SYAKHRUDDINNEWS.COM – Fajar kembali menyingsing di ufuk timur, menebarkan cahaya yang perlahan mengusir sisa-sisa gelap malam. Senin, 8 Juni 2026, hadir bukan sekadar sebagai pergantian angka dalam penanggalan, melainkan sebagai pengingat tentang jejak sejarah, kepedulian kemanusiaan, serta tanggung jawab bersama menjaga bumi yang menjadi tempat bernaung seluruh makhluk hidup.
Bagi bangsa Indonesia, tanggal ini mengingatkan kita pada kelahiran Presiden Soeharto, putra Yogyakarta yang lahir pada 8 Juni 1921. Sosok yang kemudian memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa itu meninggalkan warisan sejarah yang hingga kini terus menjadi bahan kajian, perdebatan, dan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa.
Di belahan dunia lain, 8 Juni diperingati sebagai Hari Laut Sedunia. Hamparan samudra yang menutupi sebagian besar permukaan bumi seakan kembali mengajak manusia merenungkan betapa besar peran laut dalam menjaga kehidupan. Dari ombak yang tak pernah lelah menyapa pantai hingga kekayaan hayati yang tersembunyi di kedalamannya, laut mengajarkan bahwa keseimbangan alam adalah titipan yang harus dijaga bersama.
Hari ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan melalui peringatan Hari Tumor Otak Sedunia. Sebuah pengingat bahwa di balik kemajuan ilmu pengetahuan, masih banyak perjuangan yang harus ditempuh untuk menghadapi berbagai penyakit yang mengancam kehidupan manusia.
Sementara itu, Hari Aksi Internasional untuk Gajah di Kebun Binatang mengajak dunia menaruh perhatian pada kesejahteraan satwa, terutama gajah, makhluk agung yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari sejarah dan kebudayaan manusia.
Begitulah 8 Juni menyapa kita. Menghadirkan kisah tentang pemimpin, lautan, kesehatan, dan kepedulian terhadap sesama penghuni bumi. Dari setiap peristiwa dan peringatan, selalu ada pelajaran yang dapat dipetik: bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang menghargai sejarah, menjaga alam, serta menumbuhkan empati kepada semua makhluk ciptaan Tuhan.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda:
Hari Senin mentari berseri,
Burung bernyanyi di ranting jati.
Mari awali hari dengan hati bersih,
Menjemput berkah sepanjang hari.
Dari ruang-ruang sejarah dan peringatan dunia, perjalanan kita pagi ini berlanjut ke sebuah peristiwa organisasi yang menandai berakhirnya satu amanah dan dimulainya babak baru perjalanan insan pers di Sulawesi Selatan.
Ahad pagi, 7 Juni 2026, suasana Aula Kantor PWI di Jalan Maccini Sawah Nomor 12 Makassar terasa berbeda. Setelah melalui rangkaian panjang persiapan dan pelaksanaan konferensi, Zulkifli Gani Ottoh secara resmi membubarkan Panitia Pelaksana Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan.
Pembubaran tersebut menjadi penanda berakhirnya sebuah proses organisasi yang sukses melahirkan kepemimpinan baru. Konferensi yang berlangsung di Graha Pena Fajar Makassar pada 2 Juni 2026 lalu menetapkan H. Suwardi Thahir sebagai Ketua PWI Sulsel dan Dr. H. Dahlan Abubakar sebagai Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP), melalui suasana kekeluargaan yang diselesaikan dengan musyawarah mufakat.
Dengan penuh rasa syukur, Zulkifli mengungkapkan bahwa amanah yang diberikan Ketua Umum PWI Pusat kepadanya sebagai Pelaksana Tugas Ketua PWI Sulsel berhasil dituntaskan lebih cepat dari target. Jika mandat tersebut diberikan untuk jangka waktu enam bulan, maka dalam kurun sekitar tiga bulan seluruh tahapan konferensi berhasil diselesaikan hingga melahirkan kepengurusan baru periode 2026–2031.
“Keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kebersamaan, dukungan, dan kerja sama yang terjalin erat di antara kita semua,” ujarnya di hadapan para peserta rapat pembubaran panitia.
Di hadapan para senior, Dewan Kehormatan, sesepuh organisasi, serta seluruh panitia, Zulkifli juga berpamitan untuk kembali menjalankan tugas organisasi di tingkat nasional. Dari Makassar, ia dijadwalkan kembali ke Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Bengkulu guna mendampingi agenda organisasi serupa bersama tim PWI Pusat.
