SYAKHRUDDIN.COM – Sepeninggal almarhum Haji Manda, burung Merpati yang menjadi piaraannya merasa kehilangan, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.
Jumlah burung Merpati yang sebelumnya puluhan ekor, kini tersisa 25 ekor. Setiap pagi, mereka mencari makan di sekitar rumah almarhum. Beberapa burung Merpati ditangkap oleh orang-orang, sementara sisanya bertahan di atas bubungan Masjid Besar Al Abrar, di Jalan St. Alauddin No 82 Makassar.
Selama Haji Manda masih hidup, dia selalu membelikan jagung sebanyak satu karung sebagai makanan burung Merpati piaraannya. Namun, setelah kematiannya, burung-burung Merpati tersebut tidak lagi mendapatkan jagung secara gratis.
Mereka terpaksa mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah di depan rumah almarhum Haji Bani. Di rumah tersebut, kini terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Rumah dan tanah ini dijual tanpa perantara”.
Melihat kondisi burung-burung yang lapar, Sdr Sariun merasa tersentuh. Sebagai perantau dari Kota Bau-Bau di Sulawesi Tenggara, kehadiran burung-burung yang selalu meminta makanan, mengusik perasaannya dan membuatnya merasa mengharu biru.
Rasa iba karena lapar, mendorongnya untuk membelikan jagung dan meletakkannya dalam botol Aqua, yang kemudian disimpan di balik sadel sepeda motornya.
Setiap hari, setelah Sariun selesai melakukan shalat Isyra, burung-burung tersebut langsung mengelilinginya di sebelah sepeda motornya yang berwarna hitam dengan strip kuning.
Sepeda motor itu menjadi tanda bagi burung-burung Merpati, seolah mengatakan, bahwa Sariun adalah penerus Haji Manda.
Setelah memberi makan burung Merpati, Sariun melanjutkan perjalanan dengan motornya menuju Warkop 99 Bundaran Pa’Baeng Baeng, tempat favorit para jamaah subuh dari berbagai masjid di sektor selatan Kota Makassar, seuai ikon Makassar Butta Passolongan Ceratta, disinilah para maniak kopi, selalu ngumpul setiap hari.
Di Warkop 99 Pa’Baeng-Baeng, Sariun kadang-kadang bertemu dengan Ketua Masjid Nikmatullah, Drs. H.A. Salehuddin Karaeng Gau, yang beberapa hari yang lalu diangkat oleh Walikota Makassar, sebagai Kepala Pasar Pa Baeng-Baeng Sektor Barat. Bila bersamaan berada disini, Maka Karaeng Gau selalu mentraktir kawan-kawannya termasuk Penulis.
Di sebelah meja penulis, ada kelompok jamaah yang sedang berdiskusi sengit, mengenai politik tanah air, terutama fenomena kehadiran Anies Baswedan, sebagai kandidat Presiden Indonesia tahun 2024.
Diskusi pagi yang hangat, membuat suasana minum kopi semakin menyenangkan, sambil menyeruput kopi dengan penganan, dua buah pawa dan satubuah kue tari-taripang, yang merupakan kesukaan Karaeng Gau.
Jam di HP menunjukkan angka 07.30 Wita, kami bergegas meninggalkan warkop, saat tamu lain yang mengenakan seragam PNS memasuki Warkop 99 Bundaran Pa Baeng-Baeng.
Pada saat yang sama, di atas bubungan Masjid Besar Al-Abrar terlihat burung Merpati yang sudah kenyang, menyaksikan arus lalu lintas yang semakin padat, menjadi pertanda kehidupan di Kota Makassar yang semakin sibuk.
Ini adalah siklus kehidupan yang selalu berganti, tetapi burung-burung Merpati tentu saja akan selalu datang setiap pagi, sebagaimana semboyan hidup mereka, “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”.
Makassar Warkop 99
Jumat, 9 Juni 2023 oleh Syakhruddin
