SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin kembali menyapa. Matahari perlahan naik di ufuk timur, sementara kehidupan mulai bergerak dengan iramanya masing-masing.
Ada yang berangkat bekerja, mengajar, berdagang, melayani masyarakat, menuntut ilmu, dan ada pula yang memulai kembali perjuangan setelah menikmati jeda di penghujung pekan.
Senin sesungguhnya bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah kesempatan untuk memulai kembali. Apa yang belum selesai pada pekan lalu, kita lanjutkan.
Apa yang keliru, kita perbaiki. Apa yang kurang, kita sempurnakan. Dan apa yang menjadi harapan, kita perjuangkan dengan kesungguhan.
Bagi seorang muslim, Senin memiliki makna tersendiri. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amal manusia dipresentasikan pada hari Senin dan Kamis, dan beliau menyukai apabila amalnya dipresentasikan dalam keadaan berpuasa.
Pesan ini terasa dalam: jangan biarkan Senin berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan.
Bukan berarti setiap orang harus berpuasa, tetapi semangatnya dapat kita teladani, memasuki hari dengan hati yang bersih, niat yang baik, serta amal yang bermanfaat.
Ayat yang Menguatkan; Allah SWT berfirman dalam QS. Al-‘Asr ayat 1–3:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Ayat ini sangat relevan dengan perjalanan hidup. Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali. Karena itu, setiap Senin seharusnya menjadi pengingat bahwa umur berkurang, tetapi kesempatan berbuat baik masih terbuka.
Senin mengajarkan kita untuk tidak terlalu lama menyesali hari kemarin. Yang lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan hari ini.
Lintasan Sejarah; Tanggal 19 Oktober juga menyimpan sejumlah catatan sejarah dunia.
Pada 19 Oktober 1781, pasukan Inggris di bawah Lord Cornwallis menyerah di Yorktown, Virginia, sebuah peristiwa penting yang menandai semakin dekatnya berakhirnya Perang Revolusi Amerika.
Pada 19 Oktober 1914, Pertempuran Pertama Ypres dimulai dalam Perang Dunia I.
Kemudian pada 19 Oktober 1960, Martin Luther King Jr. ditangkap ketika mengikuti aksi protes damai terhadap segregasi rasial di Atlanta, Amerika Serikat.
Yang paling terkenal, 19 Oktober 1987 dikenang sebagai “Black Monday”, ketika Dow Jones Industrial Average jatuh sekitar 22,6 persen dalam satu hari, menjadi salah satu kejatuhan pasar saham paling tajam dalam sejarah.
Sejarah tersebut memberi kita sebuah pelajaran: kehidupan tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ada masa kejayaan, ada masa kejatuhan; ada kemenangan, ada perjuangan; ada keberhasilan, ada pula kegagalan.
Namun manusia yang bijaksana tidak berhenti pada peristiwa. Ia mengambil hikmah dari setiap kejadian. Mari menjadikan Senin, 19 Oktober 2026 sebagai hari untuk memperbarui energi kehidupan.
Jangan bertanya terlalu lama, “Apa yang sudah saya dapat?”
Sesekali bertanyalah: Sudahkah kita menyisihkan waktu untuk berdoa?
Dan yang paling penting, sudahkah pekerjaan yang kita lakukan menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT?
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang berapa panjang usia yang kita miliki, tetapi seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan selama usia itu berjalan, sebuah pantun pembuka untuk Anda ;
Senin adalah awal.
Niat adalah arah.
Ikhtiar adalah perjalanan.
Dan doa adalah kekuatan.
Dari Jejak Reserse Menuju Kursi Kapolri; Suyudi Ario Seto bukan nama baru di tubuh Kepolisian Republik Indonesia. Lulusan Akpol 1994 ini meniti karier panjang dari berbagai penugasan kewilayahan hingga dunia reserse, termasuk di Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri.
Ia pernah menjabat Kapolsek Pasar Minggu, Tanah Abang dan Penjaringan, kemudian Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, serta Kapolresta Bogor. Kariernya berlanjut di Bareskrim dan Polda Metro Jaya, sebelum dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya dan Kapolda Banten.
Pada 25 Agustus 2025, Suyudi dipercaya memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN), dengan tugas besar menghadapi jaringan peredaran narkotika.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya ke pucuk pimpinan Polri. Pada 1 Oktober 2026, DPR RI menyetujui pengangkatannya sebagai Kapolri dan Presiden Prabowo Subianto melantiknya menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pangkatnya dinaikkan dari Komisaris Jenderal menjadi Jenderal Polisi.
Kini, tantangan Suyudi bukan sekadar menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Ia juga dituntut memperkuat profesionalisme, menghadirkan pelayanan yang humanis, serta mengembalikan dan menjaga kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri.
Sebab, jabatan Kapolri bukan sekadar pangkat dan kekuasaan, melainkan amanah besar untuk melindungi, mengayomi dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bergerak untuk Tetap Bugar; Hari ini, Minggu 18 Oktober 2026, puluhan ribu warga tumpah ruah mengikuti Jalan Sehat Anti Mager dan Kirab Swasembada Pangan dalam rangka HUT ke-357 Sulawesi Selatan.
Jalan sehat bukan sekadar melangkahkan kaki, tetapi menjadi pesan sederhana bahwa tubuh harus diajak bergerak, bersosialisasi dan menikmati udara pagi.
