SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin, 21 September 2026, bukan sekadar halaman pertama dari pekan yang baru. Ia datang membawa pesan yang jauh lebih luas: Hari Perdamaian Internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 21 September sebagai hari untuk memperkuat cita-cita perdamaian, baik di dalam maupun di antara bangsa-bangsa.
Hari ini juga dimaknai sebagai periode tanpa kekerasan dan gencatan senjata. Untuk tahun 2026, PBB mengangkat tema “Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day”—menanamkan investasi pada perdamaian, untuk semua, di mana saja, setiap hari.
Tanggal ini mempunyai perjalanan sejarah. Pada 21 September 1937, novel The Hobbit karya J.R.R. Tolkien pertama kali diterbitkan di London.
Pada 21 September 1964, Malta memperoleh kemerdekaan dari Inggris dan memasuki babak baru sebagai negara berdaulat. Kemudian pada 21 September 1991, rakyat Armenia mengikuti referendum untuk menentukan kemerdekaan dari Uni Soviet;
dua hari kemudian, pada 23 September, Dewan Tertinggi Armenia menyatakan kemerdekaan berdasarkan hasil referendum tersebut.
Namun di antara berbagai catatan sejarah itu, ada satu pesan yang terasa paling dekat dengan kehidupan kita: perdamaian tidak selalu dimulai dari meja perundingan para pemimpin dunia.
Ia dapat dimulai dari rumah, dari keluarga, dari lingkungan tetangga, dari cara kita berbicara, dari kesediaan memaafkan, dan dari kemampuan menahan diri ketika emosi sedang meninggi.
Sebab perang besar sering kali berawal dari pertengkaran kecil yang tidak diselesaikan dengan bijaksana.
Maka Senin pagi ini, sebelum kita mengejar pekerjaan, berita, rapat, dan berbagai urusan kehidupan, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hari ini kita menjadi pembawa damai?
Sebab dunia yang damai bukan hanya tanggung jawab negara dan lembaga internasional. Ia adalah hasil dari jutaan tindakan kecil manusia yang memilih tidak menyakiti, memilih menghormati, dan memilih menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin.
Senin bukan sekadar awal pekan. Ia adalah kesempatan untuk memulai kembali. Dan 21 September mengajarkan bahwa perdamaian bukan sekadar kata yang indah, ia adalah pekerjaan setiap hari, pekerjaan kita semua.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda : Pagi Senin membawa harapan, Burung berkicau di atas dahan, Bila hati penuh kedamaian, Ringan langkah menjalani kehidupan.
Sebuah Kabar itu datang dari Makassar. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan, berdasarkan data PPATK, 29 pegawai Kemensos di Sulawesi Selatan terindikasi melakukan transaksi judi online.
Mereka merupakan bagian dari sekitar 1.900 pegawai Kemensos secara nasional yang masuk dalam data indikasi tersebut.
Nilai deposit transaksi di Sulsel disebut mencapai lebih dari Rp184 juta. Namun, status mereka masih dalam tahap pendalaman dan pencocokan antara data transaksi dengan identitas pegawai.
Kini Kemensos menelusuri satu per satu data tersebut. Pemeriksaan diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan antara indikasi transaksi dan keterlibatan yang telah terbukti.
Mensos menegaskan, jika setelah pendalaman ditemukan pegawai yang terbukti terus melakukan judi online, terlebih sampai kecanduan atau menggunakan uang kantor, akan ada sanksi sesuai tingkat pelanggarannya hingga pemberhentian.
Di balik angka 29 itu, ada pesan besar bagi aparatur yang mengemban tugas sosial: amanah melayani masyarakat tidak boleh kalah oleh godaan judi online.
Lain halnya dengan AI yang menolak Direm, Perdebatan Teknologi Kian Memanas; Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan perdebatan tajam di kalangan pelaku industri teknologi.
Dalam pemberitaan CNN Indonesia, seorang insinyur DeepSeek menanggapi gagasan untuk memperlambat atau membatasi laju pengembangan AI, bahkan melontarkan perbandingan yang sangat keras terhadap Anthropic.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pertarungan gagasan mengenai masa depan AI bukan lagi sekadar soal teknologi.
Tetapi juga menyentuh persoalan etika, keselamatan, kebebasan inovasi, dan tanggung jawab perusahaan dalam mengembangkan teknologi yang semakin kuat.
Di satu sisi, percepatan AI diyakini dapat membuka berbagai peluang besar bagi ilmu pengetahuan, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan manusia.
Namun di sisi lain, kekhawatiran mengenai penyalahgunaan, keamanan, dampak terhadap pekerjaan, serta kemampuan mengendalikan teknologi tersebut juga semakin mendapat perhatian.
Karena itu, perdebatan tentang apakah AI perlu “direm” atau justru terus dipacu sebaiknya ditempatkan dalam ruang dialog yang rasional:
Bagaimana inovasi tetap berjalan, tetapi keselamatan dan kepentingan manusia tidak ditinggalkan. AI boleh melaju, tetapi akal sehat dan tanggung jawab harus tetap menjadi kemudi.
Sementara itu, di sebuah sekolah di Banga, Provinsi South Cotabato, Filipina, Jumat 18 September 2026 suasana belajar berubah menjadi kepanikan setelah seorang siswa berusia 16 tahun melepaskan tembakan ke arah teman-temannya.
Dua siswa berusia 14 tahun tewas dan delapan lainnya terluka, empat di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Pelaku kemudian meninggal setelah menembak dirinya sendiri. Senjata yang digunakan dilaporkan merupakan pistol milik ayahnya yang bekerja di lingkungan Departemen Pendidikan Filipina.
