Puisi Pilu Dari Pulau Sumatera
Di tanah Sumatera,
Rintih langit menumpahkan derainya,
Banjir dan longsor memecah sunyi,
Lalu membawa pergi tawa—
meninggalkan hanya pilu yang tak bertepi.
Lahat, Pesisir Selatan, Agam, Tanah Datar, Solok, Padang Pariaman,
Aceh Singkil, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah,
Dan puluhan daerah lainnya…
Kini bukan lagi sekadar nama tempat,
Tapi menjadi buku luka yang sulit ditutup.
Tercatat 631 jiwa meninggal,
472 jiwa masih hilang entah di mana,
2.600 jiwa terluka,
Tak terhitung air mata yang jatuh—
mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.
3,3 juta jiwa terdampak,
1 juta saudara kita mengungsi,
Dan 50 kabupaten menangis bersama bumi,
Menatap puing-puing rumah,
seakan bertanya pada takdir,
“Masih kah kami punya hari esok?”
Anak-anak yang dulu bermain di halaman,
kini hanya memeluk dingin malam pengungsian.
Seorang ibu meratap di antara reruntuhan,
memanggil nama yang tak lagi menjawab.
Seorang ayah terpaku pada lumpur,
mencari serpihan harapan yang tertimbun.
Ya Rabb,
sudah habis air mata yang terkuras,
sudah patah suara yang memohon,
Kini hanya tinggal baju di badan,
Harta, rumah, kenangan —
semuanya hilang ditelan alam yang murka.
Wahai kawan,
jika hati kita masih mampu bergetar,
mari ulurkan tangan,
ringankan derita saudara kita di sana,
karena duka ini bukan milik mereka saja—
tapi milik kita, sebangsa dan sepenanggungan.
Semoga beban itu berkurang,
semoga malam yang kelam berganti fajar,
semoga tangis berubah menjadi senyum,
dan Sumatera bangkit kembali,
lebih kuat dari luka,
lebih tegar dari bencana.
Makassar, 2 Desember 2025
by.syakhruddin tagana
