Di tanah Pasundan, kutemukan sepenggal kisah
Kala langkah menjejak Sumedang yang ramah
Tahu tempe yang khas, mengajak rasa bercerita
Tentang hangatnya tawa dan tatapan penuh makna
Kami melintasi Ciamis yang teduh
Kampung halaman sang penyanyi yang tersohor
Di antara sawah dan senyum orang desa
Terselip kenangan yang enggan dibelah waktu
Lalu malam pun berlabuh di Pangandaran
Kota kenangan, kota harapan
Angin laut berbisik, membawa suara masa silam
Setiap deburnya seperti menyebut namamu – Dera
Kenangan itu, ah…
Tak mampu kulepaskan meski waktu terus berjalan
Dalam tiap tarikan nafas
Ada engkau, ada senyummu
Seakan seluruh semesta pun paham:
Dera adalah kenangan yang tak mau pergi
Terlalu indah untuk sekadar dilukiskan
Terlalu dalam untuk hanya dikenang
Namun kuyakin,
Kebersamaanku di eramu
Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan
Dera, sebuah nama
Yang menjelma menjadi semangat dalam sepi
Sumber inspirasiku yang tak pernah kering
Kini kutanya pada angin, pada malam, pada waktu:
Dera, di mana kini engkau berada?
Tanah Leluhur, 11 Mei 2025
by. syakhruddin tagana
