SYAKHRUDDINNEWS.COM – Elegi Untuk Nabila Kecil – sebuah catatan pena.
Jumat, 4 September 2026, pukul 07.30 WITA.
Pagi itu, ada sebuah perpisahan yang tidak pernah kami bayangkan akan terasa sedemikian berat. Bukan karena kematian. Bukan pula karena kehilangan untuk selamanya.
Tetapi karena seorang bayi mungil yang baru berusia tiga hari, harus kami lepaskan dari dekapan ibundanya, untuk kemudian dibesarkan oleh seorang tante yang selama ini menanti kehadiran seorang anak dalam hidupnya.
Namamu Nabila Kecil.
Nama yang kuberikan dengan segenap rasa yang kumiliki. Nama yang mungkin kelak tidak kau tahu siapa yang memberikannya. Tetapi percayalah, Nak… nama itu lahir dari hati seorang ibu yang pernah mengandungmu, merasakan gerakan kecilmu di dalam rahimnya, kemudian berjuang melahirkanmu ke dunia.
Pagi itu, dari RSIA Khadijah Cabang Kartini Makassar, langkah kami terasa berat.
Sang bayi berada dalam dekapan ibunda. Tubuhnya begitu mungil. Wajahnya masih merah. Tangannya kecil. Matanya mungkin belum mengerti apa-apa tentang dunia yang akan dijalaninya.
Ia tidak tahu bahwa hari itu adalah hari pertama sebuah perjalanan panjang.
Ia tidak tahu bahwa perempuan yang menggendongnya adalah ibu yang telah melahirkannya.
Ia juga tidak tahu bahwa setelah perjalanan itu, hidupnya akan berlanjut di rumah orang lain, seorang tante yang kelak akan menjadi ibu asuh, ibu yang akan membesarkan, memeluk, menjaga dan mencintainya.
Dan mungkin, itulah takdir yang sedang Allah tuliskan untuknya.
Ada haru yang menggantung di udara.
Sang ibu berjalan menuju rumah nenek.
Langkahnya kecil.
Terasa oleng.
Bukan karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya setelah melahirkan.
Tetapi mungkin karena ada sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar beban seorang bayi.
Ada perasaan seorang ibu yang sedang belajar mengikhlaskan darah dagingnya sendiri.
Sesekali mungkin ingin berhenti.
Ingin memeluk lebih erat.
Ingin berkata, “Jangan pergi, Nak…”
Namun hidup kadang memaksa manusia mengambil keputusan yang tidak pernah ingin dipilihnya.
Air mata pun mungkin jatuh tanpa suara.
Dan di antara sesak dada yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, hanya istigfar yang terucap.
Astaghfirullahal’adzim…
Berulang-ulang.
Bukan karena kami tidak mencintaimu, Nabila.
Justru karena cinta itulah kami harus belajar melepaskan.
Maafkan Bunda, Nak…
Jika suatu hari nanti engkau bertanya:
“Mengapa Bunda tidak membesarkanku?”
Mungkin tidak akan pernah ada jawaban yang benar-benar mampu menjelaskan seluruh luka ini.
Bunda hanya bisa berkata:
“Nak, bukan karena Bunda tidak sayang.”
“Bukan karena Bunda tidak ingin melihatmu tumbuh.”
“Bukan karena Bunda ingin meninggalkanmu.”
“Tetapi mungkin beginilah suratan takdir yang harus kami jalani.”
Bunda melahirkanmu.
Dan ada seorang tante yang akan membesarkanmu.
Ia telah lama menunggu kehadiran seorang anak dalam rumahnya. Selama ini, mungkin hanya suara kucing yang menemani hari-harinya.
Kini, rumah itu akan memiliki suara lain.
Tangismu.
Tawamu.
Celotehmu.
Langkah kecilmu.
Dan semoga, kelak rumah itu dipenuhi kebahagiaan karena kehadiranmu.
Nabila kecil…
Kelak ketika usiamu 40 hari, engkau akan menjalani aqiqah di rumah nenek.
Mungkin saat itu engkau belum mengerti apa-apa.
Belum tahu siapa yang sedang mendoakanmu.