Menurutnya, seluruh proses konferensi menjadi bukti bahwa organisasi yang berjalan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga mampu melahirkan keputusan yang diterima bersama. Kini, tongkat estafet berada di tangan kepengurusan baru untuk menyusun formasi organisasi yang kuat, representatif, dan mampu merangkul seluruh potensi yang dimiliki PWI Sulawesi Selatan.
Di balik suksesnya konferensi tersebut, tersimpan pula beragam pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Dinamika organisasi, keterbatasan dukungan anggaran, munculnya aksi demonstrasi, hingga berbagai komentar miring yang tidak selalu sejalan dengan fakta di lapangan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang harus dilalui bersama.
Namun, seluruh tantangan itu tidak pernah memadamkan semangat panitia untuk menuntaskan amanah. Justru dari berbagai ujian itulah lahir tekad dan kebersamaan yang akhirnya berhasil menghadirkan nakhoda baru bagi PWI Sulawesi Selatan untuk lima tahun mendatang.
Menutup sambutannya, Zulkifli mengingatkan bahwa berakhirnya masa kepanitiaan bukan berarti berakhir pula pengabdian kepada organisasi. “Tugas kita sebagai panitia memang telah selesai, tetapi pengabdian kepada organisasi tidak pernah berakhir. Mari terus memberikan pikiran, tenaga, dan karya terbaik untuk kemajuan PWI Sulawesi Selatan,” harapnya.
Sesaat kemudian, tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Sebuah tanda bahwa satu babak telah dituntaskan dengan baik, dan lembaran baru perjalanan PWI Sulawesi Selatan kini siap dibuka. Dari ruang organisasi, langkah pagi membawa kita menuju dunia kampus, tempat semangat pengabdian dan kemanusiaan sedang dipupuk melalui proses belajar yang nyata.
Mentari pagi baru saja menapaki langit Samata ketika puluhan mahasiswa berseragam lapangan mulai memadati halaman Kampus UIN Alauddin Makassar di Jalan H.M. Yasin Limpo, Kabupaten Gowa. Sebanyak 90 anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kompi Fakultas Dakwah dan Komunikasi mengikuti latihan rutin yang menjadi bagian dari proses pembentukan karakter, disiplin, dan keterampilan kemanusiaan.
Mereka adalah mahasiswa Semester VI Program Studi Kesejahteraan Sosial, calon-calon pekerja sosial yang kelak akan hadir di tengah masyarakat, terutama pada saat-saat paling sulit ketika bencana datang tanpa diundang.
Di bawah arahan instruktur utama, H. Syakhruddin DN, para peserta tidak hanya dilatih ketangkasan fisik, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai manajemen kebencanaan secara menyeluruh. Mulai dari mitigasi dan kesiapsiagaan sebelum bencana, penanganan pada masa tanggap darurat, hingga proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana.
Bagi para mahasiswa tersebut, latihan bukan sekadar rutinitas organisasi. Di dalamnya tumbuh nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas sosial, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama. Sebab kelak, sebagai pekerja sosial profesional, mereka dituntut bukan hanya memahami persoalan sosial masyarakat, tetapi juga mampu hadir memberikan perlindungan, pendampingan, dan harapan bagi para penyintas yang terdampak bencana.
Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap berbagai ancaman bencana, kehadiran generasi muda yang terlatih, tangguh, dan berjiwa kemanusiaan menjadi harapan yang tak ternilai bagi masa depan bangsa.
Sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menyimak setiap kabar, kisah, dan mozaik kehidupan yang kami hadirkan. Insya Allah, esok hari kita akan kembali bersua dalam suasana yang penuh riang gembira, membawa beragam informasi, inspirasi, serta peristiwa menarik yang layak untuk Anda ketahui.
Semoga hari yang tersisa dapat dijalani dengan hati yang lapang, langkah yang ringan, dan keberkahan yang senantiasa menyertai setiap ikhtiar.
Sebagai penutup, izinkan kami menghadirkan sebuah pantun:
Lancar kaji karena diulang,
Ilmu bertambah sepanjang masa.
Jika umur masih terbentang,
Kita bersua di hari yang sama.
Selamat beristirahat dan menikmati waktu bersama keluarga. Sampai jumpa pada edisi berikutnya.
Salam hangat Syakhruddin Tagana

