Dalam sunyi Garut yang luluh lantak,
Terdengar jerit luka dari bara yang meledak.,
Anak-anak kehilangan peluk,
Ibu menatap langit penuh kabut duka.
Amunisi tak memilih arah,
Namun luka tertinggal di dada rakyat kecil,
Tangis tak mampu menghapus jejak,
Hanya doa yang menggema di langit senyap.
Lalu datang Kang Dedi, pemimpin dengan mata hati,
Tak sekadar menatap, tapi merangkul, memeluk, dan mengangkat
Anak korban tak lagi sendiri,
Dipeluk menjadi darah dan dagingnya.
Janji membiayai hingga perguruan tinggi,
Bukan hanya kata—tapi bukti kasih sejati.
Rp50 juta bukan hanya angka, tapi wujud duka yang ikut dirasa
Untuk tiap keluarga yang menangis hampa.
Kang Dedi bukan sekadar gubernur,
Ia adalah nadi yang menyatu dalam derita rakyat,
Langkahnya menjadi kisah,
Diceritakan dari mulut ke mulut di seluruh tanah air.
Ya Allah, sehatkan Kang Dedi Mulyadi
Kuatkan pundaknya memikul harap,
Bentangkan jalannya seluas langit-Mu,
Agar tetap berjalan dalam cinta dan amanah.
Hidup Siliwangi! Hidup keadilan!
KDM adalah payung dalam hujan kepedihan.
Orang baik, harapan rakyat,
Pemimpin sejati yang tak berjarak.
Makassar, 13 Mei 2025
syakhruddin tagana
