SYAKHRUDDINNEWS.COM – Mentari Senin menyambut awal pekan dengan wajah berseri. Ada yang bergegas ke kantor, ada yang menyiapkan agenda pekerjaan, dan ada pula yang sejak pagi sesekali melirik telepon genggamnya.
Bukan sekadar menunggu pesan masuk, melainkan menanti kabar yang menggembirakan: transfer gaji telah tiba di rekening!
Bagi sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai swasta, maupun para pekerja lainnya, awal bulan November menghadirkan suasana tersendiri.
Ada senyum yang mengembang, ada rencana yang mulai disusun, dan ada kebutuhan keluarga yang sudah menunggu untuk diselesaikan.
Bagi para purnabakti, suasana ini juga mengingatkan bahwa penghasilan bulanan merupakan salah satu penopang kehidupan setelah sekian lama mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat.
Namun, di balik kegembiraan menerima gaji, ada pesan yang lebih mendalam. Gaji bukan semata-mata angka yang bertambah di rekening, tetapi amanah yang harus dikelola dengan bijaksana.
Pesan Al-Qur’an: Rezeki dan rasa syukur; Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kegembiraan memperoleh rezeki hendaknya disertai rasa syukur.
Syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan dengan kalimat Alhamdulillah, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.
Membayar kewajiban dan utang yang telah jatuh tempo.
Memenuhi kebutuhan keluarga.
Menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah.
Membantu saudara atau tetangga yang sedang kesulitan.
Menyisihkan tabungan untuk kebutuhan masa depan.
Jangan sampai ketika gaji masuk, seluruhnya habis untuk memenuhi keinginan, sementara kebutuhan dan kewajiban justru terlupakan.
Ingatlah, keberkahan rezeki tidak selalu ditentukan oleh besarnya jumlah uang yang diterima, tetapi juga oleh cara memperoleh, menggunakan, dan membagikannya.
Menoleh ke belakang: Peristiwa 2 November dalam sejarah Tanggal 2 November ternyata menyimpan sejumlah catatan penting dunia.
2 November 1917 – Deklarasi Balfour. Pemerintah Inggris menyampaikan dukungan terhadap pembentukan tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Dokumen ini kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sejarah panjang persoalan Palestina.
2 November 1920 – Siaran radio komersial. Stasiun KDKA di Pittsburgh, Amerika Serikat, menyiarkan hasil pemilihan presiden. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak sejarah penyiaran radio.
2 November 1936 – Televisi BBC. BBC memulai layanan siaran televisi reguler berdefinisi tinggi menurut standar zamannya, sebuah tonggak perkembangan teknologi komunikasi.
2 November 2000 – Era kehidupan manusia di luar angkasa. Awak pertama Ekspedisi 1 tiba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), memulai kehadiran manusia secara terus-menerus di stasiun tersebut.
Sejarah mengajarkan bahwa satu tanggal dapat menyimpan begitu banyak cerita. Ada peristiwa yang membawa kemajuan, ada yang meninggalkan luka, dan ada pula yang mengubah perjalanan peradaban manusia.
Renungan Senin: Senin, 2 November 2026, mari kita awali dengan senyum dan rasa syukur. Bagi yang hari ini menerima gaji, nikmatilah kebahagiaan itu dengan penuh kesadaran.
Bagi yang belum memiliki penghasilan tetap, jangan kehilangan harapan. Sebab pintu rezeki Allah tidak hanya terbuka melalui gaji bulanan, tetapi juga melalui usaha, kesehatan, persaudaraan, kesempatan, dan pertolongan yang tidak pernah kita duga.
Kepada para ASN yang masih aktif, ingatlah bahwa gaji adalah penghargaan atas pekerjaan dan tanggung jawab. Kepada para purnabakti, nikmatilah masa tua dengan rasa syukur karena perjalanan pengabdian telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan.
Dan bagi kita yang telah memasuki usia senja, jangan mengukur kebahagiaan hanya dari isi rekening.
