SYAKHRUDDINNEWS.COM – Dalam dinamika perlindungan sosial berbasis komunitas, Shelter Warga (SW) telah memainkan peran penting di Kota Makassar. Hingga pertengahan Agustus 2025, tercatat 103 dari 153 kelurahan telah membentuk Shelter Warga, menunjukkan perkembangan yang signifikan namun menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar: masih ada 50 kelurahan yang belum memiliki shelter.
Untuk memastikan koordinasi, sinergi, dan pengambilan keputusan yang lebih efektif antarshelter, maka pembentukan Forum Komunikasi (FORKOM) Shelter Warga di tingkat kecamatan menjadi sebuah kebutuhan mendesak.
Forum ini bukan hanya sarana berkumpul, tapi ruang kolektif untuk memperkuat jejaring, menyalurkan aspirasi, serta membangun kesepahaman dalam menyikapi persoalan sosial yang kian kompleks di masyarakat urban.
Dari pantauan dan evaluasi di lapangan, terdapat dinamika yang beragam: ada kecamatan yang sudah memiliki FORKOM dan berjalan baik, ada pula yang masih terseok-seok, bahkan ada kecamatan yang belum membentuknya sama sekali. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan struktur organisasi secara menyeluruh dan terencana.
Salah satu contoh adalah Kecamatan Tamalate yang hingga kini belum membentuk FORKOM di level kecamatan. Menurut Nurhana dari DP3AKota Makassar, inisiatif pembentukan FORKOM Tamalate direncanakan berlangsung pada Agustus 2025, dengan masa bakti pengurus selama dua tahun., tugas kami menghimbau para pengurus untuk segera membentuknya.
Model ini—pergantian kepengurusan secara periodik—akan menciptakan dinamika organisasi yang sehat dan regeneratif.
Untuk menjaga konsistensi dan kesetaraan, pengurus FORKOM di tingkat kecamatan sebaiknya diberi masa bakti dua tahun dan dipilih secara bergilir, sementara untuk tingkat kota dapat diberlakukan masa bakti tiga tahun. Pola ini menciptakan keseimbangan antara kontinuitas program dan kesempatan regenerasi kader.
FORKOM bukan sekadar struktur formal. Ia adalah jantung komunikasi antar shelter. Dari sini, informasi strategis mengalir, kebijakan terdiseminasi, dan inovasi tumbuh.
Forum ini memfasilitasi dialog yang konstruktif dan kolaborasi yang produktif, bukan hanya antarshelter tetapi juga dengan pemerintah, mitra, dan berbagai stakeholder yang peduli pada isu-isu kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan kehadiran FORKOM di setiap kecamatan, suara shelter warga akan lebih terdengar. Aspirasi warga lebih cepat direspons, serta kebijakan bisa lebih tepat sasaran.
Pada akhirnya, kita bergerak bersama menuju pelayanan yang cepat, tepat, responsif, dan humanis—nilai-nilai yang menjadi roh utama dari keberadaan Shelter Warga itu sendiri (sdn)



