SYAKHRUDDINNEWS.COM — Ketika Rumah Tinggal Berubah Menjadi Bara, Makassar Kembali Berduka.
Selasa siang, 1 September 2026, matahari masih menggantung di langit Makassar. Kota sedang menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ada yang bekerja, ada yang berjualan, ada yang pulang membawa harapan untuk keluarga,
Namun, tiba-tiba… Asap hitam membumbung dari kawasan Asrama TNI Mattoangin. Di sekitar Jalan Cendrawasih dan Jalan Opu Daeng Risadju, suasana seketika berubah.
Api membesar, menjilat bangunan demi bangunan. Teriakan warga pecah di tengah kepanikan. Sebagian berusaha menyelamatkan diri dan barang yang masih mungkin diselamatkan.
Sementara sebagian lainnya hanya mampu berdiri menatap rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung, perlahan ditelan si jago merah.
Sekitar pukul 13.30 WITA, kobaran api terlihat semakin membesar. Asap tebal terlihat dari kejauhan, seakan memberi kabar kepada Kota Makassar bahwa hari itu ada keluarga yang sedang diuji dengan kehilangan.
Tak jauh dari Apotik Mattoangin, di sekitar Jalan H. Padjonga Dg Ngalle, perjuangan melawan api berlangsung. Mobil water canon Brimobda Sulsel turut dikerahkan membantu penyemprotan.
Sementara Damkarmat Makassar menurunkan 12 armada untuk mengepung kobaran dari berbagai sisi.
Petugas berjibaku. Air disemprotkan. Asap mengepul. Api dilawan. Dan di balik semua itu, ada doa-doa yang mungkin tak terdengar oleh siapa pun.
“Semoga rumah kami masih ada…” “Semoga keluarga kami selamat…”
Begitulah barangkali doa yang keluar dari bibir mereka yang menyaksikan tempat tinggalnya berubah menjadi kobaran api.
Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, bersama Dandim 1408/Makassar Kolonel Kav. Ino Dwi, turut turun langsung ke lokasi untuk memantau penanganan kebakaran.
Setelah kurang lebih 1 jam 20 menit, api akhirnya berhasil dikendalikan. Namun, memadamkan api ternyata bukan berarti memadamkan kesedihan.
Sebab ketika kobaran telah hilang, yang tersisa adalah bara.
Dan ketika bara mulai dingin, yang tersisa adalah kenangan.
Laporan awal menyebutkan sekitar 23 rumah dinas yang dihuni 23 kepala keluarga terdampak kebakaran.
Rumah yang selama ini menjadi tempat tidur, tempat anak-anak belajar, tempat keluarga bercengkerama, tempat seorang ibu menunggu suami pulang bekerja dalam sekejap berubah menjadi puing dan kepulan asap.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, BPBD Makassar melaporkan dua orang laki-laki mengalami luka.
Seorang mengalami sesak napas akut dan dirujuk ke RS Bhayangkara. Seorang lainnya mengalami luka ringan dan mendapat penanganan darurat di lokasi.
Sementara penyebab kebakaran, informasi awal mengarah pada dugaan korsleting listrik. Tetapi MoKa mengingatkan, dugaan bukanlah kepastian. Penyebab resmi tetap menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang.
Sahabat MoKa… Kebakaran bukan hanya soal berapa rumah yang terbakar.
Bukan sekadar berapa rupiah kerugian. Sebab di balik pintu sebuah rumah, ada foto keluarga yang mungkin tak sempat diselamatkan.
Ada pakaian anak-anak. Ada ijazah. Ada surat-surat berharga. Ada tempat tidur yang menyimpan kenangan. Ada meja makan tempat keluarga pernah tertawa bersama.
Dan ada kehidupan yang tiba-tiba harus dimulai kembali dari nol.
Data Damkarmat hingga Agustus 2026 pun seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Tercatat 218 kasus kebakaran, dengan 210 rumah terbakar.
Angka itu tampak sederhana bila hanya ditulis di atas kertas.
Tetapi setiap angka sesungguhnya punya wajah. Ada ayah. Ada ibu. Ada anak-anak. Ada keluarga yang kehilangan tempat pulang.
Sebab bagi mereka yang rumahnya terbakar, malam nanti bukan lagi sekadar soal tidur di mana. Tetapi tentang bagaimana memulai kembali kehidupan, ketika sebagian masa lalu telah menjadi abu.
Api memang akhirnya padam.
Tetapi luka di hati korban, mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk sembuh.
Sahabat MoKa, dari Mattoangin kita kembali belajar: Jangan pernah meremehkan api, sekecil apa pun nyalanya. Sebab api hanya membutuhkan sedikit kesempatan untuk berubah menjadi bencana.
Dan ketika semuanya telah menjadi abu, barulah kita sadar… yang terbakar bukan hanya rumah, tetapi sebagian dari cerita kehidupan manusia.
Semoga seluruh keluarga terdampak diberi kekuatan, ketabahan, dan jalan keluar untuk kembali membangun rumah serta kehidupannya.
Makassar boleh berduka hari ini. Tetapi dari puing-puing itu, semoga tumbuh kembali harapan (sdn)