SYAKHRUDDINNEWS.COM – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Kamis 28 Agustus 2025 pukul 13.00 Wita, kembali akan menggelar rapat koordinasi bersama para ketua shelter warga se-Kota Makassar melalui fasilitas Zoom Meeting. Pertemuan ini dilaksanakan dalam wadah grup “Sapa Mulia” yang kini menjadi jalur resmi komunikasi antara DP3A dan para pengurus shelter.
Langkah ini ditempuh karena masih banyak pengurus shelter yang merasa membutuhkan kejelasan mengenai konsultasi penanganan kasus, pembuatan laporan, serta pola integrasi dan kolaborasi pendampingan.
Dalam rapat tersebut, Kadis DP3A bersama Ketua TRC, Makmur, akan kembali mengurai alur penanganan kasus di shelter, mekanisme kerja shelter, serta ciri shelter yang ideal dengan empat unit layanan: PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat), Forum Anak Kelurahan, Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, serta Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) dan unit pemberdayaan.
Materi-materi ini sejatinya bukanlah hal baru. Sudah berkali-kali disosialisasikan oleh para Kabid bahkan jauh sebelum Kadis yang sekarang menjabat.
Namun, jika dirasa masih perlu diulang, ya biarlah, kita ikuti aturan main. Lagi pula, mengulang-ulang pelajaran lama terkadang memang dianggap cara paling efektif untuk memastikan semua orang paham, walau yang mendengar mungkin sudah hapal di luar kepala, terlebih sekarang sudah terdaftar 103 shelter warga, baik sudah lama maupun yang baru tumbuh.
Yang cukup disayangkan, perubahan kebijakan dalam pengelolaan grup komunikasi justru meninggalkan jejak yang terasa. Grup-grup lama yang pernah mewadahi diskusi terbuka, mulai dari grup DPPPA yang diisi para senior peletak dasar DP3A, hingga grup Shelter Warga yang aktif berbagi dinamika lapangan, kini “disapu bersih” bak dilanda gelombang besar.
Ironisnya, yang tersisa hanyalah grup “Sapa Mulia” dengan fungsi yang dipersempit hanya untuk urusan kasus, walaupun ada pengurus shelter ingin berakselerasi, paling banter mengucapkan “Assalamu alaikum war wab”
Kondisi ini membuat banyak pengurus shelter merasa kehilangan ruang berekspresi. Kegiatan yang biasanya bisa dipublikasikan secara bebas, kini harus dipendam dalam diam.
Bahkan, ketika pengurus shelter berinisiatif menggelar acara besar Tudang Sipulung (30–31 Agustus 2025 di Pantai Tanjung Bayang) dan ingin sekadar menyampaikan melalui “Sapa Mulia”, jawabannya adalah: harus melalui grup tersendiri.
Akhirnya, demi ketertiban informasi, kita pun bergeser, membuat grup tambahan— berharap satu pintu komunikasi sebenarnya lebih dari cukup.
Pada akhirnya, semua ini memang demi “kedisiplinan informasi”. Shelter-shelter pun sudah diarahkan: jika menyangkut kasus, gunakan “Sapa Mulia”; jika kegiatan, gunakan grup Tudang Sipulung atau grup di level kecamatan.
Aturan main jelas, hanya saja butuh sedikit kelapangan hati agar semangat kolaborasi tidak berubah menjadi sekadar rutinitas administratif, terlebih lagi pengurus shelter warga dengan aneka latar belakang pendidikan, ada dari LSM, NGO, Tomas, pers dan Toga. dibutuhkan kearifan untuk memahami.
Mungkin memang masih butuh waktu untuk menjadikan pola baru ini sebagai tradisi. Yang terpenting, jangan sampai publikasi kegiatan atau koordinasi yang seharusnya menyatukan, justru melahirkan ketegangan.
Semoga dengan bimbingan Kadis DP3A, kita semua bisa saling menahan diri, menjaga harmoni, dan perlahan mencari format terbaik yang bukan hanya disiplin di atas kertas, mengaku hebat sendiri dan melupakan peran orang lain, akan tetapi juga ramah bagi semua pelaku di lapangan, terutama menjaga suasana hati dalam proses layanan dan pendampingan di tengah masyarakat (sdn)
