SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi selalu punya cara sendiri untuk menyapa.
Ia datang lewat aroma kopi yang mengepul perlahan, lewat koran yang dibuka sambil setengah terkantuk, dan lewat kolom kecil bernama Mozaik Kehidupan—yang setia menemani sebelum hari benar-benar dimulai.
Kolom ini lahir dari kebiasaan sederhana: merangkai serpih-serpih peristiwa agar tak sekadar berlalu. Ada yang menilai terlalu panjang, ada pula yang berujar, “Terima kasih, tulisannya menguatkan.” Ada juga yang menyarankan: carilah kisah nyata, bungkuslah dalam cerita pendek agar sekali baca, maknanya menetap.
Maka pagi ini, kita coba jalan tengah. Singkat, padat, tuntas. Sekali baca, kopi pun habis. Salam pagi
Dari Karawang, Jawa Barat, kabar besar datang bersama hamparan sawah yang menguning. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengumumkan capaian yang lama diimpikan: Indonesia swasembada pangan. Tahun 2025 dicatat sebagai titik balik tanpa impor beras, panen raya menjadi penanda kemandirian.
Di tengah dunia yang diguncang krisis pangan dan perubahan iklim, kabar ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerita tentang petani yang tetap turun ke sawah saat pupuk mahal, tentang tanah yang setia digarap meski cuaca tak lagi ramah, dan tentang harapan agar perut rakyat tak bergantung pada kapal-kapal impor. Dari lumpur sawah, lahirlah kedaulatatan
Namun pagi tak selalu membawa kabar terang. Di sudut lain ibu kota, aparat BNN membongkar sisi gelap kota modern. Sebuah apartemen di kawasan Ancol ternyata menjadi laboratorium narkoba, tempat cairan mematikan diracik, lalu disamarkan dalam liquid vape dan happy water.
Empat orang diamankan. Seorang aktor utama, warga negara asing, masih diburu. Angka keuntungan disebut: jutaan rupiah per saset. Namun di balik laba itu, tersembunyi harga yang jauh lebih mahal, masa depan generasi yang dipertaruhkan, kesehatan yang direnggut perlahan, dan keluarga yang bisa runtuh tanpa suara. Kemajuan teknologi, sekali lagi, menuntut kewaspadaan nurani.
Dari utara Sulawesi, kabar duka menyelinap pelan. Banjir bandang menerjang Kabupaten Siau Tagulandang Biaro. Empat kecamatan terdampak. Delapan nyawa tak sempat diselamatkan. Negara hadir lewat tangan-tangan kemanusiaan.
Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah mengirimkan kasur, selimut, makanan anak, tenda, hingga beras—menyusuri laut malam pada 5 Januari lalu. Bantuan mungkin tak mampu menghapus kehilangan, tetapi ia adalah tanda bahwa mereka yang tertimpa musibah tidak sendiri. Di pulau-pulau kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota, solidaritas menjadi jangkar harapan. Ruang publik pun riuh oleh kata-kata.
Mantan Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan siap pasang badan membela Komika Pandji Pragiwaksono, yang menuai sorotan usai me-roasting Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka lewat candaan fisik “Gibran ngantuk”.
Candaan itu disampaikan dalam special show bertajuk Mens Rea, sebuah panggung komedi yang mengangkat hukum, keadilan, dan kesadaran publik. Mens rea dalam hukum pidana berarti niat atau kesadaran batin. Pandji memilih istilah itu untuk mengajak publik menertawakan diri sendiri, sambil bercermin. Di batas antara kritik dan etika, masyarakat kembali diingatkan: kebebasan berekspresi selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Dan dari sebuah desa terpencil di China Utara, datang kisah yang menggetarkan sunyi. Ma Sanxiao, 70 tahun, seorang veteran tentara, hidup tanpa kedua kaki. Diamputasi bertahap kaki kanan pada 1985, kaki kiri pada 2005, akibat keracunan darah yang dideritanya sejak masa dinas. Subsidi veteran tak cukup, pekerjaan sulit didapat, hidup nyaris menyerah.
Hingga suatu hari, ia melihat tayangan penanaman pohon di televisi. Sejak tahun 2000, Ma mulai menanam pohon parasol di perbukitan tandus sekitar desanya di Jingxing, Provinsi Hebei. Awalnya untuk bertahan hidup. Untuk dijual. Untuk berdiri sendiri. Namun seiring waktu, bukit-bukit itu berubah hijau. Tanah menjadi kokoh. Udara menjadi teduh.
Ia pun ragu menjualnya,
“Aku tak akan pernah menjual pohon-pohon ini,” katanya.
“Aku akan terus menanam, dan meninggalkan kekayaan hijau ini bagi negara dan generasi mendatang.”
Seorang pria tanpa kaki, justru meninggalkan jejak yang paling dalam bagi bumi.Begitulah pagi bekerja. Ia menyodorkan harapan, peringatan, duka, perdebatan, dan keteladanandalam satu helaan napas.
Dan kita, para pembacanya, belajar bahwa hidup memang tak selalu utuh.
Namun selalu bisa dirangkai menjadi mozaik yang bermakna.
Selamat pagi, Kopi pun habis (by.syakhruddin tagana)

Mens Rea Special Show