SYAKHRUDDINNEWS.COM – Kamis, 15 Oktober 2026, Aula Sipakatau Kantor Wali Kota Makassar bukan sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan 102 Ketua Shelter Warga se-Kota Makassar.
Orang-orang yang selama ini bekerja di tengah masyarakat, menyentuh persoalan warga dari jarak paling dekat.
Mereka datang bukan untuk sekadar duduk, mendengar lalu pulang. Ada rapat koordinasi, ada tiga narasumber yang berbagi gagasan, tetapi di balik itu semua tersimpan satu pesan penting: persoalan warga tidak akan selesai hanya dengan rapat di balik meja.
Shelter Warga justru berada di tempat persoalan itu bermula—di lorong, di rumah-rumah warga, di tengah keluarga yang menghadapi persoalan sosial, perempuan, anak, hingga berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.
Di tengah suasana itu, sebuah peristiwa personal ikut memberi warna. Hj. Hafidah Djalante, S.IP, merayakan usia ke-58. Usia yang tidak hanya dihitung dengan angka, tetapi dengan jejak pengabdian yang telah dilalui.
Perayaan ulang tahun pun terasa berbeda karena beriringan dengan momentum memasuki masa purnabakti.
Ada tawa, ada kue ulang tahun, ada suapan sederhana yang menghangatkan suasana. Namun di balik kemeriahan itu terselip sebuah kalimat yang mungkin tidak terucapkan:
Jabatan boleh berakhir, masa pengabdian formal boleh berganti, tetapi pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal kata pensiun.
Hari itu, 102 Shelter Warga seakan menjadi saksi. Bahwa kerja sosial bukan pekerjaan yang selalu terlihat di panggung.
Banyak yang justru berlangsung diam-diam, di lorong-lorong sempit, ketika sebagian orang memilih tidur, sementara para penggeraknya masih memikirkan bagaimana membantu warga yang membutuhkan.
Dan mungkin, inilah makna sesungguhnya dari Shelter Warga: menjadi tempat pertama ketika warga membutuhkan tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat mencari jalan keluar.
Aula Sipakatau boleh ditutup setelah acara selesai. Kursi-kursi boleh kembali kosong. Mikrofon boleh dimatikan.
Tetapi pekerjaan sosial tidak pernah mengenal tombol off.
Sebab ketika 102 Ketua Shelter Warga kembali ke wilayah masing-masing, di sanalah babak berikutnya dimulai.
Bukan lagi tentang siapa yang hadir dalam rapat, tetapi siapa yang hadir ketika warga sedang membutuhkan pertolongan. Dan di situlah pengabdian menemukan maknanya.
Ke Aula Sipakatau membawa cerita,
Bukan sekadar hadir memenuhi undangan.
Shelter Warga terus menabur karya,
Mengabdi untuk rakyat dengan ketulusan.