SYAKHRUDDINNEWS.COM – Mozaik Kehidupan Edisi Ahad 25 Oktober 2026
Ahad pagi masih menyisakan embun, matahari belum terlalu garang, dan roda sepeda masih berputar menyusuri jalan kehidupan yang begitu akrab.
Di atas sepeda kesayangannya, Hartono Laras masih mengayuh seolah hari itu hanyalah hari biasa, seolah maut belum menuliskan namanya di lembar terakhir perjalanan.
Namun, siapa yang mampu membaca rahasia waktu?
Menjelang tengah hari, sebuah jatuh mengubah segalanya.
Tubuh yang selama ini kuat mengabdi, kini harus terbaring tak berdaya. Rumah sakit berusaha mempertahankan kehidupan, tetapi takdir berkata lain.
Dan Ahad yang semula riuh oleh suara olahraga, tiba-tiba berubah menjadi sunyi oleh kabar kepergian seorang putra terbaik bangsa.
Hartono Laras telah pergi.
Pergi tanpa sempat mengetuk pintu perpisahan. Pergi meninggalkan meja kerja, ruang kuliah, tumpukan gagasan, dan begitu banyak manusia yang pernah disentuh oleh pikirannya.
Kini tubuh itu terbujur kaku. Di hadapan kerabat yang menahan tangis, ayat-ayat suci dibacakan perlahan. Doa dipanjatkan setinggi langit.
Nama yang dahulu disebut dalam ruang-ruang rapat, kini disebut di antara kalimat-kalimat takbir dan permohonan ampun kepada Allah.
Betapa kecil manusia di hadapan kematian.
Jabatan yang pernah disandang, gelar yang pernah melekat, penghormatan yang pernah diterima semuanya akhirnya berhenti di hadapan selembar kain kafan.
Mantan Sekjen Departemen Sosial di eranya, birokrat, akademisi, dosen, dan pejuang kesejahteraan sosial itu akhirnya pulang kepada Sang Pemilik kehidupan.
Tetapi seorang pendidik tidak benar-benar mati.
Ia hidup dalam pikiran mahasiswa yang pernah mendengar kuliahnya. Ia hidup dalam gagasan yang pernah ditanamkannya.
Ia hidup dalam kebijakan yang pernah diperjuangkannya. Ia hidup dalam langkah para pekerja sosial yang terus berjalan membela mereka yang lemah, mendampingi mereka yang terluka, dan berdiri bersama mereka yang sering dilupakan dunia.
Hartono Laras boleh berhenti mengayuh sepeda, tetapi jejak pengabdiannya tidak akan berhenti berlari.
Hari ini kita menangisi kepergiannya. Besok kita mengenang keteladanannya. Dan lusa, mungkin seorang mahasiswa yang pernah menerima ilmunya akan berdiri di tengah masyarakat dan berkata:
“Saya pernah belajar dari seorang guru yang mengajarkan bahwa pengabdian bukan tentang berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.”
Selamat jalan, Pak Hartono Laras.
Sepeda telah berhenti. Langkah telah terhenti. Suara nyanyianmu telah sunyi.
Tetapi amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah ditanamkan akan terus tumbuh di tanah kehidupan.
Dan ketika malam turun di atas rumah duka, ketika bacaan Al-Qur’an perlahan meninggi, barangkali para malaikat sedang mencatat satu hal yang tidak pernah dicatat oleh jabatan:
bahwa seorang manusia telah meninggalkan dunia dengan membawa kenangan di hati begitu banyak orang.
Ya Allah… ampunilah segala khilafnya, terimalah amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, terangi tempat peristirahatannya, dan tempatkan ia di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.
Sebab pagi itu ia masih mengayuh sepeda, dan kita tidak pernah tahu bahwa itulah kayuhan terakhirnya.
Selamat jalan, Sang Dosen. Selamat jalan, Sang Pejuang Sosial. Selamat jalan, Hartono Laras.
Semoga perjalanan terakhirmu lebih indah daripada seluruh perjalanan duniawi yang pernah kau tempuh.
Sepeda berputar menuju senja, Embun jatuh di daun kenari. Jasamu hidup sepanjang masa, Namamu tinggal di dalam hati.
Al-Fatihah.
Makassar – Ahad, 25 Oktober 2026 Penulis Mozaik Kehidupan Syakhruddin.DN HP 081 2424 5938