SYAKHRUDDINNEWS.COM – Senin kembali menyapa. Setelah Ahad berlalu dengan segala suasana santainya, pagi ini kampus kembali ramai. Jalan menuju ruang kuliah mulai dipenuhi langkah-langkah muda.
Wajah-wajah mahasiswa baru atau Maba tampak bersemangat, sebagian masih mencari ruang kelas, sebagian lainnya sibuk membuka jadwal kuliah yang tersimpan di telepon genggam.
Hari ini menjadi hari istimewa, karena untuk pertama kalinya para Maba benar-benar duduk di ruang kelas sebagai mahasiswa.
Mereka bukan lagi siswa yang menunggu bel sekolah berbunyi, tetapi insan akademik yang mulai belajar mengatur waktu, memahami kontrak perkuliahan, mengenal dosen, serta menyimak berbagai informasi tentang perjalanan akademiknya.
Dari meja dosen, informasi disampaikan; dari bangku mahasiswa, harapan masa depan mulai ditanamkan.
Senin sesungguhnya bukan sekadar hari pertama dalam hitungan kalender kerja. Ia adalah simbol memulai kembali.
Kalau kemarin ada pekerjaan yang tertunda, hari ini kesempatan untuk melanjutkannya.
Kalau kemarin masih ragu, hari ini waktunya melangkah. Dan bagi Maba, Senin 7 September 2026 mungkin akan menjadi salah satu tanggal yang kelak dikenang: hari ketika perjalanan panjang sebagai mahasiswa resmi dimulai.
Di ruang kelas, mungkin belum banyak yang saling mengenal. Ada yang duduk di depan karena ingin lebih dekat dengan dosen, ada pula yang memilih kursi di belakang sambil diam-diam memperhatikan suasana.
Namun semuanya memiliki satu tujuan: belajar, berkembang, dan kelak menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.
7 September Dalam Catatan Sejarah; Tanggal 7 September juga menyimpan sejumlah catatan dalam perjalanan sejarah dunia. Pada 7 September 1940, Jerman memulai serangan besar-besaran terhadap London dalam Perang Dunia II.
Peristiwa yang dikenal sebagai The Blitz itu menjadi salah satu babak kelam sejarah Eropa dan berlangsung dalam serangkaian serangan udara yang panjang.
Tiga puluh tujuh tahun kemudian, tepat 7 September 1977, Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan pemimpin Panama Omar Torrijos menandatangani perjanjian yang mengatur pengalihan kendali Terusan Panama kepada Panama.
Perjanjian itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan kedaulatan Panama atas jalur air strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik.
Ada pula catatan menarik lainnya. Pada 7 September 1936, harimau Tasmania atau thylacine terakhir yang diketahui mati di Kebun Binatang Hobart, Australia.
Sementara pada 1945, pasukan Jepang di Pulau Wake menyerah kepada pasukan Amerika Serikat.
Begitulah sejarah. Ia mengajarkan kepada kita bahwa satu tanggal dapat menyimpan begitu banyak cerita:
Ada peperangan, perdamaian, perubahan kekuasaan, kemajuan teknologi, bahkan kisah tentang kepunahan sebuah makhluk hidup. Dan hari ini, 7 September 2026, kita menulis catatan sejarah kita sendiri.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda;
Hari pertama masuk kelas,
Maba membawa harapan.
Dosen membuka lembar ilmu,
Masa depan mulai berjalan.
Sementara itu, Ban Pecah di Udara, Selamat Tiba di Makassar ; pagi itu langit seakan menyimpan sebuah cerita. Pesawat Garuda Indonesia GA604, rute Jakarta–Makassar, mengudara membawa ratusan harapan menuju Sulawesi Selatan.
Namun, setelah lepas landas dari Jakarta, salah satu roda utama pesawat mengalami pecah ban.
Kabar itu tentu bukan perkara kecil. Di udara, setiap detik memiliki arti, sementara di darat, Bandara Sultan Hasanuddin segera bersiap.
Petugas penyelamat dan pemadam kebakaran disiagakan, sementara landasan dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pesawat bahkan sempat melakukan go around atau fly pass, sebelum akhirnya mendarat dengan selamat di Runway 03 pada pukul 09.13 WITA.
Sebanyak 156 penumpang dan awak pesawat kemudian dievakuasi dengan aman menuju terminal.
Di sinilah kita kembali belajar dari perjalanan hidup. Tidak semua perjalanan yang mulus berarti tanpa masalah, dan tidak setiap masalah berakhir dengan petaka.
Kadang, di tengah kecemasan, ada ketenangan; di balik gangguan, ada keselamatan; dan di antara rasa takut, ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Terima kasih kepada pilot dan kopilot yang tetap tenang, kepada petugas bandara yang sigap, serta semua pihak yang memastikan keselamatan menjadi yang utama.
Pesawat boleh mengalami pecah ban, tetapi semangat untuk menyelamatkan manusia tidak boleh pernah kehilangan daya.
Disisi lain, Perempuan di Pengungsian, Jangan Sampai Menjadi Korban Kedua; Pengungsian seharusnya menjadi tempat berlindung, tempat orang yang kehilangan rumah mendapatkan rasa aman.
Namun, di balik tenda-tenda darurat dan kepedihan akibat bencana, perempuan justru menghadapi ancaman lain yang tidak kalah mengkhawatirkan, yakni kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual.
Tempo menyoroti bahwa kondisi pengungsian yang serba terbatas dapat meningkatkan kerentanan perempuan, terutama ketika ruang privat, penerangan, sanitasi, dan sistem perlindungan belum memadai.
Karena itu, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada urusan makanan, air bersih dan tempat tidur. Keselamatan perempuan dan anak harus menjadi bagian penting dari pelayanan kemanusiaan.
Pos perlindungan, penerangan yang cukup, ruang yang aman, serta petugas yang mampu menerima dan menangani laporan kekerasan harus tersedia di lokasi pengungsian.
Jangan sampai mereka yang sudah menjadi korban bencana, kembali menjadi korban untuk kedua kalinya. Sebab, di tengah situasi darurat sekalipun, hak perempuan untuk merasa aman tidak boleh ikut mengungsi.
Sementara Pendidikan, Jalan Panjang Membangun Manusia;
Ada sebuah keyakinan sederhana, tetapi maknanya sangat dalam: membangun sebuah daerah tidak cukup hanya dengan jalan yang mulus.