Belum mengerti mengapa begitu banyak orang memandangmu dengan mata berkaca-kaca.
Tetapi percayalah, di antara doa-doa yang dilantunkan, ada doa seorang ibu yang mungkin paling panjang dan paling sunyi:
“Ya Allah, jagalah anakku.”
“Tumbuhkan ia menjadi anak yang sehat.”
“Jadikan ia manusia yang baik.”
“Jangan biarkan ia kekurangan kasih sayang.”
Dan mungkin, pada doa terakhir, air mata sang ibu akan jatuh.
Karena ia tahu…
Anak yang didoakannya itu bukan lagi sepenuhnya berada dalam pelukannya.
Nabila kecil…
Aku dan ayahmu mungkin tidak setiap hari melihat pertumbuhanmu.
Tidak selalu menyaksikan rambutmu bertambah panjang.
Tidak selalu mendengar kata pertamamu.
Tidak selalu melihat langkah pertamamu.
Tetapi jangan pernah berpikir bahwa engkau dilupakan.
Tidak, Nak.
Karena ada satu hal yang tidak mungkin dihapus oleh waktu:
Aku adalah perempuan yang melahirkanmu.
Dan ayahmu akan selalu memiliki cerita tentang seorang anak bernama Nabila.
Kami akan menyimpan namamu di ruang paling sunyi dalam ingatan.
Mungkin tanpa banyak bicara.
Mungkin tanpa banyak bertanya.
Namun setiap kali mengingat hari Jumat, 4 September 2026, pukul 07.30 WITA, kami akan teringat pada seorang bayi mungil yang pergi meninggalkan rumah sakit dalam pelukan ibundanya.
Kelak…
Jika kehidupan mengizinkan, kami akan kembali ke pelaminan.
Bukan sekadar sebuah pesta.
Tetapi menjadi persaksian di hadapan keluarga besar, bahwa setelah badai ini berlalu, kami masih memilih untuk berjalan bersama.
Masih memilih untuk saling menggenggam.
Masih memilih untuk menjaga komitmen.
Dan kepada ayah dan ibu, terima kasih atas segala dukungan, pengertian dan kekuatan yang diberikan ketika kami berada pada titik paling rapuh dalam hidup.
Nabila kecil…
Hari ini engkau pergi bukan karena kami berhenti mencintaimu.
Engkau pergi karena kami percaya akan ada tangan lain yang akan mengasuhmu.
Akan ada dada lain yang menjadi tempatmu bersandar.
Akan ada rumah lain yang menjadi tempatmu tumbuh.
Dan semoga perempuan yang kelak engkau panggil Ibu itu, mencintaimu sepenuh hati.
Tidak pernah membedakanmu.
Tidak pernah membuatmu merasa sebagai anak yang datang dari tangan orang lain.
Karena sejak hari ini, engkau bukan sekadar seorang bayi yang dititipkan.
Engkau adalah amanah.
Amanah yang harus dijaga dengan cinta.
Selamat jalan, Nabila Kecil.
Pergilah, Nak…
Tumbuhlah dengan sehat.
Jadilah anak yang baik.
Jadilah kelak hamba yang mampu membanggakan orang-orang yang mencintaimu.
Jika suatu hari nanti engkau membaca tulisan ini, mungkin engkau akan bertanya:
“Siapa yang menulis semua ini?”
Ketahuilah…
Ada seorang ibu yang pernah menggendongmu dalam perjalanan pulang.
Ada seorang ayah yang akan selalu mengingatmu.
Dan ada sebuah keluarga yang pernah menitipkan namamu kepada langit melalui doa.
Maafkan kami, Nabila.
Bukan karena kami tidak menginginkanmu.
Tetapi karena terkadang…
cinta yang paling menyakitkan adalah cinta yang memilih melepaskan, demi masa depan yang diyakini lebih baik.
Selamat jalan, Nabila Kecil.
Semoga Allah menjagamu di setiap langkah kehidupanmu.
Dan bila kelak takdir mempertemukan kita kembali…
peluklah kami tanpa bertanya mengapa dulu engkau harus pergi.