SYAKHRUDDINNEWS.COM – Tanggal 1 November 2026 jatuh pada hari Ahad. Ada suasana istimewa menyambut pergantian bulan ini. Bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan para purnabakti, November bukan sekadar pergantian kalender, tetapi juga membawa harapan baru.
Sebab, esok hari, Senin, 2 November 2026, rekening yang dinanti akan kembali terisi. Bagi sebagian orang, itulah saatnya menerima gaji bulanan. Sementara bagi para pensiunan, saat menantikan uang pensiun yang menjadi penopang kebutuhan keluarga.
Ada yang menyebutnya hari bahagia karena lembaran rupiah kembali menghiasi rekening. Bahkan, ada yang berseloroh, rekening akan menerima kiriman lembaran Sudirman—istilah jenaka untuk uang yang wajahnya dihiasi gambar para pahlawan.
Namun, di balik kegembiraan itu, tersimpan tanggung jawab besar: mengatur penghasilan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyisihkan untuk tabungan, dan tidak melupakan mereka yang membutuhkan uluran tangan.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap rezeki, sekecil apa pun, patut disyukuri. Gaji bukan semata-mata hasil pekerjaan, dan pensiun bukan sekadar hak setelah mengabdi puluhan tahun.
Keduanya merupakan amanah yang harus dikelola dengan bijaksana. Jangan sampai ketika rekening terisi, hati justru kosong dari rasa syukur. Ingatlah bahwa di dalam rezeki yang kita terima, terdapat hak keluarga, kewajiban sosial, dan kesempatan untuk berbagi.
Menoleh ke Masa Lalu: Peristiwa Tanggal 1 November menyimpan sejumlah catatan sejarah yang menarik untuk dikenang. 1 November 1512 – Lukisan langit-langit Kapel Sistina karya Michelangelo untuk pertama kalinya diperlihatkan kepada publik.
1 November 1755 – Gempa bumi dahsyat mengguncang Lisbon, Portugal, disusul kebakaran dan tsunami. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana besar dalam sejarah Eropa.
1 November 1800 – Presiden Amerika Serikat John Adams menjadi presiden pertama yang menempati Gedung Putih.
1 November 1946 – Cikal bakal pendidikan Polisi Militer Angkatan Udara dibentuk melalui Sekolah Polisi Angkatan Udara Darurat di Yogyakarta.
1 November 1999 – Bank Indonesia menerbitkan uang kertas pecahan Rp100.000 untuk pertama kalinya.
Tanggal ini juga dikenal sebagai Hari Inovasi Indonesia, momentum untuk mengembangkan gagasan dan kreativitas demi kehidupan yang lebih baik.
Mari membuka November dengan senyuman. Semoga rekening bertambah, kesehatan terjaga, keluarga bahagia, dan ibadah semakin berkualitas, sebuah pantun pembuka untuk Anda;
Ke pasar Maros membeli pepaya,
Singgah sebentar di tepi telaga.
November datang membawa bahagia,
Rezeki dinanti, senyum pun terbuka.
Sementara itu, Kebuntuan Politik Israel, Netanyahu dan Eisenkot Berpeluang Berbagi Kekuasaan; Peta politik Israel pascapemilu parlemen 27 Oktober 2026 menghadapi situasi yang belum menemukan titik terang.
Dua kekuatan politik utama, yakni kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, sama-sama belum berhasil mengamankan 61 kursi sebagai syarat mayoritas di parlemen (Knesset).
Menariknya, kedua kubu dikabarkan enggan menjadikan partai-partai Arab sebagai mitra koalisi. Kondisi tersebut memunculkan wacana pembentukan pemerintahan persatuan nasional melalui kesepakatan pembagian kekuasaan, dengan Netanyahu memimpin dua tahun pertama sebelum menyerahkan jabatan kepada Eisenkot.
Namun, wacana tersebut masih menjadi perdebatan dan belum menjadi kesepakatan resmi. Kantor Presiden Israel Isaac Herzog bahkan membantah keterlibatan presiden dalam rencana pembagian kekuasaan tersebut.
Sementara itu, partai-partai Arab yang memperoleh sekitar 19 kursi justru memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pemerintahan mendatang. Situasi ini memperlihatkan bahwa demokrasi tidak hanya berbicara tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak, tetapi juga bagaimana kompromi politik dibangun untuk mendapatkan dukungan parlemen.
Israel kini berada di persimpangan: membentuk pemerintahan melalui kompromi antarkubu atau menghadapi kebuntuan politik berkepanjangan.
Disisi lain Ulang Tahun Kota Makassar ; Ada yang menarik pada hari pertama November 2026. Kota Makassar mulai memasuki rangkaian peringatan hari jadinya yang ke-419. Sebuah perjalanan panjang tentang sejarah, pembangunan, dan dinamika kehidupan masyarakat.
Namun, di balik gemerlap perayaan sebuah kota, ada pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan: sudahkah seluruh warganya menikmati hasil pembangunan?
Sebab kota yang maju bukan hanya diukur dari gedung pencakar langit, jalan yang mulus, atau pusat perbelanjaan yang megah. Kota yang bermartabat adalah kota yang tidak membiarkan warganya berjalan sendirian menghadapi kesulitan.
Masih ada anak-anak yang membutuhkan perlindungan, keluarga yang bergulat dengan kemiskinan, warga lanjut usia yang memerlukan perhatian, serta kelompok rentan yang menanti uluran tangan. Di sinilah pekerja sosial, relawan, pemerintah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–3 tentang orang yang mendustakan agama, yakni mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Pesannya sangat jelas: keberagamaan tidak cukup berhenti pada ritual, tetapi harus hadir dalam kepedulian sosial.
Sahabat MoKa, Hari ini penulis kembali menyapa pembaca setelah sempat terlambat menerbitkan tulisan. Bukan karena kehilangan inspirasi, melainkan karena kesibukan yang luar biasa, ditambah pemadaman listrik yang beberapa kali mengganggu aktivitas.
Tetapi hidup memang demikian. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada amanah yang harus ditunaikan, dan ada masyarakat yang membutuhkan kehadiran kita.
Maka, memasuki November ini, mari kita jadikan momentum untuk memperbarui semangat pengabdian. Tidak harus menjadi pejabat untuk berbuat baik.
Tidak harus memiliki kekayaan untuk membantu sesama. Terkadang, sebuah sapaan, perhatian kepada tetangga, atau kesediaan mendengarkan keluh kesah orang lain sudah menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Selamat datang November. Semoga Makassar semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan kepedulian sosialnya tidak pernah kehilangan cahaya.
Benarkah SIM Gratis; Kabar mengenai Surat Izin Mengemudi (SIM) gratis dan berlaku seumur hidup tentu menjadi berita yang menarik perhatian masyarakat.
Betapa tidak, selama ini masyarakat harus mengeluarkan biaya untuk penerbitan maupun perpanjangan SIM secara berkala. Jika benar kebijakan tersebut diberlakukan oleh Kapolri, tentu akan menjadi angin segar bagi jutaan pengendara di Indonesia, terutama masyarakat kecil yang setiap tahun harus memperhitungkan pengeluaran rumah tangga.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diperjelas: kabar tentang SIM gratis dan berlaku seumur hidup tidak boleh langsung dianggap sebagai kebijakan resmi Polri sebelum ada pengumuman dan dasar hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
Faktanya, Korlantas Polri telah berulang kali membantah informasi tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, SIM tetap memiliki masa berlaku lima tahun dan harus diperpanjang sesuai ketentuan.
Biaya penerbitannya pun masih mengacu pada PP Nomor 76 Tahun 2020 tentang tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di lingkungan Polri. Bahkan, pada Oktober 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital kembali mengingatkan masyarakat tentang beredarnya tautan pendaftaran SIM gratis yang ternyata merupakan modus pencurian data pribadi.
Pesan untuk masyarakat: Jangan mudah tergiur oleh kabar SIM gratis dan berlaku seumur hidup yang mengatasnamakan Kapolri. Jangan mengisi data KTP, nomor telepon, atau Telegram melalui tautan yang tidak jelas sumbernya.
Bijak bermedia sosial berarti tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga cermat memeriksa kebenarannya. Catatan MoKa: Kabar gembira memang selalu dinantikan, tetapi kebenaran informasi jauh lebih penting daripada janji yang menggiurkan.
Selamat LANSIGANA: Ketika Usia Senja Tidak Lagi Sekadar Menunggu, Tetapi Bersiap Menjadi Penyelamat
Bukan usia yang menentukan seberapa besar arti pengabdian, tetapi sejauh mana seseorang masih mampu memberi manfaat bagi sesama.
Sabtu, 31 Oktober 2026, menjadi salah satu lembaran sejarah dalam perjalanan pengembangan organisasi Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan. Sebuah terobosan yang patut dicatat dengan tinta emas dilakukan melalui inisiasi pembentukan LANSIGANA (Lanjut Usia Siaga Bencana).
Sebuah gagasan yang mengubah cara pandang kita terhadap warga lanjut usia. Bahwa mereka bukan semata-mata kelompok yang harus dilindungi ketika bencana datang, melainkan juga dapat diberdayakan untuk mengenali risiko, membangun kesiapsiagaan, dan mengambil bagian dalam upaya penyelamatan sesuai kemampuan masing-masing.
Kegiatan bersejarah ini dirangkaikan dengan Pemantapan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kompi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar, yang melibatkan mahasiswa Semester V Program Studi Kesejahteraan Sosial. Bertempat di halaman Kampus Bermartabat, Samata, Kabupaten Gowa.
