menutup mata pada satu hal: bahwa negara berdiri bukan karena keberanian kata-kata, melainkan karena ketertiban hukum.
Polri ada karena undang-undang ;Dan undang-undang lahir dari DPR bersama pemerintah. Maka ketika ada perintah yang terdengar seperti “siap berjuang sampai titik darah penghabisan”,seharusnya bukan disambut riuh, tetapi diuji dengan kewarasan bernegara.
Sebab negara yang sehat bukan negara yang keras suaranya, melainkan negara yang tahu batas.
NU Menata Barisan, Gus Yahya Kembali Memimpin ;Di tempat lain, roda organisasi besar kembali menemukan porosnya. PBNU menggelar rapat pleno yang dipimpin Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Forum itu berlangsung hybrid, diikuti jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, Mustasyar, A’wan, serta badan otonom dan lembaga-lembaga NU.
Hasilnya:posisi KH Yahya Cholil Staquf—Gus Yahya—dikembalikan sebagai Ketua Umum. Keputusan ini bukan sekadar soal jabatan, tetapi juga tentang menjaga ritme organisasi, menata kepemimpinan, dan mempersiapkan agenda besar NU ke depan.
Karena organisasi sebesar NU bukan hanya milik pengurus, melainkan milik umat dan umat selalu berharap pada arah yang meneduhkan.
Rp 934 Triliun Dianalisis, Rp 12,49 Triliun Diduga Disembunyikan ; Ada angka-angka yang tampak seperti statistik, namun sebenarnya adalah jejak kehidupan yang sedang diawasi negara.
PPATK mencatat sepanjang 2025 telah menghasilkan: 173 hasil analisis, 4 hasil pemeriksaan, 1 informasi terkait sektor fiskal, Nilai transaksi yang dianalisis mencapai Rp 934 triliun.
Namun yang mencengangkan, muncul temuan signifikan di sektor perdagangan tekstil: diduga ada pihak tertentu menyembunyikan omzet hingga Rp 12,49 triliun dengan menggunakan rekening karyawan atau rekening pribadi untuk menampung transaksi hasil penjualan ilegal.
Di sinilah kita belajar:korupsi dan manipulasi bukan selalu memakai wajah seram,kadang ia hadir dalam bentuk angka yang disamarkan, dan rekening yang dipinjam atas nama “orang biasa”.
Diklat Petugas Haji: Tak Semua Lulus Menjadi Pelayan Tamu Allah ;Menjadi petugas haji bukan hanya soal seragam dan keberangkatan. Ia adalah amanah besar,karena yang dilayani bukan wisatawan tetapi tamu Allah.
Dalam Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 2026,Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan: ada sekitar enam peserta yang harus dicopot dan tidak diberangkatkan.
Alasannya bukan main-main:hasil medical check up dan rekomendasi dokter, bahkan ada yang mengalami sakit jantung. Selain kesehatan, kedisiplinan pun menjadi syarat yang tak bisa ditawar.Karena di Tanah Suci, petugas bukan sekadar bekerja, ia menjadi penjaga kenyamanan ibadah jutaan orang.
Kaesang: Tokoh Nasional Akan Terus Berdatangan ke PSI ;Dari Makassar, kabar politik bergerak seperti ombak yang tak pernah diam.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep meyakini arus masuk tokoh nasional ke partainya akan terus berlanjut.Pernyataan itu disampaikan usai bergabungnya Rusdi Masse Mappasessu (RMS) pada Rakernas PSI 2026 di Kota Makassar.
Kaesang menegaskan: kedatangan tokoh-tokoh besar tidak akan berhenti pada satu nama.
Namun ia juga mengingatkan: tokoh saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah konsolidasi internal, penuntasan struktur kepengurusan hingga ke daerah.Karena partai yang kuat bukan hanya yang ramai di panggung,tetapi yang rapi di akar rumput.
Retret PWI 2026: Menjaga Ketahanan Informasi;Di tengah banjir informasi, di tengah berita yang kadang berlari lebih cepat daripada fakta, pers membutuhkan ruang untuk kembali meneguhkan diri.
PWI Pusat menggelar Retret PWI 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Kegiatan dibuka melalui upacara resmi yang dipimpin Kepala BPSDM Pertahanan Kemhan RI, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, didampingi Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dan Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang.
Tema yang diusung: “Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas, dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional. Karena pers bukan sekadar pembawa kabar, ia adalah penjaga akal sehat publik.
Morowali: Tanah Bergerak, 288 Warga Mengungsi ;Di Sulawesi Tengah, alam kembali memberi tanda: bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya menguasai bumi.
Bencana pergerakan tanah terjadi di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Kamis (29/1/2026) dini hari. Akibatnya: 288 warga mengungsi, 94 kamar indekos terdampak,tidak ada korban jiwa
Laporan BPBD menyebutkan, sebelum peristiwa terjadi, ada aktivitas lima unit excavator yang memuat material di sekitar lokasi. Getaran kuat memicu kepanikan warga.
Di sini kita kembali belajar: pembangunan tanpa kehati-hatian bisa menjadi ancaman, dan alam selalu punya cara untuk “menegur” manusia dengan bahasa yang keras. Semoga para warga diberi kekuatan, keselamatan, dan segera mendapatkan pemulihan yang layak.
Demikian rangkaian Mozaik Kehidupan hari ini, seperti serpihan-serpihan peristiwa yang membentuk satu pesan besar: hidup adalah perjalanan antara ibadah, kewaspadaan, dan kemanusiaan.
Selamat menunaikan shalat Jumat berjamaah,semoga langkah kita menuju masjid menjadi langkah menuju rahmat,dan semoga hari ini menjadi lebih baik dari kemarin.
Sukses selalu dalam menjalani kehidupan, Wassalam : Syakhruddin Tagana
Jum’at adalah penghulu segala hari
Jum’at adalah penghulu segala hari. So, lebih baik menikah pada hari Jum’at.