SYAKKHRUDDIN.COM – Sepulang dari kunjungan kami ke Pattung, Minggu 5 Desember 2021 bersama anggota keluarga dari rumpun Keluarga Babba Alle dan rumpun Bibi Lebang, tiba kembali di rumah menjelang magrib.
Memasuki waktu sholat Isya, anak Penulis yang kedua, bernama Syawal Agus Sentosa Daeng Nai, tiba-tiba duduk tepakur dihadapan keluarga dan seluruh badannya gemetar.
Ternyata cucu yang satu ini, mendapat rahmat menjadi media komunikasi “Sang Leluhur dengan anak cucunya”
Inti dari dialog “Cucu dan Dato” adalah sangat gembira dan bahagia dengan kedatangan anak cucu ke pusaranya.
Hanya saja “waktu ziarah yang di pilih itu “ Waktu Ashar” dan itu tidak tepat, dalam arti harpiah “Kasipalli” tidak sesuai dengan peruntukan daftar kunjungan, subhanallah.
Dari kesimpulan dialog, setelah meminta tembako untuk merokok, namun karena tidak ada, terpaksa digunakan rokok gudang garam, dengan lebih dahulu membuang filternya” setelah menghabiskan satu batang lalu bicara.
“Ammuko ri waktu dhuha-ka, naikko angerangi cucuku” teamako angerangi apa-apa, ka anne cucuku, paling ku ngai ri kau, nasabah sabbaraki, lampa lambusu nyawa-na, na punna nia urusan-nu susah, sareangmi cucuku anne, ka inya ku ngai naku kamaseang” Tarima kasih Dato”.
Senin, 6 Desember 2021 Pukul 09.00 Wita, setelah sholat dhuha bersama, kami berdua boncengan menuju Kawasan Pattung, letaknya sebelah Benteng Somba Opu.
Sesuai perintah Dato, harus lewat Benteng Somba Opu dan Agus dalam posisi reinkarnasi, seakan membawa dua buah tombak, tangannya tetap memegng erat tombak tersebut.
Tiba di rumah kediaman H. Mappa dan H.Sanga, setelah mengucapkan salam sambil berpelukan.
“Anne cucu-ku sa nia-nia na ja amminawang, punna niaki battu” tutur H. Mappa – tapi begitulah, gambaran dan kenyataan yang kuhadapi pagi tadi.
Padahal Agus demikian biasa kami sapa, baru kedua kalinya ke Pattung, dahulu ketika masih bayi memang pernah kesini, saat itu masih hidup Tata Limpo dan Mama Ngai.
Kalau mau diikuti nalar, terkadang tak mampu dijangkau, kami laksana ada yang menggerakkan, mengikuti instruksinya, namun tak terlihat kasat mata “
Itulah kehebatan sang leluhur yang harus kita yakini keberadaannya, bagi mereka yang percaya dan meyakininya. Saya sarankan “ Ammi nawang mama-ko, punna niaki ri kalengnu”
Permintaannya, laksanakan sholat lima waktu dengan tertib, jangan pernah mau tergoda dengan godaan dunia, yang hanya sementara, Allahu akbar.
Dan bacalah ummulkitab Al-Fatihah 3x setiap selesai sholat dan Trikul masing-masing satu kali.
Itulah bukti bahwa dirimu akan selalu ingat kami, dan Dato-mu akan selalu mengikuti dalam setiap pergerakanmu di sepanjang hayatmu, subhanallah.
Sebelum berangkat dari pangkalan di Rumah H. Mappa, Syawal Agus Sentosa Dg Nai, meminta badik pusaka yang saya bawa dalam tas, sejak dari rumah di Jalan Andi Tonro I No 6 Makassar.
Ia lalu memasang dibelakng pinggangnya, lalu badik asli dikembalikan. Yang nampak adalah gerakan “Memasang Badik di pinggang sebelah kanan”
Sementara dua tombak besar di pegang oleh kedua belah tangannya dengan gemetar.
Anaknya H. Mappa bernama Bur Dg Ngeppe (yang suka merawat pusara Dato) berkata pelan :
“ Sangkaki sanjata na Dato, ilalangi tau barania (semacam hulu balang)”
“Punna kammanjo posisina, alili memangko, nasaba tena malla na”.
