SYAKHRUDDIN.COM – Ada beberapa pihak yang menghubungkan gempa berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Turki dan Suriah pada Senin 6 Februari 2023 dengan teknologi HAARP milik Amerika Serikat (AS). Apakah benar demikian?
Beberapa penganut teori konspirasi meyakini ada alasan lain di balik gempa di Turki dan Suriah, dan mengatakan AS berada di balik gempa tersebut melalui teknologi HAARP-nya.
HAARP, atau High-frequency Active Auroral Research Program, sebenarnya adalah program penelitian ionosfer yang didanai oleh militer AS, pemerintah, dan Universitas Alaska.
Program ini didedikasikan untuk menganalisis ionosfer untuk kemajuan teknologi dengan menggunakan pemancar frekuensi tinggi.
Pada 11 Agustus 2015, militer AS memindahkan fasilitas riset ini ke University of Alaska Fairbanks, sehingga program HAARP dapat melanjutkan eksplorasi fenomena ionosfer, melalui riset berbasis darat dan persetujuan pengembangan.
HAARP disebut sebagai “transmiter bertenaga tinggi dan frekuensi tinggi yang paling mampu untuk mempelajari ionosfer”. Terdapat dua instrumen utama dalam program ini:
The Ionospheric Research Instrument (IRI), yaitu sebuah transmiter bertenaga tinggi yang beroperasi di rentang Frekuensi Tinggi, dan seperangkat instrumen ilmiah dan diagnostik canggih yang dapat digunakan untuk mengawasi proses fisik yang terjadi di area tertentu.
Penggemar teori konspirasi sering mengatakan, bahwa HAARP menyebabkan gempa bumi atau bencana alam lainnya, termasuk gempa Turki. Salah satu hal yang dikaitkan adalah keberadaan petir selama gempa.
Namun, petir yang terjadi sebelum gempa adalah peristiwa biasa.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkapkan bahwa petir selama gempa berhubungan dengan pergerakan tektonik.
“Saat batuan kulit bumi mengalami tekanan yang hebat dan sangat kuat, mendekati batas elastisitasnya, maka sebelum failure akan melepaskan gelombang elektromagnetik, yang memicu pencahayaan gempa,” ujar Daryono.
Daryono juga menyebutkan bahwa fenomena serupa pernah terjadi di Indonesia saat gempa terjadi di lereng Merbabu.
Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung teori bahwa High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) atau program penelitian atmosfer aktif aurora tinggi frekuensi, berkaitan dengan gempa bumi.
Fenomena earthquake lightning atau kilatan gempa bumi, yang sering terjadi pada saat gempa, telah dikenal dan dipelajari oleh para ilmuwan selama bertahun-tahun.
Dalam banyak kasus, fenomena ini terjadi karena pergerakan tanah yang menyebabkan pergeseran udara dan ionisasi, menciptakan kilatan.
Fenomena ini sangat berbeda dengan aktivitas teknologi seperti HAARP.
Konsep bahwa HAARP berkaitan dengan gempa bumi adalah spekulasi yang tidak didukung oleh bukti ilmiah dan merupakan “angan-angan kosong” seperti yang dikatakan oleh Daryono (sdn/cnn)
