SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi Selasa, 12 Mei 2026, udara Kota Makassar masih menyimpan embun ketika langkah-langkah mahasiswa mulai memenuhi Ruang HM Amir Said, lantai dasar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
]Di ruangan itu, gagasan-gagasan besar tentang dunia, perang, dakwah, dan masa depan Islam dipertemukan dalam sebuah kuliah tamu yang menghadirkan tokoh internasional, KH Muh Syamsi Ali.
Tema yang diangkat terasa berat sekaligus menggugah: “Dampak Geopolitik Konflik USA–Israel–Iran, Tantangan Dakwah dan Masa Depan Islam di Barat.” Namun pagi itu, suasana akademik tidak berjalan kaku. Ia mengalir seperti percakapan panjang tentang dunia yang sedang berubah arah.
Acara diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan mahasiswa Semester VI Prodi KPI, Fachrul Reza. Suara tilawah yang menggema di ruangan seakan menjadi penanda bahwa diskusi tentang geopolitik dunia tetap harus berpijak pada nilai-nilai langit.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prof. Dr. Abd. Rasyid Masri, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas kehadiran seorang putra bangsa yang telah lama menorehkan kiprah dakwah di negeri Paman Sam.
Ia memperkenalkan KH Syamsi Ali sebagai penggagas Ika Nusantara Foundation, tokoh Muslim Indonesia di New York, sekaligus mantan santri Gombara Makassar yang tetap menyimpan jejak kerinduannya pada kampung halaman.
Kehadiran KH Syamsi Ali didampingi Andi Bady Sommeng. Pertemuan itu juga dihadiri sekitar sepuluh profesor, para wakil dekan, ketua jurusan, pengurus lembaga, serta mahasiswa yang tampak antusias mengikuti setiap uraian.
Dengan gaya tenang namun tajam, KH Syamsi Ali membuka pembahasannya dengan cerita sederhana. Baru malam sebelumnya ia tiba dari New York setelah menempuh perjalanan sekitar 24 jam. Tetapi pagi harinya, ia sudah menikmati semilir Pantai Losari dan mencicipi kue baroncong, kuliner yang menurutnya selalu menghadirkan rasa rindu pada Makassar.
“Sudah 29 tahun saya tinggal di Amerika Serikat, tetapi suasana seperti ini tetap menghadirkan kerinduan,” ungkapnya, disambut senyum para peserta.
Dari cerita ringan itu, pembahasan kemudian bergerak memasuki wilayah yang jauh lebih serius. Ia menguraikan bahwa dakwah tidak cukup hanya bermodal semangat. Dakwah, katanya, harus bertemu dengan kemampuan komunikasi, penguasaan bahasa asing, serta pemahaman terhadap medan sosial tempat dakwah itu dijalankan.
“Bukan hanya menguasai bahasa, tetapi juga harus menguasai lapangan,” ujarnya.
Dalam membedah konflik global antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, KH Syamsi Ali mengaitkannya dengan kisah penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Ketika Allah menciptakan Nabi Adam, malaikat mempertanyakan mengapa manusia diciptakan, padahal kelak akan membawa pertumpahan darah dan kerusakan di muka bumi.
Menurutnya, ayat itu seperti cermin sejarah manusia yang terus berulang hingga hari ini. Dunia modern, kata dia, sedang menyaksikan luka kemanusiaan di Gaza dan Palestina, ketika perang dan penghancuran menjadi tontonan sehari-hari di layar-layar dunia.
Ia menyinggung besarnya biaya konflik global. Dalam perang Amerika di Irak, misalnya, miliaran dolar habis hanya dalam hitungan hari. Konflik yang terus berlarut itu, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi dan kapitalisme global.
“Amerika adalah produsen senjata. Senjata-senjata lama harus digunakan, lalu diproduksi lagi teknologi yang baru,” katanya.
Meski dikenal sebagai negara adidaya, menurut KH Syamsi Ali, Amerika Serikat dalam sejarah panjang peperangannya tidak selalu memenangkan pertempuran, mulai dari Vietnam hingga Afghanistan. Namun pengaruh politiknya tetap mendominasi dunia.
Ia juga menilai munculnya Iran sebagai kekuatan regional perlahan mengubah keseimbangan global. Momentum itu, menurutnya, dapat membuka peluang lahirnya tatanan dunia baru yang lebih seimbang secara ekonomi maupun politik.
Dalam perspektif sejarah, ia menjelaskan bahwa setiap negara Muslim memiliki kebanggaan dan kepentingannya sendiri. Iran dengan warisan Persia, Turki dengan kejayaan Ottoman, serta Arab Saudi dengan kekuatan ekonominya. Karena itulah, dunia Islam sering kali sulit bersatu penuh dalam menghadapi konflik global.
“Semua punya kepentingan nasional masing-masing,” tuturnya.
Namun di akhir paparannya, KH Syamsi Ali mengajak umat Islam untuk tidak hanya sibuk membaca peta politik dunia, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
“Kalau umat ini mau kuat, maka kuatkan dulu ikatan spiritual dengan Allah. Persoalannya, sering kali kita tidak mampu merealisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari,” katanya penuh penekanan.
Kuliah tamu itu kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Mahasiswa dan dosen silih berganti mengajukan pertanyaan tentang masa depan dakwah Islam di Barat, konflik Timur Tengah, hingga tantangan generasi muda Muslim menghadapi perubahan dunia.
Menjelang siang, pertemuan diakhiri dengan foto bersama, penyerahan cendera mata, dan santap siang dalam suasana akrab. Di luar ruangan, matahari Makassar semakin tinggi. Tetapi dari ruang diskusi pagi itu, para peserta pulang membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar catatan kuliah: kesadaran bahwa dunia sedang berubah, dan dakwah harus mampu berjalan seiring perubahan zaman.