Tragedi ini kembali membuka perdebatan di Filipina mengenai akses anak terhadap senjata api, keamanan penyimpanan senjata di rumah, keselamatan sekolah, serta pengaruh konten kekerasan di internet.
Pejabat setempat menyerukan perhatian lebih besar terhadap cara penyimpanan senjata agar tidak mudah dijangkau anak, sementara penyelidikan juga menelusuri aktivitas daring pelaku.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat getir bahwa satu senjata yang berada di tangan yang salah dapat mengubah ruang pendidikan menjadi tempat duka, sehingga perlindungan anak dan pencegahan kekerasan menjadi perhatian bersama.
Selanjutnya mari kita menye;lami Sejarah Hindia Belanda menyimpan lembaran yang sering kali terasa getir ketika dibaca kembali.
Di balik kemegahan Batavia dan kekuasaan para Gubernur Jenderal VOC, terdapat kehidupan para budak yang diperlakukan sebagai bagian dari kekayaan dan tenaga kerja.
Mereka didatangkan dari berbagai wilayah Asia dan Nusantara, kemudian ditempatkan untuk melayani rumah tangga, mengerjakan pekerjaan kasar, hingga menjadi tenaga pendukung kegiatan VOC.
Dalam struktur sosial Batavia, kepemilikan budak bahkan dapat menjadi simbol kekayaan dan status sosial seseorang.
Kehidupan mereka jauh dari kata merdeka. Budak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan tuannya, sementara nasib mereka sangat bergantung pada kehendak pemilik.
Ada yang menjadi pelayan rumah tangga, pekerja bangunan, buruh bongkar muat kapal dan gudang, hingga pekerja perkebunan. Sebagian berasal dari Bali, Makassar, Banda, Timor, dan berbagai kawasan lain di Nusantara.
Catatan sejarah tentang Batavia bahkan menunjukkan bahwa jumlah budak pernah mencapai puluhan ribu orang pada abad ke-18.
Angka-angka itu seakan mengingatkan bahwa di balik wajah kota kolonial yang tampak megah, terdapat manusia-manusia yang menjalani kehidupan dalam belenggu.
Kisah para budak Gubernur Jenderal VOC akhirnya bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan cermin tentang bagaimana kekuasaan dan keuntungan dapat mengikis penghargaan terhadap martabat manusia.
VOC sendiri pada akhirnya dibubarkan pada 31 Desember 1799 setelah mengalami kemerosotan dan beban utang, tetapi jejak sosial kolonialisme tetap meninggalkan luka panjang di Nusantara.
Membaca kembali kisah ini membuat kita sadar: sejarah bukan hanya tentang siapa yang memerintah dan siapa yang menang, tetapi juga tentang mereka yang pernah hidup tanpa pilihan, namun namanya tetap layak dikenang sebagai manusia.
Akhirnya, bangkai KM Virgo kini tak lagi terlihat di permukaan. Kapal itu telah tenggelam sepenuhnya, 29 meter di bawah Laut Jawa, bergeser sekitar 450 meter terseret arus 7 knot yang ganas.
Dari 243 orang yang berada di dalamnya, 108 berhasil diselamatkan, 6 ditemukan sebagai jenazah, sementara 129 orang masih menunggu untuk dipulangkan.
Kopaska dan Dislambair sempat menyelam, tetapi operasi dihentikan sementara karena arus membahayakan keselamatan penyelam.
Kini Basarnas menyiapkan upaya lain: membalik kapal dengan bantuan balon pengangkat dari bawah air, melibatkan para ahli dari Indonesia, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Di permukaan, pelampung bercahaya dipasang agar posisi bangkai tidak kembali hilang.
Namun, 29 meter di bawah sana, yang terbaring bukan sekadar besi tua dan air asin. Ada 129 manusia, dengan cerita, keluarga, dan harapan yang belum selesai.
Mungkin ada yang masih menggenggam telepon, ada yang pernah berkata, “Nanti kalau sudah sampai, aku kabari.”
Kini kalimat itu seperti menggantung di kedalaman laut. Untuk mereka, Laut Jawa malam ini bukan hanya hamparan gelap, tetapi ruang panjang tempat doa-doa dipanjatkan.
Lampu pelampung yang berkedip di permukaan menjadi tanda bahwa mereka belum dilupakan. Bertahanlah di sana, kami masih mencari jalan untuk menjemput dan membawa kalian pulang.
Terakhir Izinkan Penulis, sebelum lembar MoKa hari ini ditutup,izinkan menitipkan satu kalimat sederhana:
Setiap perjumpaan selalu membawa cerita, setiap cerita meninggalkan kenangan, dan setiap kenangan mengajarkan kita untuk semakin menghargai kehidupan.
Jika hari ini ada kata yang kurang berkenan, anggaplah ia sebagai debu yang terbawa angin. Jika ada cerita yang menyentuh hati, semoga menjadi cahaya kecil yang menemani langkah kita.
Sebab MoKa bukan sekadar rangkaian kata, tetapi catatan perjalanan manusia tentang tawa, air mata, perjuangan, dan harapan yang terus menyala.
Sebuah Pantun penutup buat Anda ; Pagi hari memetik melati, Harumnya semerbak di halaman. Terima kasih sahabat di hati, Sampai berjumpa di MoKa kemudian.
Salam hangat dari Penulis, tetap sehat, tetap semangat, dan jangan pernah berhenti menebar kebaikan.