Masih bisa bangun pagi, melaksanakan salat, berjalan menikmati udara segar, berkumpul dengan keluarga, bercengkerama dengan sahabat, dan berbagi pengalaman kepada generasi muda, semuanya adalah kekayaan yang tidak ternilai.
Sebab, rekening boleh bertambah setiap awal bulan, tetapi yang lebih penting adalah rekening amal kita juga terus bertambah setiap hari.
Pantun pembuka
Pergi ke pasar membeli pepaya,
Singgah sebentar membeli selasih.
Hari Senin membawa bahagia,
Gaji diterima, jangan lupa berterima kasih.
Kebuntuan politik Israel pascapemilu 27 Oktober 2026 mendorong tokoh oposisi Gadi Eisenkot mengambil langkah untuk membentuk pemerintahan baru tanpa harus kembali menggelar pemilu.
Hasil pemungutan suara menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperoleh 53 kursi, kubu oposisi pimpinan Eisenkot 48 kursi, sedangkan partai-partai Arab meraih 19 kursi dari total 120 kursi Knesset.
Padahal, pembentukan pemerintahan membutuhkan sedikitnya 61 kursi dukungan. Eisenkot pun membuka komunikasi dengan berbagai kekuatan politik untuk membangun koalisi yang lebih luas.
Namun, jalan menuju pemerintahan baru tidaklah sederhana. Eisenkot menetapkan sejumlah persyaratan bagi calon mitra koalisi, antara lain pengakuan terhadap Israel sebagai negara Yahudi, demokratis, liberal dan egaliter, penerapan wajib militer atau dinas nasional bagi seluruh warga, serta pengakuan terhadap Hamas sebagai organisasi teroris.
Ia juga mengusulkan penyelidikan atas serangan 7 Oktober 2023 dan perubahan sejumlah kebijakan pemerintahan sebelumnya.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal memenangkan pemilu, tetapi juga kemampuan membangun kesepakatan di tengah perbedaan. Kini, masa depan politik Israel bergantung pada negosiasi dan dukungan mayoritas parlemen.
Peta kemampuan pendidikan dunia tahun 2026 memperlihatkan dominasi negara-negara Asia Timur dalam melahirkan generasi pelajar berprestasi.
Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang mengukur kemampuan matematika, sains, dan membaca, China menempati posisi pertama dengan skor rata-rata 578,7, disusul Singapura, Taiwan, Makau, Jepang, dan Korea Selatan.
Sementara itu, Indonesia masih berada di peringkat ke-72 dari 91 negara dengan skor rata-rata 372,7. Posisi ini juga berada di bawah sejumlah negara ASEAN, seperti Brunei, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan pendidikan Indonesia masih membutuhkan pembenahan serius.
Hasil penilaian ini hendaknya tidak sekadar menjadi angka yang membanggakan atau memprihatinkan, tetapi menjadi bahan introspeksi bagi pemerintah, pendidik, orang tua, dan seluruh masyarakat.
Kecerdasan anak bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal pelajaran, melainkan juga oleh daya nalar, kreativitas, budaya membaca, kemampuan memecahkan masalah, serta keberanian mengembangkan gagasan.
Indonesia memiliki potensi generasi muda yang besar, tetapi potensi itu harus ditopang oleh kualitas guru, pemerataan fasilitas pendidikan, lingkungan belajar yang sehat, dan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan.
Sebab, masa depan bangsa tidak hanya dibangun dengan gedung sekolah yang megah, tetapi dengan melahirkan manusia yang cerdas, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kisah Getir Abah Ukar, 20 Tahun Hidup Sendirian di Tengah Hutan Karet
Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalani kehidupan seorang diri, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan manusia.
Itulah perjalanan getir Abah Ukar, yang memilih atau terpaksa menjalani hari-harinya di tengah hamparan hutan karet. Dalam kesunyian pepohonan, ia melewati pagi, siang, dan malam tanpa kehangatan keluarga maupun teman berbagi cerita.
Suara angin yang menyelinap di antara dedaunan, gemerisik ranting, dan gelapnya malam menjadi teman setianya.