Kegiatan tersebut menghadirkan sebuah pertemuan lintas generasi: kelompok lanjut usia yang membawa pengalaman hidup dan mahasiswa yang sedang menimba ilmu serta mengasah kepedulian sosial.
Suasana semakin bermakna ketika Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FDK UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Syamsuddin AB, S.Ag., M.Pd., M.Sos., menyampaikan sambutan sekaligus apresiasinya terhadap inisiatif tersebut.
Dengan tegas beliau mengungkapkan bahwa hari itu, di Sulawesi Selatan, tepatnya di kampus yang memiliki Program Studi Kesejahteraan Sosial, telah lahir sebuah gagasan baru bernama LANSIGANA. Bahkan, beliau menyebutnya sebagai inisiatif pertama di Indonesia yang digagas oleh Pengurus LLI Provinsi Sulawesi Selatan.
Pernyataan tersebut tentu menjadi penyemangat tersendiri bagi para penggagas dan calon pengurus LANSIGANA. Secara khusus, beliau menyampaikan ucapan selamat kepada Bapak Drs. H. Syakhruddin DN, M.Si., selaku Sekretaris LLI Sulawesi Selatan, untuk membina dan mengembangkan wadah baru tersebut agar dapat tumbuh menjadi gerakan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Bagi Syakhruddin, kepercayaan itu bukan sekadar penghargaan organisasi. Ada tanggung jawab besar yang menanti. Sebab membentuk organisasi jauh lebih mudah dibandingkan membangun gerakan yang berkelanjutan.
LANSIGANA membutuhkan pembinaan, pelatihan, penguatan kapasitas, serta jejaring kerja sama dengan TAGANA, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan berbagai unsur kebencanaan.
Mengapa LANSIGANA penting? Karena dalam setiap peristiwa bencana, kelompok lanjut usia termasuk mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Ada yang mengalami keterbatasan mobilitas, ada yang hidup sendiri, dan ada pula yang membutuhkan pendampingan ketika proses evakuasi berlangsung.
Namun, di balik keterbatasan itu, tersimpan pengalaman panjang yang tidak dimiliki semua orang. Para lansia mengenal lingkungan tempat tinggalnya, memahami kebiasaan masyarakat, mengetahui sejarah kampungnya, bahkan sering menjadi sumber informasi penting ketika situasi darurat terjadi.
Maka LANSIGANA ingin membangun paradigma baru: Lansia bukan hanya objek perlindungan, tetapi juga subjek kesiapsiagaan.
Tentu, keterlibatan mereka harus disesuaikan dengan kondisi fisik, kesehatan, dan kemampuan masing-masing. Tidak harus mengangkat tandu, tidak harus berlari menembus lokasi bencana.
Memberikan informasi, mengenali jalur evakuasi, mengingatkan tetangga, mendampingi sesama lansia, hingga menyampaikan pesan kesiapsiagaan merupakan bentuk kontribusi yang sangat berarti.
Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan Sabtu itu. Mahasiswa Kesejahteraan Sosial belajar bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia.
Sementara para lanjut usia memperoleh ruang baru untuk membuktikan bahwa masa pengabdian tidak berhenti hanya karena seseorang telah memasuki usia senja.
Di sinilah TAGANA dan LANSIGANA menemukan titik temu. Yang satu memiliki semangat kerelawanan dan pengalaman penanggulangan bencana, yang lain membawa kearifan, pengalaman, serta semangat untuk tetap berguna.
Sabtu, 31 Oktober 2026, mungkin hanya satu tanggal dalam kalender. Namun, bagi LLI Sulawesi Selatan, tanggal itu layak dikenang sebagai awal sebuah perjalanan baru.
Dari halaman Kampus FDK UIN Alauddin Makassar, sebuah gagasan mulai ditanam. Kelak, kita berharap benih itu tumbuh menjadi gerakan nasional.
Sebab usia boleh bertambah, tenaga boleh berkurang, tetapi semangat untuk menolong sesama tidak boleh ikut menua.
Catatan MoKa: Jangan pernah menganggap seseorang tidak lagi berguna hanya karena rambutnya telah memutih. Bisa jadi, di balik rambut putih itu tersimpan pengalaman yang mampu menyelamatkan banyak kehidupan.
Al-Qur’an mengingatkan kita dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
Itulah ruh LANSIGANA. Menolong tidak harus menunggu menjadi muda, dan mengabdi tidak harus menunggu mendapat jabatan.
Sampai disini jumpa kita dan sebuah pantun penutup untuk Anda; Pergi ke Samata membawa bekal,
Singgah sebentar di halaman kampus.
Usia senja bukan penghalang amal,
LANSIGANA hadir membawa arus.
Burung merpati terbang beriringan,
Hinggap sebentar di pohon mangga.
Bersama TAGANA membangun kesiapsiagaan,
Lansia tangguh, Indonesia berjaga.
Salam Inspirasi : Syakhruddin DN Sekretaris LLI Provinsi Sulawesi Selatan