SYAKHRUDDINNEWS.COM – Subuh masih menyisakan dinginnya ketika langkah-langkah jamaah perlahan memenuhi saf Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82, Makassar.
Senin, 2 Maret 2026, menjadi saksi hadirnya tausiyah Ramadan subuh ke-12 yang disampaikan oleh Ustaz Prof. Dr. H. Muh. Yusuf, M.Ag. Suasana hening, khusyuk, dan sarat kerinduan akan nasihat yang menyejukkan.
Dengan suara tenang namun penuh daya, Prof. Yusuf membuka ceramahnya dengan sebuah kisah sederhana, tetapi menggugah kesadaran terdalam: sebuah pertanyaan di zaman Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, bagaimana cara beriman yang sebenar-benarnya?”
Pertanyaan itu dijawab Baginda Nabi dengan kalimat singkat namun mengandung samudra makna:
“Katakanlah, aku beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh.”
Bukan sekadar ucapan, bukan pula ritual semata. Iman, kata beliau, adalah kesungguhan hati yang melahirkan keteguhan sikap dan ketulusan amal.
Jamaah diajak menoleh jauh ke belakang, ke masa ketika Nabi Adam AS pertama kali diturunkan ke bumi. Dalam keterasingan dan keharuan, Nabi Adam memandang ke arah ‘Arasy, dan di sana tertulis kalimat agung:
Lā ilāha illallāh, Muhammadur Rasūlullāh.
Sebuah isyarat bahwa meski Nabi Muhammad SAW hadir sebagai nabi terakhir secara lahiriah, namun namanya telah lebih dahulu terpatri di langit keabadian.
Ia telah tertulis sebelum sejarah manusia dimulai, sebelum bumi mengenal waktu.
Lebih jauh, Prof. Yusuf mengingatkan peristiwa primordial saat ruh manusia belum ditiupkan ke dalam jasad. Kala itu Allah bertanya:
“Alastu birabbikum?” — Bukankah Aku Tuhanmu?
Dan seluruh ruh menjawab serempak:
“Balā syahidnā.” — Betul, kami bersaksi.”
Sebuah ikrar tauhid yang telah tertanam sejak sebelum lahir. Karena itulah, Ramadan menjadi momentum untuk kembali meneguhkan janji tersebut, menjaga istiqamah, memelihara iman, dan membersihkan hati.
“Jangan biarkan diri kita terperangkap dalam bujuk rayu iblis,” pesan Prof. Yusuf lembut namun tegas. “Mereka senantiasa mencari pengikut untuk menemani di neraka kelak. Maka Ramadan adalah benteng terbaik untuk memperkuat iman dan melatih ketakwaan.”
Ceramah subuh itu berakhir dalam suasana teduh. Tak ada sorak, hanya keheningan yang sarat renungan.
Sebelum jamaah beranjak, pengurus masjid mengajak seluruh hadirin dan penceramah untuk berfoto bersama, sebuah penanda sederhana atas perjumpaan subuh yang penuh berkah.
Di antara sisa embun pagi dan langit yang perlahan memerah, tausiyah itu meninggalkan jejak: mengingatkan bahwa iman bukan sekadar warisan, melainkan perjuangan dari arasy hingga ke relung hati terdalam (sdn)