SYAKHRUDDIN NEWS.COM – Selamat datang, Februari. Bulan yang datang tanpa banyak bicara, tapi selalu terasa berbeda. Ia singkat, hanya 28 hari, seperti seseorang yang tak lama singgah, namun meninggalkan kesan yang panjang.
Di awal Februari ini, kita seperti diajak membuka lembar baru, dengan rasa yang campur-aduk: ada semangat, ada harap, ada cemas yang samar. Dan di balik hitungan hari yang terbatas itu, kalender diam-diam menyimpan pesan besar:
Ramadan 1447 H sudah menunggu di tikungan waktu, diperkirakan datang pada 18 Februari 2026. Maka Minggu ini, 1 Februari, bukan sekadar pergantian bulan. Ia seperti pintu gerbang kecil menuju perjalanan batin yang lebih luas.
Pagi ini, sebagian orang akan memilih Car Free Day, berjalan santai di jalanan yang biasanya penuh deru kendaraan. Ada yang membawa anak, ada yang menggandeng pasangan, ada yang sendirian, tapi tetap menikmati keramaian.
Ada yang olahraga, ada yang sekadar mencari udara yang lebih bersih. Ada pula yang datang bukan untuk sehat, tapi untuk “terlihat sehat”.
Dan ya—hari ini juga hari yang ditunggu-tunggu banyak orang: hari gajian.
Bagi PNS, pensiunan, dan mereka yang hidup di ritme lembaga-lembaga resmi, tanggal 1 sering kali terasa seperti hujan pertama setelah kemarau.
Sejenak, wajah-wajah menjadi lebih ringan. Troli belanja seperti lebih mudah didorong. Dompet seperti punya napas baru. Namun, di tengah bahagia kecil itu, Mozaik Kehidupan ingin berbisik pelan: “Gunakan kebahagiaan ini bukan hanya untuk memanjakan diri, tapi juga untuk menyiapkan diri.”
Karena menjelang Ramadan, kita tahu pemandangan yang selalu berulang:ziarah kubur, kerja bakti masjid, karpet digelar, pengeras suara diperiksa, dan pasar Ramadan mulai dirancang seperti panggung yang akan ramai dalam beberapa hari ke depan.
Ramadan selalu membawa hikmah dan entah kenapa, ia selalu berhasil membuat kita merasa “lebih manusia”. Namun hidup tidak hanya tentang persiapan ibadah dan daftar belanja. Di negeri ini, ada kabar-kabar lain yang datang seperti ombak: kadang kecil, kadang menghantam keras.
Emas yang Berkilau, Tapi Ada Luka di Dalamnya
Di sudut lain negeri, kabar datang dari ruang-ruang serius: Kementerian ESDM buka suara tentang temuan PPATK, dugaan penambangan emas tanpa izin dan distribusi emas ilegal di berbagai wilayah Indonesia. Angkanya tidak main-main.
Perputaran dananya disebut nyaris menyentuh Rp 1.000 triliun—tepatnya Rp 992 triliun.
Bayangkan… Di saat banyak orang menghitung sisa gaji sampai akhir bulan, ada arus uang sebesar itu mengalir dalam gelap. Emas yang seharusnya menjadi simbol kemakmuran, justru berubah menjadi cerita tentang ketidakberesan: tentang lubang-lubang tanah yang digali tanpa izin, tentang alam yang terkoyak, tentang tangan-tangan yang mungkin tak pernah merasa bersalah.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan pihaknya masih meminta konfirmasi kepada PPATK.
Kita menunggu kelanjutannya.
Karena negeri ini sering begini: yang kecil cepat terlihat, yang besar kadang lama terbuka.
Makan Bergizi Gratis, Tapi Ada 117 Anak yang Menahan Sakit
Program yang seharusnya membawa senyum, malah meninggalkan kepanikan.
Di SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah, sebanyak 117 siswa mengalami gejala dugaan keracunan dari Makan Bergizi Gratis (MBG). Dan 46 di antaranya harus menjalani rawat inap.
Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, sudah menyampaikan permohonan maaf.
Tapi kita paham, permintaan maaf tidak menghapus rasa mual yang menggulung di perut anak-anak.
Permintaan maaf tidak menghapus malam-malam cemas orang tua yang menunggu di rumah sakit. Permintaan maaf tidak menggantikan tubuh kecil yang lemas, mata yang sayu, dan rasa takut yang tak bisa dijelaskan.
Makanan adalah hal sederhana tapi ketika ia salah, dampaknya bisa besar. Karena yang masuk ke tubuh anak-anak bukan hanya nasi dan lauk… melainkan juga kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali retak, sulit kembali utuh.
Kabar Duka: Seorang Wakil Gubernur Berpulang ; Lalu pagi ini, kabar duka menyapa dengan kalimat yang tak pernah kita inginkan: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mayjen (Purn) Salim S Mengga, Wakil Gubernur Sulawesi Barat, meninggal dunia pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 06.40 Wita, di RS Siloam Makassar.
Jenazah akan diterbangkan ke Jakarta, disemayamkan di rumah putri pertamanya di Cilandak, dan rencananya dimakamkan di TMP Kalibata. Kematian selalu mengingatkan kita pada satu hal: sekuat apa pun pangkat, setinggi apa pun jabatan,kita semua akan tiba di titik yang sama: pulang. Dan yang tersisa dari seseorang, bukan sekadar gelar di depan nama, melainkan jejak yang ditinggalkan di hati manusia lain.
Jokowi di Makassar: Orasi, Protes, dan Riuh Politik
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, akhirnya tiba di Makassar pada Jumat malam (30/1/2026) pukul 21.00 Wita. Ia hadir untuk agenda orasi politik di penutupan Rakernas I PSI, Sabtu 31 Januari 2026.
Kedatangannya terjadi setelah aksi “Tolak Geng Solo” meninggalkan venue Rakernas di Hotel Claro. Ada massa, ada pengawalan aparat, ada suara-suara yang menyala seperti bara kecil.
Ini adalah kunjungan pertama Jokowi ke Makassar sejak tidak lagi menjabat presiden pada 20 Oktober 2024. Dan catatan angka pun kembali disebut:
selama 10 tahun di Istana, Jokowi sudah 33 kali ke Sulsel dan 12 kali ke Makassar.
Seperti biasa, politik selalu punya dua wajah: yang bersorak, dan yang menolak.
Di hadapan peserta Rakernas, Jokowi menekankan hal yang ia anggap kunci kemenangan partai: struktur hingga ke desa dan RT/RW. Ia mengulang-ulang pesan itu, seperti orang tua yang tidak lelah mengingatkan anaknya agar tidak lupa jalan pulang.
“Struktur harus sampai ke desa, sampai ke RT/RW. Kita memerlukan mesin besar karena target PSI juga besar,” katanya. Dan ia menyebut target penyelesaian penguatan struktur itu harus rampung akhir 2026.
Di sini kita melihat:politik bukan hanya soal panggung dan pidato. Ia soal mesin yang bekerja diam-diam di bawah: di lorong-lorong kampung, di pertemuan kecil, di obrolan warung, di pintu ke pintu.
IHSG Anjlok, Pejabat Mundur: Pasar pun Punya Rasa Takut ; Di sisi lain, dunia ekonomi sedang gelisah. IHSG anjlok dua hari berturut-turut pada Rabu dan Kamis pekan ini, dan efeknya seperti domino: pengunduran diri pejabat kunci di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK.
Setidaknya lima pejabat tinggi disebut mundur dalam waktu berdekatan. Rentetan itu diawali oleh pengunduran diri Direktur Utama BEI, Iman Rachman, pada Jumat (30/1/2026). Pasar modal memang tidak punya wajah, tapi ia punya “perasaan”.
Ia bisa panik.
Ia bisa ragu.
Dan ketika kepercayaan runtuh, angka-angka jatuh seperti daun kering.
Bagi sebagian orang, ini sekadar grafik turun-naik. Tapi bagi pelaku usaha, investor kecil, bahkan pekerja yang dana pensiunnya terkait pasar, ini bisa berarti:masa depan yang tiba-tiba terasa goyah.
Februari yang Singkat, Tapi Jangan Kita Jalani dengan Singkat
Saudaraku…Februari hanya 28 hari. Ia tidak panjang. Tapi hidup juga sering begitu: tidak panjang, tidak pasti, dan tidak selalu bisa kita ulang.
Maka mari jalani hari ini dengan rasa syukur, tapi juga dengan kesadaran.
Jika gaji turun, sisihkan untuk kebaikan.
Jika tubuh sehat, gunakan untuk ibadah dan kerja yang jujur.
Jika hati sedang lapang, jangan lupa mendoakan mereka yang sedang sempit.
Dan jika Ramadan sudah di depan mata,
mari bersiap bukan hanya dengan menu sahur dan daftar belanja,
tetapi dengan memperbaiki diri:
lebih sabar, lebih peka, lebih ringan tangan untuk membantu.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat berlari,
melainkan siapa yang paling ikhlas saat berjalan…
dan paling siap saat dipanggil pulang.
Selamat datang Februari, Semoga ia menjadi bulan yang singkat, tetapi penuh berkah (by. Syakhruddin Tagana).