Yang saya saksikan dengan mata kepala dalam perjalanan melalui pematang (jalan setapak), yang dapat saya ceriterakan ketika Bur Dg Ngeppe jalan duluan, menyusul cucunya H.Mappa namanya Syahrul, yang sangat rajin menemaniku, di posisi ketiga, cucu kesayangannya I Dato.
Menurut penglihatan kasat mata Penulis, seakan-akan berada diatas kuda, karena badannya terombang-ambing, matanya melotot tajam, dan dua buah senjata POKE siap dikiri kanannya.
Dalam perenunganku diperjalanan, seakan diiringi “Gandrang yang memakai Patonro berbaju merah” benar-benar sangat magis kurasakan, dan sepertinya berdiri bulu roma, mengiringi kami berempat jalan menuju “Pusara Dato” diiringi hujan rintik-rintik.
Diperjalanan tak henti-hentinya saya berzikir dan membayangkan, beginilah kondisinya di zaman kerajaan dahulukala.
Memasuki gerbang utama, Sang cucu melihat kearah matahari terbit , lalu menancapkan kedua tombaknya, kemudian duduk di depan dua kuburan di samping kanan Saukang.
“Disini terdapat pusara “Karaeng Mangellai dan Karaeng Mangaliki”
Disitulah tafakur lalu membacakan ummulkitab Al-Fatihah.
Secara berbisik saya dekati, masih di depan kuburannya Dato.
Iyapun mengiya dan melihatku sambil berbisik.
“Kita minta izin dulu, sambil mengangguk, Iyaa ….. sudah diizinkan”
Kami berempat lalu melangkah masuk, menuruni jalan di sisi rumpun bambu Pattung yang rimbun.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Setelah tiba di pusara dan melakukan perenungan diri dengan menundukkan kelapa masing-masing, entah mengapa tiba-tiba air mata jatuh berlinang dan seluruh badan kami terasa dingin.
“Maha Benar Allah dengan segala apa yang telah diciptakannya”
Sejenak cucunda melihat ke kanan, lalu menarik sesuatu di sekitar dinding – kemudian minta tembakau dan merokok, bagaikan seorang Nenek tua yang pegangan rokoknya agak gemetar.
Setelah mengisap tembakaunya, sekitar dua tiga kali isapan, lalu Penulis ingin membakar lilin.
“Jangan mako bakar lilin, jangan bawa bunga cukup air saja, nanti terlalu heboh.
Kami disini bukan untuk dikultuskan, tetapi mari mengingat tentang “Sholat lima waktu” hingga tiba kelak saatnya kembali, tutur Dato secara pelan.
Benar-benar sebuah pengalaman spritual yang kadang difikir secara logika tidak mampu dicerna otak, tetapi sukma dan keyakinan “ itulah yang kusaksikan, kujalani dan kurasakan, Allahu Akbar”.
Peulis tak meminta anda percaya, tetapi bila benar engkau anak cucunya Dato dari Pattung, akan merasakan bagaimana getaran getaran batin itu membuncah dan hanya air mata bahagialah yang akan kita rasakan, dingin – tenang dan damai perasaan.
Kata kunci, mari menghormati leluhur, membenahi pusaranya, menziarahi dan mendoakan dan inilah yang terlupakan oleh kita selama puluhan tahun lamanya.
Baru di akhir November 2021, Penulis memastikan bahwa dia hadir dalam kehidupan keluargaku, wallahualam bissawab.
Kami beranjak pulang, di pintu keluar Syawal Agus Sentosa Daeng Nai, mencari gentong yang ada dipintu keluar dahulu, namun sudah tidak ada.
Tiba di rumah kediaman H. Mappa, kami kembali berdialog dan Agus kembali gemetar, minta segera disiapkan gentong dan menadah air dari air hujan, menggunakan potongan “Bolu pattung dipasang dari bibir seng (Salu) dan air akan mengucur sampai ke gentong (Gumbang) untuk mengambil air wudhu.
Subhanaallah, itupun segera disanggupi oleh Dg Ngeppe anaknya H. Sanga yang sangat perhatian terhadap pusara dan tempat beristirahatnya para leluhur di Pattung Keke (bersambung)
Penulis : H.Syakhruddin Dg Lurang – Anak dari Ayah H.Dobolo Dg Nassa dan Ibu Sittiara Dg Lebang. Sang Ibu dilahirkan dari Ibu bernama Dg Baji dan Ayah Dg Ngemba atau Dato Baji dan Dato Emba) yang kuburannya ada di Pekuburan Lempong Makassar.






