SYAKHRUDDIN.COM – Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, baru-baru ini mengemukakan pandangannya mengenai potensi perdamaian dengan negara-negara Muslim dan Arab Saudi.
Pernyataannya ini muncul setelah pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Majelis Umum PBB pada 22 September 2023.
Menurut laporan dari Dawn, Eli Cohen menyatakan bahwa hingga enam atau tujuh negara Muslim dapat menjalin perdamaian dengan Israel jika Israel dan Arab Saudi berhasil menandatangani perjanjian perdamaian.
Dalam wawancaranya dengan Kan News, Cohen menggambarkan bahwa “perdamaian dengan Arab Saudi berarti perdamaian dengan dunia Muslim yang lebih luas.”
Meskipun Cohen tidak secara eksplisit menyebutkan nama-nama negara tersebut, ia menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka berlokasi di Afrika dan Asia, dan hanya sedikit yang pernah memiliki kontak langsung dengan Israel.
Presiden AS Joe Biden juga memiliki aspirasi untuk mengubah dinamika politik di Timur Tengah dan mencapai kemenangan diplomatik dengan mendapatkan pengakuan dari Arab Saudi terhadap negara Israel.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Netanyahu optimis bahwa Israel berada di ambang mencapai perdamaian dengan Arab Saudi dan bahwa kemenangan diplomatik ini bisa direalisasikan oleh Biden, membentuk kembali situasi di Timur Tengah.
Meskipun ada tekanan dari Riyadh dan Washington agar masalah Palestina dimasukkan dalam perundingan diplomatik, Netanyahu menekankan bahwa Palestina tidak boleh memiliki hak veto terhadap pembentukan kesepakatan regional.
Netanyahu bahkan menyatakan bahwa kesepakatan ambisius yang didukung oleh AS untuk menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi bisa terwujud.
Arab Saudi sendiri telah lama menjadi pendukung utama perjuangan Palestina dan telah berulang kali menyatakan bahwa pembentukan negara Palestina harus terjadi sebelum normalisasi hubungan dengan Israel.
Washington telah berusaha mendorong sekutu lama mereka, yaitu Arab Saudi, untuk menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel, yang akan menjadi salah satu kemenangan diplomatik terbesar di kawasan ini, setelah perjanjian serupa yang dikenal sebagai Abraham Accords dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko (sdn)
