SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di negeri yang katanya telah 80 tahun merdeka, ternyata kemerdekaan bisa saja sekadar jargon di baliho. Di ruang kerja Kadis DP3A Kota Makassar, lahirlah sebuah keputusan “emas” Tiga grup besar Shelter Warga, kini dilebur menjadi satu, di bawah satu komando. Alasannya sederhana: demi efisiensi, demi ketertiban, dan tentu saja demi ketenangan hati para pemangku kepentingan.
Kini, para pengurus shelter yang biasanya lantang bersuara di berbagai platform dunia maya, mulai belajar seni berdiam diri. Semua percakapan, dari keluhan hingga candaan, melintasi jalur yang rapi: Kadis, Ketua TRC, dan Kabid Perlindungan Perempuan.
Tiga sosok ini, seperti “Triumvirat Digital”, memegang mandat penuh sebagai admin, sekaligus hakim, jaksa, dan notaris kebenaran.
Pengurus shelter pun dipersilakan mengurus masalah di wilayahnya masing-masing. Jika tak sanggup, ada Tim Reaksi Cepat, lengkap dengan nomor telepon yang kini bersatu padu seperti pasukan elit. Satu panggilan, satu respon, satu komando. Dan tentu, satu pintu narasi.
Berkat kebijakan ini, ruang diskusi liar mulai merapuh. “Era kebebasan berkomentar” perlahan berubah menjadi “era kebebasan berpikir sebelum berbicara” yang sebenarnya berarti “berpikir baik-baik sebelum tersandung kata-kata sendiri”. Tidak ada lagi pahlawan kesiangan yang mengobrak-abrik wilayah orang lain.
Mungkin inilah makna kemerdekaan versi terkini: merdeka untuk patuh, merdeka untuk diam, merdeka dalam pagar yang tinggi dan rapi. Kadis pun seakan mengingatkan kita lewat tagline tak tertulis: One Command, One Rule, One Corps.
Satu komando, satu aturan, satu suara — sisanya, simpan saja di kepala, salam jabat hati.
Makassar, 14 Agustus 2025
by. syakhruddin sw. pa ‘baeng-baeng
