SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini kita kembali bertemu, masih diberi napas, masih diberi denyut, masih diberi kesempatan untuk membuka mata dan menyapa dunia.
Sebuah kemewahan yang sering kita anggap biasa, padahal tak semua orang sempat sampai di titik ini. Maka, sebelum melangkah lebih jauh, izinkan kita berhenti sejenak… dan bersyukur.
Mozaik Kehidupan hadir bukan untuk menggurui, apalagi menghakimi. Ia hanya ingin duduk sebentar di sudut ruang Anda, menemani hari yang mungkin sedang riuh, mungkin juga sunyi. Ia datang tanpa mengetuk pintu, tanpa menuntut jawaban. Cukup dibaca, dipindai, atau sekadar dirasakan.
Kabar beredar tentang janji pembayaran gaji pensiunan. Entah benar, entah masih sebatas bisik angin. Namun bagi para purnabakti, kabar sekecil apa pun sudah cukup membuat hati berbunga. Harapan, betapapun rapuhnya, selalu menemukan jalan untuk hidup.
Terlepas dari janji yang kelak ditepati atau sekadar menjadi cerita, hidup tetap menuntut kebijaksanaan. Saat penghasilan tak lagi sama seperti masa aktif dahulu, maka belanja pun harus belajar menyesuaikan.
Jangan sampai besar pasak daripada tiang, sebab ketenangan bukan lahir dari banyaknya angka, melainkan dari cukupnya rasa.
Syukur adalah bahasa kebahagiaan ; Anak-anak yang tumbuh dewasa. Cucu-cucu yang berlarian memenuhi rumah. Tawa yang pecah di meja makan. Semua itu adalah nikmat yang tak bisa ditukar dengan apa pun.
Di sanalah Mozaik Kehidupan menemukan maknanya: hadir sebagai mata air kecil di tengah rutinitas, memberi kabar, memberi jeda, memberi rasa, Salamaki.
Namun hidup tak selalu menyuguhkan kabar yang menenangkan.
Di belahan dunia lain, dentum kemungkinan perang kembali menggetarkan nurani. Kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln bergerak ke Timur Tengah.
Armada tempur disiagakan. Jet-jet perang dikerahkan. Dunia menahan napas, bertanya-tanya: apakah sejarah akan kembali mengulang luka?
Para pemimpin menyebutnya langkah berjaga-jaga. Tapi bagi manusia biasa, kata “berjaga-jaga” sering kali terdengar seperti bayang-bayang ancaman, sebab perang, betapapun dibungkus istilah strategis, selalu menyisakan duka.
Sementara itu, di tanah air sendiri, duka datang tanpa permisi.
Di Cisarua, Bandung Barat, longsor menimbun latihan dan harapan. Dua puluh tiga prajurit TNI Marinir tertelan bumi yang runtuh oleh hujan berkepanjangan. Empat telah ditemukan, pulang dalam keheningan. Sisanya masih dicari, disapa dengan doa, dipanggil dengan harap.
Alat berat belum mampu menjangkau medan. Drone, pemindai termal, dan anjing pelacak menjadi perpanjangan tangan kemanusiaan. Di balik seragam loreng, mereka adalah anak, suami, ayah yang berangkat dengan tugas, dan mungkin pulang hanya dengan nama yang diabadikan doa.
Di Senayan, kehidupan bergerak dengan wajah berbeda.
Estafet kepemimpinan berjalan. Sari Yuliati resmi dilantik sebagai Wakil Ketua DPR RI, menggantikan Adies Kadir yang kini mengemban amanah sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi.
Politik, seperti kehidupan, tak pernah benar-benar berhenti, ia hanya berganti peran dan tanggung jawab.
DPR dalam rapat paripurna menyepakati kedudukan Polri tetap berada langsung di bawah Presiden, bukan sebagai lembaga kementerian. Delapan poin percepatan reformasi direkomendasikan tentang penguatan pengawasan, peran Kompolnas, hingga penataan penugasan anggota Polri. Sebuah ikhtiar panjang agar kekuasaan selalu berjalan beriringan dengan akuntabilitas.
Dari ruang kebijakan, perhatian juga diarahkan pada mereka yang menua dan yang rentan. Kementerian Sosial menyiapkan skema baru penanganan bantuan sosial bagi lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Program ini dipisahkan dari PKH dan ditingkatkan kualitasnya, menjadi penyediaan makanan bergizi serta pendampingan sosial oleh tenaga terlatih.
Mensos Saifullah Yusuf menegaskan, fokusnya adalah mengembalikan program ke tujuan hakiki: meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Lansia dan penyandang disabilitas tetap akan dibantu dengan cara yang lebih manusiawi, lebih bermartabat.
Di Jepang, ada cara pandang yang menghangatkan hati.
Mereka yang berusia di atas 70 tahun tak lagi disebut orang lanjut usia, melainkan “orang yang beruntung.”
Sebuah istilah sederhana, namun sarat makna. Dr. Wada mengingatkan: usia panjang adalah bukti seseorang lolos dari seleksi alam kehidupan. Tidur tak perlu dipaksakan. Obat tak harus diminum berlebihan. Hidup tak perlu dipenuhi kecemasan.
Di Makassar, semangat itu menemukan rumahnya; Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan dalam pertemuan di Sekretariat LLI Jalan Hertasning Baru memutuskan menggelar arisan anggota yang dirangkai dengan peringatan ulang tahun bagi mereka yang lahir di bulan Februari.
Kegiatan akan dipusatkan di kawasan wisata Pantai Tanjung Bayang, Selasa, 10 Februari 2026. Dirangkai dengan pengenalan Lansigana (Lanjut Usia Siaga Bencana) sebuah ikhtiar membekali lansia agar tangguh dan siap menyelamatkan diri dalam kondisi darurat.
Ketua I LLI Sulsel, Hj. Nirmawaty Gani, didampingi Bendahara Hj. Amirah Sambe, membenarkan agenda tersebut. Kegiatan dipusatkan di kediaman Hj. Andi Yunita Dirham, sekaligus mandi-mandi menyongsong bulan suci Ramadan.
Sebelum peserta bubar, mereka mengunjungi rumah kediaman Hj. Andi Farida Muhdin, mantan pejabat Kabag Humas Pemkab Bulukumba yang kini dalam kondisi perawatan kesehatan, kehadiran kerabat LLI Sulsel ke rumah pribadinya memberikan spirit dan semangat hidup dan nuansa silaturahmi yang indah.
Maka berjalanlah dengan ringan.
Tersenyumlah. Minumlah air. Kunyahlah makanan dengan syukur. Lakukan yang disukai. Hindari yang menyakiti. Terus belajar, terus membaca, terus berpikir. Jadilah teladan kesabaran bagi anak dan cucu.
Kepolosan, ternyata, adalah hak istimewa di usia senja.
Hiduplah santai hari ini.
Optimislah esok hari.
Terimalah segalanya dengan tenang, ikhlas, dan penuh rasa syukur. Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa lama kita berjalan, melainkan seberapa dalam kita memahami maknanya.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana




sehat selalau komandan
Di Jepang, mereka yang berusia di atas 70 tahun tak lagi disebut orang lanjut usia, melainkan “orang yang beruntung.”
Di Indonesia … ?