SYAKHRUDDINNEWS.COM – Alhamdulillah, Kita kembali dipertemukan dengan Jumat mubarak, Jumat pertama di bulan Februari. Pagi yang datang membawa kesejukan doa, seolah waktu memberi isyarat: berhentilah sejenak, rapikan niat, luruskan langkah.
Di hari yang dimuliakan ini, kota bergerak dengan ritme yang lebih pelan. Ada Jumat bersih, Jumat ibadah, Jumat olahraga, atau sekadar Jumat menata diri.
Namun satu panggilan yang tak boleh terlewat, ketika jarum jam mendekati pukul 11.30 Wita, langkah hendaknya diarahkan ke masjid, menyatu dalam shaf, merunduk bersama di hadapan-Nya.
Untuk sahabat yang sedang terbaring sakit, kita titipkan doa agar lekas pulih dan kembali menjemput hari-hari dengan senyum.
Dan bagi kita yang masih dianugerahi kesehatan serta umur yang berkah, Jumat ini adalah pengingat: mensucikan diri, menundukkan ego, dan berserah sepenuhnya kepada Yang Maha Menggenggam Hidup.
Pagi di Makassar seolah menyiapkan napas baru.
Lapangan Karebosi, yang biasanya menjadi ruang berlari dan bercengkerama, Jumat, 6 Februari 2026, akan menjadi saksi pergeseran arah pengabdian. Di bawah langit kota dan tiupan angin yang akrab, mutasi jabatan kembali mengetuk pintu birokrasi Pemerintah Kota Makassar.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan rencana itu dengan nada tenang namun pasti. Kamis siang, di Balaikota yang tak pernah benar-benar sunyi dari urusan rakyat, ia memastikan: pelantikan para camat akan digelar pukul sembilan pagi, tepat di jantung kota, Tribun Lapangan Karebosi, Jalan Jenderal Ahmad Yani.
Di balik jadwal dan jam yang disebut singkat, tersimpan kisah panjang tentang tanggung jawab dan perjalanan karier. Makassar, dengan lima belas kecamatannya, bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah mozaik kehidupan, tempat para camat menjadi wajah pertama negara bagi warganya.
Saat ini, Rappocini dipimpin M. Aminuddin, Panakkukang oleh M. Ari Fadli, dan Manggala oleh Andi Eldi Indra Malka. Nama-nama lain pun berbaris dalam ingatan birokrasi kota:
Andi Akhmad Muhajir di Bontoala, Juliaman di Biringkanaya, Emil Yudianto di Tamalate, Ikbal di Tamalanrea, Husni Mubarak di Makassar, Irdam Pandita di Mamajang, Aswin Kertapati Harun di Mariso, Ramli Lallo di Tallo, Amanda Syahwal di di Ujung Tanah, Maruddin di Wajo, Andi Husni di Ujung Pandang, hingga Andi Asdhar di Sangkarrang.
Di sisi lain kehidupan, negeri ini kembali diuji; Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi menyentuh tubuh Direktorat Jenderal Pajak serta Bea dan Cukai.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebutnya sebagai terapi kejut, sebuah hentakan agar kesadaran bangkit dari kelengahan. KPK mengamankan uang tunai bernilai miliaran rupiah dan logam mulia seberat tiga kilogram. Angka-angka itu dingin, namun maknanya panas: tentang amanah yang tergelincir, tentang kepercayaan yang harus ditebus kembali dengan kerja bersih dan hati jujur.
Harapan juga menyala dari ladang-ladang desa.
Presiden terpilih Prabowo Subianto menggulirkan gagasan besar: 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih.
Bukan sekadar koperasi di atas kertas, melainkan denyut ekonomi yang hidup, dengan truk pengangkut hasil panen, cold storage untuk menjaga mutu, dan apotek rakyat yang dekat dengan kebutuhan warga.
Di Desa Randegan Wetan, Majalengka, suara Presiden menggema sederhana namun tegas: tak boleh lagi hasil panen petani berhenti di sawah, terhenti sebelum sampai ke pasar. Desa harus kuat, agar negeri berdiri tegak.
Dari desa, kita menengadah ke atap rumah-rumah rakyat.
Gagasan gentengisasi nasional bukan hanya soal keindahan, tetapi tentang kesehatan, identitas, dan martabat ruang hidup.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengingatkan bahwa seng dan asbes bukan sekadar persoalan bahan, melainkan cermin lemahnya standar hunian.
Arsitektur, katanya, menyimpan ingatan kolektif. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi wajah kebudayaan. Genteng—atau material lokal lain adalah cara bangsa ini merawat keindahan sekaligus keberlanjutan.
Di Senayan, wacana reformasi Polri kembali mengemuka.
Anggota Komisi III DPR RI dari PKB, Abdullah, menegaskan bahwa reformasi tak boleh dipersempit sekadar soal struktur.
Reformasi adalah perjalanan panjang, membangun integritas, profesionalisme, dan kepercayaan publik. Bukan soal memindahkan lembaga, melainkan menegakkan nilai.
Namun di balik semua kebijakan besar dan wacana kenegaraan, ada kisah kecil yang mengguncang nurani.
Seorang cleaning service berdiri dengan mata basah. Ia bercerita tentang anaknya Daeng Lia, yang melahirkan melalui operasi sesar di RS Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa. Tanpa BPJS, tanpa daya tawar. Angka Rp20 juta menjadi tembok yang menghalangi kepulangan.
Tangisnya pecah di hadapan dosen dan rekan-rekannya.
Anaknya tak diizinkan pulang sebelum biaya itu ditebus.
Dan di situlah kemanusiaan menemukan jalannya.
Dari tangan ke tangan, dari hati ke hati, para dosen dan pegawai mengumpulkan dana. Bukan karena berlebih, tetapi karena tak tega membiarkan seorang ibu muda tertahan oleh angka, sementara nyawa telah diperjuangkan.
Begitulah Mozaik Kehidupan hari ini.
Ada kuasa, ada kebijakan, ada skandal, ada harapan.
Dan selalu ada kisah kecil yang mengajarkan kita arti menjadi manusia.
Jumat ini, semoga hati kita lebih lapang, iman kita lebih terang, dan langkah kita sedikit lebih jujur dari kemarin.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam kita mampu merunduk dan peduli.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana

