Di hari Jumat yang penuh berkah,
Langit Makassar tampak teduh dan pasrah,
Seorang dai, bekas luka masa silam di dadanya,
Naik ke mimbar dengan semangat membara.
Tanganmu menunjuk tauhid, suara menggema,
Kata-kata tajam, penuh makna dan asa,
Di depan jamaah yang terdiam khidmat,
Kau seru pada Tuhan dengan lisan yang kuat.
Namun takdir datang tanpa suara,
Saat khutbah kedua baru saja mengudara,
Langkah dakwahmu terhenti perlahan,
Kau terduduk lalu pergi, tanpa pesan.
Masjid Darul Falah jadi saksi bisu,
Mimbar itu kini sunyi, seolah pilu,
Tak lagi ada suara lantang menjulang,
Hanya gema kenangan dan doa yang mengambang.
Dari Manado ke mimbar-mimbar negeri,
Kau tinggalkan jejak hijrah yang abadi,
Dari salib ke sajadah, dari gelap ke cahaya,
Namamu tercatat dalam sejarah dakwah bangsa.
Wahai ustaz, engkau telah pulang,
Di hari terbaik, waktu yang terang,
Semoga khotbah terakhirmu jadi saksi,
Bahwa engkau wafat di jalan ilahi.
Hari ini jasadmu diterbangkan ke Jakarta Di iringi doa dan air mata pilu Selamat jalan Ustasz pejuang akidah Innalillahi wa inna ilahi rajiun