SYAKHRUDDIN.COM – Terhenyak kaget, saat membaca berita duka pada grup WA Keluarga, yang dipublish adinda Wati Dg Tayu di Timpoppo-Limbung Kabupaten Gowa, Rabu, 6 Juli 2022.
“Kakaku Nur Ali Dg Sija, meninggal dunia di Samarinda, Innalillahi wa inna ilahi rajiun”.
Sembari duduk tafakur, membacakan ummulkitab Al-Fatihah, maka terbayang, ketika masa kecil bersama dahulu, Saat Kakanda masih hidup bersama Kakek Rabai dan Nenek Nannang di Timpoppo Limbung.
Anganku berkelebat, menelusuri relung-relung masa kecil kita bersama. Begitu jelas teringat dalam kesan, saat kita main asing (garis segi empat yang digariskan di tanah lapang), lalu Kanda menerjang dan dirimu terjatuh, hingga tangan kirimu pengkor dan salah urat.
“Saya mendapat marah dari Nenek Nannang” dan itu adalah hal biasa, kalau kita buat kesalahan, maklum Nenek itu sayang pada semua cucunya.
itu, penulis masih duduk di bangku kelas I pada SMP Muhammadiyah Limbung 1969.
“Juga masih terkenang, saat kita semua, anak-anaknya Dolo Bantang bermain orkes di tugu Pahlawan Bajeng”
Almarhum Zakir Dg Ronrong memukul tanjidor, dirimu membunyikan suling dan sepupu yang lain beraktiftas sesuai dengan keterampilan masa itu, dengan lagu yang paling familiar kita nyanyikan bersama adalah “Sepasang Rusa Dilanda Asmara”
Tahun 1972, Penulis selesai sekolah di SMP Muhammadiyah Limbung. Kala itu, kita sudah berpisah tempat. Dirimu tetap dalam asuhan kedua orang tua, Dolo Dg Bantang dan Hakata Dg Ngasih.
Sementara lahir dibelakang, adik-adik yang Penulis kurang hafal, karena sudah meninggalkan Limbung, disaat dimana Almarhum Abd. Latif Dg Sikki dan Hj. Marlina Dg Minne masih tergolong pengantin baru dan sebelum meninggalkan Limbung, lahir seorang bayi perempuan dan diberi nama “Medana”
Almarhum terinspirasi dari sebuah film India, saat Om Sikki masih bekerja di Boskop Benteng Makassar, semuanya begitu segar mengalir dalam ingatan.
Tahun 1972 s/d 1976, lanjut dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pekerjaan Sosial Atas (SPSA) di Jalan Amanagappa Makassar.
Semula mengikuti ujian di SPMA dibidang Pertanian, namun takdir berkata lain, tidak lulus disana dan diterima di SPSA sampai selesai pendidikan.
Penulis lanjut di APPS (Akademi pendidikan Pekerjaan Sosial), lalu bertarung ke Unhas, kala itu ada program Kelas Matrikulasi oleh Prof. Amiruddin (kami sekolah semua dan belum ada penentuan jurusan, nanti setelah lulus matrikulasi) baru diarahkan ke Jurusan mana yang paling tepat minat dan bakat mahasiswa.
Belum sempat lanjut, ada penempatan alumni SPSA diberbagai daerah, kebetulan Penulis berkesempatan mendapat peluang di Kota Samar-SamaI Indah, yang lain ada memilih Sulawesi Tenggara dan adapula yang menuju Ambon.
Tahun 1978 merantau ke Samarinda, membawa berkas untuk diserahkan ke Kantor Wilayah Departeme Sosial Provinsi Kalimantan Timur di Jalan Basuki Rachmat Samarinda.
Setelah penyerahan berkas, tak lama kembali ke Makassar dan siap untuk meninggalkan kampung halaman di Kota Makassar, nanum takdir berkata lain.
“Menurut pesan almarhum H. Dobolo Dg Nassa, kalau kamu merantau, mungkin sudah tak kembali lagi.”
Maka salah satu syarat merantau, harus kawin dulu, maka jadilah kawin dengan Hj. Nurlia Dg Puji, baru berangkat ke Samarinda”.
Rupanya sebagai pegawai baru dan pengantin baru, kita harus memulai dari titik nol dan tinggal bersama dengan almarhumah Kak Aisyah dan Kak Balfas di Temindung, kala itu, lokasinya di dekat Bioskop Wisma Citra (WC) dan disamping kanan Lapangan Perintis Temindung Smarinda.
