SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sabtu, 20 Desember 2025, menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia. Hari ini diperingati sebagai Puncak Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) ke-75.
Sebuah peringatan yang sarat makna sejarah dan nilai kemanusiaan. HKSN ditetapkan pada 20 Desember 1957 untuk mengenang semangat kebersamaan rakyat Indonesia dalam pertempuran lima hari di Semarang (15–20 Oktober 1945) serta perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Di Kota Makassar, semangat HKSN disemarakkan melalui berbagai rangkaian kegiatan dengan tagline “Tidak Ada yang Tertinggal”, sebuah pesan kuat bahwa solidaritas sosial harus dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tanpa kecuali.
Di kalangan umat Islam, Sabtu malam ini memiliki makna spiritual yang mendalam. Sejak mentari tenggelam di ufuk barat dan usai menunaikan sholat Magrib berjamaah, kita akan memasuki malam 1 Rajab 1447 Hijriah. Malam yang istimewa, yang diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa, ketika pintu-pintu langit dibuka atas izin Allah SWT.
Momentum ini mengingatkan kita untuk memperbanyak doa di bulan Rajab dan Sya’ban, menyiapkan hati dan jiwa hingga kelak menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, yang diperkirakan akan tiba pada 18 Februari 2026.
Sementara itu, suasana akhir tahun mulai terasa. Jadwal libur panjang telah digaungkan, dimulai Selasa, 23 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Waktu luang ini menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk pulang ke kampung halaman, mempererat silaturahmi keluarga.
Bagi umat Kristiani, persiapan menyambut Natal yang Agung pada Kamis, 25 Desember 2025, pun kian terasa.
Di lingkungan Masjid Besar Al-Abrar Makassar, malam pertama bulan Rajab diisi dengan kegiatan organisasi, yakni pemilihan Ketua dan Sekretaris Panitia Amaliyah Ramadan 1447 H/2026 M, sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan penuh berkah dengan tertib dan khidmat.
Di sisi lain, denyut ekonomi akhir tahun juga semakin terasa. Kalangan pengusaha berlomba menghadirkan diskon besar-besaran dan program cuci gudang. Namun, Pemerintah Kota Makassar mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan petasan dan konvoi saat pergantian tahun.
Demi mencegah kecelakaan serta kerusakan lingkungan. Sebagai gantinya, masyarakat diimbau merayakan tahun baru dengan doa dan empati sosial, sebagaimana teladan yang ditunjukkan oleh pengurus masjid yang akan menggelar dzikir bersama di Masjid Al-Markaz Al-Islami pada 31 Desember 2025.
Musibah bencana alam di Sumatera Utara masih menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Bantuan terus disalurkan dengan memobilisasi berbagai sumber daya. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tengah memesan 50 unit helikopter guna mempercepat distribusi bantuan ke wilayah terpencil yang sulit dijangkau jalur darat.
“Dilaporkan, Jumlah korban meninggal secara total di tiga provinsi, ini bertambah tiga, dari posisi kemarin, Kamis 18 Desember berjumlah total 1068 jiwa, sore hari ini 19 Desember menjadi 1071 jiwa,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari dalam jumpa pers yang disiarkan YouTube BNPB, Jumat.
Penambahan penemuan korban meninggal dunia bertambah menjadi tiga jiwa. Dengan rincian korban meninggal bertambah masing-masing ditemukan satu jasad di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Langkat. Di Sumatra Barat ditemukan satu jasad namun masih dalam tahap identifikasi.
Di panggung dunia internasional, akhir tahun 2025 juga ditandai dengan kabar kemajuan ilmu pengetahuan. Sebuah perusahaan antariksa swasta mengumumkan pembangunan model hunian manusia di planet Mars, membuka peluang pemukiman permanen di Planet Merah.
Di saat yang sama, dunia medis mencatat terobosan dengan diumumkannya obat baru untuk penyakit genetik langka. Namun sebagai warga Kota Makassar, kita tak perlu merasa kecil hati. Jauh sebelum manusia berbicara tentang kehidupan di Mars, leluhur kita telah lebih dahulu mengungkapkan imajinasi kosmiknya melalui sastra lisan dalam sebuah kelong Bugis-Makassar:
“Battu rate ma ri bulang,
Makkuta’nang ri bintoeng,
Apa kananna,
Bunting lompo jako sallang.,
Punna jai doe-nu”
Yang secara bebas dimaknai:
“Kami telah bertanya dari bulan kepada bintang, apa kabarnya? Kelak engkau akan berpesta besar, bila bekalmu mencukupi.”
Sebuah pesan jenaka namun sarat makna: bahwa mimpi besar, perjalanan jauh, dan masa depan gemilang selalu membutuhkan kesiapan, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Selamat pagi, selamat menjemput hari dengan syukur, doa, dan kepedulian sosial, salam !!! (sdn)
