SYAKHRUDDINNEWS.COM – Selasa, 27 Oktober 2026. Hari ini bukan sekadar pergantian angka pada kalender. Ia adalah sebuah pintu sejarah, karena tepat 98 tahun lalu, pada 27 Oktober 1928, para pemuda Indonesia memulai Kongres Pemuda II di Batavia.
Kongres yang berlangsung 27–28 Oktober itu kelak melahirkan ikrar monumental yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan-Indonesia.
Maka, Selasa hari ini seakan menjadi ruang untuk bercermin sebelum bangsa ini memperingati 28 Oktober. Para pemuda masa lalu datang dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond dan berbagai perkumpulan lainnya.
Mereka berbeda daerah, suku, agama dan latar belakang, tetapi mampu menyingkirkan sekat-sekat primordial demi sebuah cita-cita yang lebih besar: Indonesia.
Di sinilah pesan Al-Qur’an terasa begitu dalam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”
Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan jalan untuk saling mengenal, menghargai dan bekerja sama.
Bukankah semangat itu pula yang terpancar dari Sumpah Pemuda? Para pemuda 1928 tidak bertanya, “Kamu berasal dari suku mana?” atau “Kamu dari daerah mana?” Mereka justru bertanya lebih jauh: “Apa yang dapat kita lakukan untuk Indonesia?”
Jejak Masa Lalu; Ada satu hal menarik untuk direnungkan. 27 Oktober 1928 adalah hari pertama Kongres Pemuda II, sementara 28 Oktober menjadi hari ketika keputusan monumental tentang satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegaskan.
Artinya, sejarah besar tidak selalu lahir dalam satu detik. Ia lahir dari pertemuan, dialog, perbedaan pendapat, kesediaan mendengar, lalu menemukan titik persamaan.
Ketika merah putih berkibar, kita adalah satu Indonesia. Ketika bencana datang, kita adalah saudara. Ketika negeri membutuhkan tenaga dan pikiran, kita semestinya berdiri dalam barisan yang sama.
Selasa, 27 Oktober 2026, adalah hari untuk mengingat sebelum memperingati. Menggali sejarah sebelum mengucapkan sumpah.
Menghayati persatuan sebelum berbicara tentang kebangsaan.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang lupa kepada masa lalunya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengubah sejarah menjadi pelajaran dan pelajaran menjadi tindakan.
Besok, 28 Oktober, kita akan kembali mengucapkan Sumpah Pemuda. Tetapi malam ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah sumpah itu masih hidup di dalam hati kita?
Jika jawabannya iya, maka Indonesia tidak perlu takut kepada masa depan. Sebab selama masih ada anak bangsa yang mau bersatu, bergotong royong, menghormati perbedaan dan bekerja dengan hati, Indonesia akan tetap berdiri tegak.
Selamat menyongsong Hari Sumpah Pemuda ke-98, Menulis dengan hati, mengabdi untuk negeri.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda nikmati ;
Pergi ke pasar membeli delima,
Singgah sebentar di tepian kali.
Pemuda bersatu membangun bangsa,
Indonesia jaya sepanjang hari.
Pahlawan Karhutla; Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meninggalkan duka mendalam. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari berbagai sumber, 10 petugas dan relawan gugur ketika menjalankan tugas memadamkan api di sejumlah wilayah Indonesia, dari Kalimantan hingga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Mereka adalah Akhmad Rijani, Ahmadin alias Itam Madin, Aries Sutio Luthfil Hadi, Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, Munawi, Nurdin alias Amang Udin, dan Suraji. Enam di antaranya gugur dalam penanganan karhutla di kawasan Bromo, tiga dari Kalimantan Tengah, dan satu dari Kalimantan Selatan.
Mereka bukan sekadar nama dalam daftar korban, melainkan manusia yang memilih berdiri di garis depan ketika api mengganas, demi menyelamatkan hutan, lingkungan, dan masyarakat.
Ada yang meninggal di lokasi, ada pula yang sempat menjalani perawatan akibat luka bakar dan gangguan pernapasan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Pengorbanan mereka mengingatkan kita bahwa di balik setiap api yang berhasil dipadamkan, ada keberanian yang dipertaruhkan.
Semoga seluruh almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan.
Sementara itu, Kabar tentang Sitti Husniah Talenrang, Bupati Gowa nonaktif, yang disebut telah ditahan di Polda Sulawesi Selatan, menjadi perhatian publik. Ia sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang terkait pengurusan perizinan di Kabupaten Gowa. Masyarakat kini menanti penjelasan resmi aparat penegak hukum mengenai perkembangan perkara tersebut.
Di tengah pemberitaan itu, satu pesan penting patut direnungkan: kekuasaan memiliki batas, sementara hukum harus berdiri di atas semua kepentingan.
Penetapan tersangka bukanlah putusan bersalah. Karena itu, biarkan penyidik bekerja berdasarkan bukti, jaksa menjalankan kewenangannya, dan pengadilan memutus berdasarkan fakta serta hukum.
Pada akhirnya, jabatan boleh berakhir dan kekuasaan berganti, tetapi pertanggungjawaban tetap melekat. Di hadapan hukum, tidak ada lagi bupati atau rakyat biasa—yang harus ditegakkan adalah kebenaran dan keadilan.
Masyarakat Menanti kedatangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Kota Makassar, bukan sekadar menunggu hadirnya seorang kepala negara di tanah Anging Mammiri.
Sejumlah persiapan mulai digerakkan, berbagai agenda disiapkan, dan Sulawesi Selatan bersiap memperlihatkan wajah daerahnya di hadapan pemimpin negeri.
Salah satu momentum yang turut mengiringi kunjungan tersebut adalah Jambore Tagana Sulawesi Selatan, yang menjadi ruang memperkuat solidaritas, kapasitas, dan semangat pengabdian para relawan kebencanaan.
Di sisi lain, persiapan Sekolah Rakyat menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan negara melalui pendidikan. Program ini diharapkan membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan perhatian, agar memiliki kesempatan belajar dan menatap masa depan dengan lebih baik. Negara tidak hanya hadir melalui seremoni dan pidato, tetapi melalui ruang kelas, guru, fasilitas, serta harapan yang ditanamkan kepada generasi penerus bangsa.
Makassar pun menata napas menyambut kedatangan Presiden. Bagi Tagana, momentum ini menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu berada di panggung utama, tetapi hadir di dapur umum, lokasi pengungsian, dan tengah masyarakat ketika bencana melanda.
Sementara bagi Sekolah Rakyat, harapannya sederhana namun besar: jangan sampai seorang anak Indonesia kehilangan masa depan hanya karena lahir dari keluarga yang kurang beruntung. Inilah wajah pengabdian dan kepedulian sosial yang ingin ditampilkan Sulawesi Selatan kepada negeri.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa); Sampai di sini jumpa kita hari ini. Esok pagi, 28 Oktober 2026, kita kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah momentum bersejarah yang mengingatkan kita bahwa bangsa ini pernah disatukan oleh satu tekad: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Selamat menantikan puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mari kita rawat semangat persatuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah warga bangsa yang setia pada cita-cita kemerdekaan, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan terus berkarya untuk negeri.
Sebuah pantun penutup untuk Anda:
Sumpah Pemuda, sumpahnya para pemuda,
Terpatri teguh di dalam sanubari.
Berbeda suku, bahasa dan budaya,
Indonesia bersatu, sampai akhir nanti.
Salam Mozaik Kehidupan. Teruslah berkarya, karena bangsa ini membutuhkan jejak terbaik dari setiap anak negerinya.
Salam Literasi : Syakhruddin Tagana