“Masih ingat kalau subuh hari, setelah sholat, kita mengisi drum air sebanyak dua buah.”
Dirimu yang atletis membuat penulis seakan berlomba denganmu mengisi drum, sampai penuh dua buah, lalu mandi dan berangkat kerja.
Tak berapa lama, Penulis pindah ke salah satu panti sosial milik Kanwil Depsos Kalimantan Timur di Sidomulyo.
Ada empat pegawai sosial tinggal disana, rata-rata mereka diberikan fasilitas negara, sebelum dipindahkan ke Kabupaten pelosok.
Kala itu, Samarinda masih terbilang, kota yang penuh dengan pepohonan, “Kota Yang Samar-Samar Indah”
Akhirnya Penulis ditempatkan pada Kantor Departemen Sosial Kabupaten Pasir di Tanah grogot pada tahun 19979/1980 dengan gaji awal Rp 19.600,- pangkat II/a bersama dengan seorang pendamping.
Kebetulan saat itu, dan empat orang pegawai baru menuju ke Tanah Grogot.
Belakangan dirimu juga mendapat tempat sebagai Pegawai Dinas Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur.”
Kenangan masa kecil hingga bekerja dan masing-masing berkeluarga, tentunya kita telah jalani dengan penuh lika-liku, termasuk bagaimana perjalanan kehidupan rumah tangga masing masing.
Hidup mulai mapan dan Penulis pindah ke Makassar, lalu ditempatkan di Dinas Sosial Kabupaten Takalar, lalu ditunjuk menjadi Kahumas di Dinsos Prov. Sulsel dan terakhir menjabat Kepala Bidang Bantuan Bencana Alam, hingga memasuki masa pensiun 1 Pebruari 2013.
Rentang waktu yang panjang, tentu tidak lagi kita bersama, terakhir ku dengar kabar beritamu, telah menjadi jenazah, Innalillahi wa inna ilahi rajiuan.
Segera kulayangkan pesan sms ke adik Nurlela di Samarinda, tetapi tak ada jawaban, mungkin sedang sibuk mengurus jenazahmu.
Keesokan harinya barulah dapat kabar melalui pesan whatsApp bahwa :
“ Dirimu pernah tertusuk besi, mungkin besi berkarat, akhirnya kaki membengkak dan bernanah”
Konon jadi inpeksi dan terdampak menjadi tetanus”. Kepribadianmu dari dulu tak mau berhubungan rumahs akit atau suntik menyuntik, lebih senang herbal dan olah raga, itu sikap adinda sejak dulu.
Ketika usia pensiun, dimana kita sudah tak semuda lagi seperti dulu, sakit itu makin mendera , tetanus akhirnya ke jantung dan merembet ke ginjal, semuanya menjadi komplikasi.
Akhirnya sang malaikal maut datang menjemputmu di Hari Rabu 6 Juli 2022 (hari Rabu itu, hari Rabu itu Juga merupakan hari dimana H. Dobolo dg nassa) berpulang ke rahmatullah.
Terlepas dari penyebab sakitmu, mungkin sudah itulah ketentuan dan takdir atas kepergian, di lokasi perantauan di Kota Samarinda, kota perjuangan di tataran Sungai Mahakam Kalimantan Timur.
Berita kepergian sungghh-sungguh membuat kami kehilangan seorang adik yang memimpin tampan seperti orang India. Kabar beritamu, sempat menjadi Pengurus KKSS di Samarinda serta aktifis partai politik
Tentu saja membuat banyak teman sejawat yang datang bertakziah dan mengantar ke temp[at peritirahatanmu yang terakhir di tanah perantauan.
Selamat jalan adinda, tulisan ini juga sekaligus mengingatkan bahwa kita pernah bersama di masa kecil di Limbung Kecamatan bajeng dan Ikatan sebagai adik sepupu tentunya saja, tak lekang oleh panas dan lapuk karena hujan.
Sebagai ungkapan rasa duka, karena tak dapat menyaksikan proses penguburannya, maka diadakanlah takziyah dan pembacaan doa di rumah kediaman salah seorang saudaranya di Limbung, dihadiri sanak famili termasuk Wahyuni Dg Baji dari Kompleks Perumahan Benteng Ana Gowa, Innalillahi wa inna ilahi raijun, wassalam (Daeng Lurang di Makassar)
