Tanah Grogot, di mana dua jiwa kecil pernah menghirup napas pertama,
Di tanahmu, sungai dan bukit bersaksi akan masa silam.
Kini hanya rindu yang bisa melangkah ke sana,
Sementara kaki kami, telah renta dalam doa dan ingatan.
Idealnya, libur panjang ini kami berkemas,
Menumpang waktu kembali menyusuri jejak
Menuju Bundaran Tanah Grogot,
Melewati jembatan yang dulu membawa tawa ke Pasir Belengkong,
Mengintip riak Sungai Kandilo dari balik kenangan.
Tapi anak-anak kami telah tumbuh
Dengan dunia yang padat dan waktu yang menipis,
Tak sempat menyusuri asal usul yang menjadi nafas mereka dahulu.
Kami hanya bisa mengenang,
Saat mengendarai motor menuju Jone,
Mengunjungi para transmigran pertama
Penuh harap dan peluh.
Apakah Jone kini telah menjadi kelurahan yang mapan?
Kami tak tahu pasti.
Namun, bayangnya tetap segar dalam ingatan.
Bukit Mahakam Daya Taka masih bersandar dalam langit imajinasi,
Seperti pelukan masa muda yang tak sempat kami ulang.
Tanah Grogot, engkau tak sekadar nama di peta,
Engkau adalah halaman buku sejarah kami
Yang tak dibaca orang lain,
Tapi kami tahu, kami hafal setiap hurufnya.
Wahai sahabat di Tanah Grogot,
Biarlah surat ini mengalir seperti air Kandilo,
Membawa salam rindu, dan senyum yang tertinggal di setiap kelokan jalan,
Di setiap desir angin bukit dan tanah merahmu.
Tanah Grogot, engkau adalah rindu yang tidak pernah usang,
Dan sejarah yang tak pernah benar-benar terlupakan.
Karena disanalah kedua putra-putriku lahir