Sementara manusia lain menikmati kebersamaan di rumah, Abah Ukar harus berdamai dengan kesendirian, menghadapi kerasnya alam, serta bertahan dengan segala keterbatasan hidup.
Kisah Abah Ukar mengingatkan kita bahwa di balik kehidupan yang tampak biasa, ada manusia yang menyimpan perjalanan panjang penuh luka dan ketabahan.
Dua dekade kesendirian bukan sekadar hitungan waktu, melainkan gambaran tentang perjuangan mempertahankan hidup dan menghadapi kesepian.
Kita patut bertanya, sudahkah lingkungan sosial memberi perhatian kepada mereka yang hidup dalam keterasingan?
Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berteduh, tetapi juga kasih sayang, kepedulian, dan kehadiran sesama. Jangan sampai seseorang hidup di tengah rimbunnya pepohonan, tetapi terlupakan oleh rimbunnya kepedulian manusia
Lansia Bukan Beban, Tetapi Kekuatan Masyarakat; Selama ini, kaum lanjut usia sering dipandang sebagai kelompok rentan yang harus dilindungi, dibantu, dan dilayani.
Pandangan tersebut memang tidak keliru, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan potensi yang mereka miliki. Di balik rambut yang memutih, tersimpan pengalaman panjang, kearifan hidup, pengetahuan lingkungan, dan kepedulian sosial yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat.
Karena itu, memasuki usia senja bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk berkarya dan mengabdi.
Semangat inilah yang dikembangkan Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan melalui gagasan LANSIGANA (Lanjut Usia Siaga Bencana).
Sebuah terobosan yang menempatkan lansia bukan hanya sebagai objek perlindungan ketika bencana terjadi, tetapi juga sebagai subjek yang dapat berpartisipasi dalam kesiapsiagaan.
Dengan pembekalan sesuai kemampuan fisik dan kondisi kesehatan, lansia dapat berperan menyampaikan informasi, mengenali potensi ancaman di lingkungannya, mengingatkan jalur evakuasi, serta membantu membangun kesadaran masyarakat.
Kolaborasi dengan Tagana, perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan gagasan tersebut.
Pada akhirnya, Lansigana bukan sekadar program kebencanaan, melainkan gerakan membangun martabat, kepercayaan diri, dan keberdayaan kaum lanjut usia.
LLI Sulsel ingin membuktikan bahwa usia boleh bertambah, langkah mungkin melambat, tetapi semangat untuk memberikan manfaat kepada sesama tidak boleh ikut menua.
Lansia bukan beban masyarakat, melainkan aset sosial, sumber pengalaman, dan kekuatan kemanusiaan yang harus diberi ruang untuk terus berkontribusi.
Makassar adalah kota yang selalu bergerak, sejak matahari terbit hingga malam menjelang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan, pasar ramai oleh aktivitas jual beli, perkantoran sibuk melayani masyarakat, sementara warung kopi menjadi ruang perjumpaan berbagai lapisan kehidupan.
Di balik geliat pembangunan dan denyut ekonomi yang terus tumbuh, masih tersimpan sejumlah persoalan perkotaan, mulai dari kemacetan, kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, hingga pelayanan publik yang terkadang belum berjalan sesuai harapan.
Kota yang besar bukan hanya diukur dari gedung-gedung tinggi dan megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menghadirkan pelayanan yang cepat, mudah, transparan, dan menyentuh kebutuhan warganya.
Namun, membangun Makassar bukan semata-mata tugas pemerintah. Ada tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap warga untuk menjaga keramahan, kepedulian, dan semangat kebersamaan.
Jangan sampai kesibukan kota membuat kita kehilangan senyum, sapaan, dan kesediaan membantu sesama. Sebab, di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, keramahan adalah kekuatan yang menyatukan masyarakat.
Makassar boleh semakin modern, jalan boleh semakin lebar, fasilitas boleh semakin lengkap, tetapi nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge harus tetap hidup.
