SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jejak Waktu di Pintu Pagi di pagi Senin, 4 Mei 2026. Pagi itu datang seperti biasa. Matahari tetap terbit dari ufuk timur, burung-burung tetap bernyanyi di ranting kehidupan, dan manusia kembali berjalan mengejar harinya.
Namun bagi seorang kakek, hari ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender. Ia adalah penanda. Sebuah titik kecil yang diam-diam menyimpan getar sejarah keluarga.
Hari ini, cucu pertama kami, AlKhalila Alyani Hamdy, Alya yang mungil itu, menapakkan kaki untuk pertama kali di dunia pengabdian dan tanggung jawab.
Bank BRI menjadi tempat awal ia belajar membaca kehidupan yang sesungguhnya. Tempat ia mulai mengenal arti disiplin, kepercayaan, dan perjuangan menjemput masa depan.
Di balik senyum yang ikut mengembang pagi ini, ada haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Waktu ternyata berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ibunya, Lisnawaty Syakhruddin, masih berada dalam kandungan.
Masih jelas terbayang perjalanan panjang di tanah rantau Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Di negeri orang itu, kehidupan dibangun dengan kesederhanaan dan harapan.
Hari-hari dilalui dengan peluh, doa, dan tawa kecil keluarga muda yang percaya bahwa masa depan selalu bisa diperjuangkan. Lalu waktu membawa langkah ke Makassar.
Kota yang menjadi saksi tumbuhnya cita-cita, karier, dan perjalanan rumah tangga. Di kota inilah ijab kabul dilangsungkan. Putri kami dipersunting Hamdy Malkan, putra almarhum Malkan Amin.
Dua keluarga dipertemukan takdir, lalu melahirkan generasi baru yang kini mulai berdiri sendiri menantang zaman. Dan kini, anak kecil yang dahulu digendong dengan penuh kasih itu telah tumbuh dewasa.
Alya mulai menata masa depannya sendiri. Di sampingnya, sang adik Nabil Rayyan Hamdy juga telah menamatkan sekolah dan bersiap memasuki dunia kuliah. Begitu singkat perjalanan hidup manusia.
Baru terasa kemarin menjadi ayah dan ibu muda, kini perlahan belajar menjadi kakek dan nenek yang menyaksikan cucu-cucu mulai mengejar mimpi mereka.
Sebagai seorang kakek, kebahagiaan hari ini tentu tak mampu disembunyikan. Ada rasa syukur yang mengalir lirih di dalam dada. Namun bersama syukur itu, hadir pula sebuah kesadaran yang diam-diam mengetuk hati: usia manusia terus bergerak menuju senjanya.
Jika kehidupan diibaratkan matahari, maka mungkin kini langkah kami telah mendekati waktu ashar. Tidak lagi berada di pagi yang panjang, tetapi juga belum sepenuhnya tenggelam di ufuk petang.
Di samping isteri tercinta, Hj. Nurlia Donding Dg Puji, perjalanan panjang itu terasa begitu indah untuk dikenang. Kami pernah muda, pernah berlari mengejar impian, pernah jatuh dan bangkit, pernah menangis diam-diam demi anak-anak.
Dan hari ini, kami menikmati buah dari perjalanan itu: melihat generasi baru tumbuh dengan harapan yang lebih baik. Waktu memang tidak pernah berhenti. Generasi tua perlahan akan berpamitan, sementara generasi muda bangkit memikul tanggung jawab kehidupan.
Begitulah hukum semesta berjalan. Namun ada satu hal yang membuat hati tetap tenang: kehidupan tidak benar-benar berakhir selama nilai-nilai kebaikan terus diwariskan.
Maka pagi ini bukan tentang perpisahan dengan usia muda. Ini adalah pesta kecil penuh syukur. Sebab seorang cucu telah mulai berjalan menjemput masa depannya, sementara seorang kakek dan nenek berdiri di belakangnya dengan mata yang berkaca-kaca namun hati yang penuh bahagia.
Indonesia tanah airku, di sanalah kami pernah berdiri sebagai anak-anak bangsa yang muda. Dan di tanah yang sama pula, hari ini kami berdiri sebagai kakek dan nenek yang berbahagia menyaksikan estafet kehidupan terus menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Makassar, Senin 4 Mei 2026
Buat Cucunda : Khalila Alyani Hamdy
