SYAKHRUDDINNEWS.COM – Di era modern ini, kepemimpinan yang masih mengandalkan pola-pola kekerasan dan tekanan sudah tidak lagi relevan dengan tuntutan zaman.
Hal ini tergambar dalam pidato berapi-api yang disampaikan oleh Mantan Ketua LLI Sulsel periode 2009–2024 pada Sabtu, 8 Februari 2025, di lapangan olahraga Sentra Kegiatan Atensi Wirajaya Makassar. Rekaman pidato tersebut kini tersebar luas di dunia maya.
Dua minggu sebelumnya, dalam sebuah pesan WhatsApp, ia sempat menyatakan, “Silakan para pengurus LLI yang baru untuk meneruskan kepengurusan.” Sekilas, pernyataan itu mencerminkan sikap legowo dalam menerima kenyataan. Namun, hanya berselang sepekan, sikapnya berubah. Ia kembali berkata, “Silakan pengurus baru datang ke sini.”
Pertanyaannya, mengapa masih ingin mengatur pengurus baru? Mengapa tetap bersemangat mengontrol jalannya kepengurusan yang sejatinya telah berganti?
Ini bukan lagi soal kepemimpinan, tetapi soal ambisi yang belum reda. Anggota pun bertanya-tanya: “Apakah ini sekadar imbauan kosong?” Karena faktanya, ia sudah tidak memiliki kewenangan lagi untuk mengatur organisasi ini. Sudahlah, lupakan masa lalu, sekarang saatnya berubah dan anda boleh duduk manis dengan seseorang di belakang.
Untuk menghentikan ambisi yang meluap ini, solusinya adalah berpindah lokasi kegiatan ke halaman Masjid Besar Al-Abrar. Di tempat baru ini, kita membangun komunitas dengan semangat kebersamaan, tanpa tekanan atau tekanan psikologis yang mengganggu ketenangan hati.
Ketidaksiapan menerima kenyataan semakin terlihat ketika bahkan urusan arisan pun enggan ditunaikan. Ini bukan sekadar soal keuangan, tetapi mencerminkan ketidaktulusan dalam berorganisasi.
Jika memilih bergabung hanya untuk mempertahankan kebiasaan lama, tanpa kontribusi nyata, lalu apa tujuannya? Terlebih lagi, ketika seseorang perlahan-lahan ingin mundur tetapi masih berusaha mempertahankan citra diri.
Kesimpulannya, mari kita—anggota LLI Sulsel—tetap bersatu dan menolak bekerja di bawah tekanan. Kita berkumpul bukan untuk mendengar kemarahan dan ocehan setiap minggu, tetapi untuk merayakan kebebasan berpikir, berpendapat, dan bergerak menuju masa depan yang lebih baik (sdn)