Kota yang maju adalah kota yang tidak hanya nyaman untuk dihuni, tetapi juga hangat dalam hubungan antarmanusia.
Dari Tanah Borneo, sebuah kisah kelahiran, perjalanan waktu, dan kasih sayang seorang ayah.
Ada tanggal yang selalu tersimpan istimewa dalam kalender kehidupan Penulis. Setiap kali jarum waktu menunjuk tanggal 1 November, ingatan kembali berlayar ke sebuah kota kecil di Bumi Borneo, tepatnya Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Di sanalah, pada 1 November 1979, anak pertama Penulis, Lisnawati Syakhruddin, mengawali perjalanan hidupnya. Kini, 47 tahun telah berlalu. Sebuah rentang waktu yang tidak hanya mencatat pertambahan usia seorang anak, tetapi juga merekam perjalanan panjang kedua orang tuanya dalam membesarkan dan mengantarkan buah hati menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Sementara itu, Penulis sendiri telah menjalani masa purnabakti selama 13 tahundari Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Waktu memang berjalan tanpa pernah meminta izin, tetapi kenangan tentang kelahiran seorang anak pertama tidak akan pernah lekang oleh pergantian zaman.
Hari ini, suasana keluarga terasa berbeda. Kami mendapat undangan untuk berkumpul dan merayakan milad Lisnawati di salah satu rumah makan di kawasan Jalan Dg. Tata, Kota Makassar.
Ayah, Bunda, adik-adik, serta cucu-cucu hadir dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada kemewahan yang lebih membahagiakan selain menyaksikan keluarga berkumpul, saling menyapa, tertawa, dan menikmati kebersamaan.
Bagi seorang ayah, kebahagiaan bukan semata-mata melihat anaknya bertambah usia, melainkan menyaksikan anak-anak tumbuh, menapaki kehidupan, membangun karier, dan menemukan kebahagiaan bersama keluarga masing-masing.
Selamat Milad ke-47, Ananda Lisnawati Syakhruddin. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang berkah, kemudahan dalam setiap urusan, serta kesuksesan dalam perjalanan karier.
Teruslah menjadi anak yang membanggakan, pribadi yang santun, dan bagian dari keluarga yang senantiasa membawa kebahagiaan.
Dari seorang ayah yang pernah menggendongmu di Tanah Grogot, kini hanya doa yang terus mengiringi setiap langkahmu.
Selamat ulang tahun, Nak. Kasih sayang seorang ayah tidak mengenal batas usia, sebagaimana doa orang tua yang tak pernah mengenal kata selesai.
PENUTUP MOKA
Pembaca setia MoKa yang budiman, sampai di sini dahulu perjumpaan kita hari ini. Semoga setiap untaian kata dan kisah yang tersaji dapat menjadi teman berpikir, penyemangat langkah, sekaligus pengingat bahwa kehidupan selalu menyimpan cerita dan harapan.
Kita akan kembali berjumpa dalam suasana yang lebih riang gembira, terlebih ketika gaji bulanan telah diterima. Ada senyum yang merekah, ada kebutuhan keluarga yang menanti untuk dipenuhi, dan ada rasa syukur atas rezeki yang kembali mengalir.
Selamat beraktivitas, tetap jaga kesehatan, tebarkan keramahan, dan sukses selalu bersama keluarga tercinta. Salam hangat dari MoKa (Mozaik Kehidupan). Sampai jumpa pada edisi berikutnya.
Pantun Penutup
Pergi ke pasar membeli pepaya,
Singgah sebentar membeli ketan.
Gaji diterima hati bahagia,
Syukuri rezeki, bahagiakan keluarga dan kerabat sekalian.
Salam Insiprasi : Syakhruddin Tagana







Yaumul Milad ke-47 untuk Ananda Lisnawati Syakhruddin. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang berkah, kemudahan dalam setiap urusan, serta kesuksesan dalam perjalanan karier … ‘Aamiin ‘aamiin ‘aamiin yaa rabbal ‘Aalamiin