“Bergeraklah sebelum tubuh mengingatkan bahwa diam terlalu lama juga punya harga.” Bagi mereka yang memasuki usia lanjut, langkah kecil sekalipun adalah bagian dari ikhtiar menjaga kebugaran dan menikmati hari-hari dengan lebih bermakna.
MoKa mengajak kita melihat jalan sehat bukan hanya sebagai sebuah kegiatan seremonial, melainkan perayaan kehidupan. Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, tetapi semangat untuk bergerak jangan sampai ikut menua.
Jalan kaki, berolahraga ringan, bertemu sahabat dan menjaga pola hidup sehat adalah investasi sederhana yang manfaatnya terasa kemudian hari.
Sebab pada akhirnya, bukan panjangnya usia saja yang penting, tetapi bagaimana usia itu dijalani dengan tubuh yang masih mampu melangkah dan hati yang tetap bersemangat.
Disisi lain, Ketika langit mulai kabur, manusia kembali diingatkan: alam bukan warisan yang boleh diperlakukan sesuka hati. Kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan pada 18 Oktober dilaporkan masuk kategori tidak sehat.
Sebelumnya, asap kebakaran hutan dan lahan bahkan sempat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin.
Asap mungkin tidak memiliki suara, tetapi ia membawa pesan yang sangat jelas. Ia masuk ke ruang-ruang kehidupan, menyentuh paru-paru, mengganggu aktivitas, dan membuat kita bertanya: sampai kapan alam harus menanggung ulah manusia?
Karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar pepohonan. Di baliknya ada persoalan lingkungan, kesehatan, ekonomi, bahkan keselamatan masyarakat.
Hutan yang terbakar hari ini mungkin terlihat jauh dari rumah kita, tetapi dampaknya dapat hadir dalam bentuk udara yang kita hirup esok pagi.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan pekerjaan pemerintah semata. Ia adalah tanggung jawab bersama. Tidak membakar lahan sembarangan, menjaga hutan, melaporkan potensi kebakaran, mengurangi pencemaran, dan menanam kembali pohon adalah bentuk kecil dari kepedulian besar terhadap kehidupan.
Bukankah manusia diberi amanah untuk menjadi khalifah di bumi, bukan menjadi penghancurnya?
Allah mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
Ayat ini terasa semakin dekat ketika udara yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi sesuatu yang harus kita waspadai.
Maka, ketika langit Sulawesi Selatan mulai kelabu, jangan hanya melihatnya sebagai kabut yang menghalangi pandangan. Lihatlah ia sebagai cermin. Mungkin alam sedang mengingatkan kita bahwa setiap tindakan manusia memiliki akibat.
Mari menjaga bumi sebelum anak cucu kita hanya mengenal hutan dari cerita. Sebab udara bersih bukan kemewahan. Ia adalah hak setiap manusia dan amanah yang harus kita wariskan.
Akhirnya, Kabar dari kawasan Monumen Emmy Saelan, Makassar, kembali mengusik rasa aman masyarakat. Polsek Rappocini mengamankan 14 pemuda yang diduga terlibat tawuran, dan dalam pengamanan tersebut turut ditemukan sejumlah senjata tajam.
Tawuran bukan sekadar persoalan benturan antarkelompok. Di baliknya ada kecemasan orang tua, keresahan warga, dan masa depan anak-anak muda yang bisa terseret pada persoalan hukum.
Masa muda seharusnya diisi dengan belajar, berkarya, berolahraga, berorganisasi, dan membangun persahabatan—bukan mengasah keberanian dengan senjata.
Anak muda seharusnya memegang masa depan, bukan senjata. Sebab tangan yang hari ini menggenggam senjata, sesungguhnya adalah tangan yang kelak diharapkan menggenggam buku, pekerjaan, tanggung jawab, bahkan masa depan keluarganya.
MoKa mengajak kita semua untuk tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan agar anak-anak muda tidak sampai memilih jalan tawuran?” Keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, aparat, dan lingkungan harus hadir bersama. Karena menjaga generasi muda bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab kita semua.
Masa depan Makassar tidak boleh lahir dari suara benturan senjata. Ia harus tumbuh dari suara pendidikan, persaudaraan dan karya.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa) yang saya banggakan, Sampai di sini dahulu perjumpaan kita dalam lembaran MoKa hari ini. Setiap pagi adalah kesempatan baru untuk menata langkah, menyemai harapan, dan menyalakan kembali semangat yang mungkin sempat redup.
Karena itu, mari kita manfaatkan hari Senin dengan semangat yang membara, bekerja dengan hati yang ikhlas, dan melangkah dengan keyakinan hingga dunia pun ikut tersipu menyaksikan energi positif kita.
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang selama ini setia menemani perjalanan MoKa. Bahkan, ketika MoKa terlambat terbit, telepon dan pesan mulai berdatangan menanyakan, “MoKa hari ini belum terbit?”
Bagi Penulis, perhatian sederhana itu memiliki makna yang luar biasa. Itu pertanda bahwa MoKa bukan sekadar tulisan yang hadir setiap hari, tetapi perlahan telah menjadi bagian dari kehidupan pembacanya—menemani pagi, menyapa hati, dan mengajak kita sejenak merenungi perjalanan kehidupan.
Sebelum kita berpisah, izinkan Penulis menitipkan sebuah pantun:
Langit boleh kelabu hari ini, Semoga esok kembali cerah. Jangan biarkan alam tersakiti, Agar kehidupan tetap indah dan berkah.
Sampai jumpa pada MoKa berikutnya. Tetap semangat, tetap peduli, dan jangan pernah berhenti menebarkan kebaikan.