SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi kembali menyapa. Dan seperti janji yang tak pernah diucap, Mozaik Kehidupan hadir lagi di ruang Anda, tanpa mengetuk pintu, tanpa menuntut jawaban. Ia hanya ingin singgah sebentar, menyelinap di sela-sela rutinitas pagi yang padat.
Barangkali dibaca sambil menyeruput kopi, barangkali hanya dipindai sekilas, atau cukup diberi tanda like, sebuah isyarat sunyi bahwa pesan telah sampai.
Bagi penulisnya, Mozaik Kehidupan bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah bukti bahwa di usia purnabakti, tubuh boleh melambat, namun pikiran tetap berkelana. Bahwa di usia senja, tangan masih diberi amanah untuk menulis, sebagai pelipur lara, pengikat silaturahmi, sekaligus penanda bahwa masa lalu yang aktif masih hidup dalam kenangan.
Inilah pengembaraan kecil antara hobi dan persahabatan, antara ingatan dan kenyataan. Seperti pepatah lama: sekali merangkai dayung, dua tiga pula terlampaui.
Topik kehidupan sejatinya tak pernah habis. Dari yang ringan hingga yang berat, dari tawa sampai duka. Hanya saja, keterbatasan merangkai kata kerap membuat kisah-kisah itu harus menunggu giliran.
Maka, mari kita sepakat menjadi penikmat. Menikmati setiap tulisan sebagai ikhtiar sederhana, siapa tahu bernilai ibadah, menjadi cahaya kecil di usia yang kian menua, Salamaki.
Seorang sahabat pernah bertanya,
“Bagaimana mungkin Mozaik Kehidupan hadir nyaris setiap pagi?”
Jawabannya sederhana.
Setiap momen yang melintas di ingatan, setiap kabar hangat dari dunia maya, segera disimpandi catatan kecil dalam telepon genggam. Catatan itu lalu diramu perlahan. Malam hari, sebelum mata terpejam, kepingan-kepingan mozaik telah tersusun rapi di blog syakhruddin.com.
Dan pagi hari, selepas salat Subuh, ia berangkat menemui Anda, seperti secangkir kopi hangat yang terlalu sayang jika dilewatkan.
Ngomong-ngomong soal kopi, ternyata sains pun ikut nimbrung.
Sebuah penelitian dari Tulane University, Amerika Serikat, mengungkap bahwa waktu minum kopi ternyata berpengaruh pada usia.
Bukan sekadar berapa cangkir yang diteguk, melainkan kapan ia diminum. Dari lebih 40 ribu partisipan, mereka yang rutin minum kopi di pagi hari tercatat memiliki risiko kematian dini 16 persen lebih rendah, bahkan 31 persen lebih kecil akibat penyakit jantung.
Pagi rupanya waktu paling bersahabat bagi kopi. Sore atau malam, alih-alih menyehatkan, justru bisa mengacaukan tidur dan dari sanalah banyak masalah kesehatan bermula. Maka, silakan nikmati kopi pagi Anda hari ini. Perlahan, dengan rasa syukur.
Namun hidup tak melulu tentang kopi dan pagi yang tenang.
Di Melonguane, Kepulauan Talaud, pagi-pagi warga justru dibangunkan oleh kabar duka.
Seorang guru SMK menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oknum anggota TNI AL. Peristiwa itu berawal dari niat baik: menegur dan merekam keributan. Niat yang berujung luka.
Kabar menyebar cepat. Amarah warga memuncak. Ratusan orang mengepung Markas Lanal Melonguane, menuntut keadilan. Ketegangan sempat meninggi, sebelum akhirnya diredam lewat mediasi tokoh adat dan pemerintah daerah. Enam oknum telah diamankan, korban dirawat, dan masyarakat berharap hukum ditegakkan dengan adil dan transparan.
Di sini, mozaik memperlihatkan sisi lain kehidupan: luka sosial yang tak bisa disembuhkan hanya dengan permintaan maaf.
Dari darat, kita menyeberang ke laut.
Di perairan Selayar, seorang nelayan bernama Sarepe (45) akhirnya ditemukan setelah sempat dilaporkan hilang saat melaut.
Pagi itu, sekitar pukul 07.50 Wita, tubuhnya ditemukan di perairan Pulau Latondu. Pencarian melibatkan banyak tangan: Basarnas, TNI AL, Polairud, semua berpacu dengan waktu dan harapan.
Laut memang selalu memberi dua hal: rezeki dan risiko. Dan nelayan, dengan segala kesederhanaannya, memahami itu sejak pertama kali mereka belajar membaca angin.
Adu domba, bagi sebagian orang, selalu berkonotasi negatif. Tapi tidak di Garut, Jawa Barat.
Di sana, adu domba justru dinanti. Bukan untuk memecah belah, melainkan untuk merayakan tradisi. Ketika tembang khas Tanah Pasundan mengalun dari pengeras suara, orang-orang tahu: ada hajatan.
Suasana berubah menjadi ingar-bingar, apalagi jika pesinden dan kelompok musik turut hadir.
Lapangan-lapangan di Ranca Bango, Tarogong, Ngamplang, Cilawu, Cipanas, Cikuray, hingga Leles menjadi saksi. Penonton berdatangan, pedagang menangguk rezeki, dan kabar perhelatan menyebar—uniknya—hanya dari mulut ke mulut.
Tradisi hidup, tanpa perlu undangan resmi. Dari keramaian lokal, kita melangkah ke duka global.
Selanjutnya kami infokan, Tiga jurnalis Palestina syahid dalam serangan udara penjajah ‘Israel’ di Gaza. Kendaraan yang mereka tumpangi dihantam saat meliput kamp pengungsi di dekat Jalan Netzarim.
Mereka adalah Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim—nama-nama yang kini tercatat sebagai saksi kebenaran yang gugur di medan liputan. Shaat dikenal sebagai kontributor AFP, jurnalis foto dan video.
Mereka pergi dengan kamera di tangan, bukan senjata. Dunia pun kembali diingatkan: menyampaikan kebenaran sering kali menuntut harga yang mahal.
Di tengah beratnya kabar, sejarah memberi kita jeda untuk menunduk hormat.
Jangan lupakan sejarah ; Tak banyak yang tahu, penggagas upacara pengibaran bendera pusaka dan pendiri Paskibraka adalah seorang Habib: Habib Muhammad bin Husein al-Mutahar, atau Husein Mutahar, kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916.
Ia pejuang, pendidik, dan pemikir. Di masa agresi Belanda, ia menyelamatkan bendera pusaka dengan cara menyobeknya menjadi dua, lalu menjahitnya kembali ketika keadaan aman. Dari gagasannya lahir konsep pemuda-pemudi lintas daerah sebagai pengibar benderasimbol persatuan bangsa.
Kelak, konsep itu disempurnakan menjadi formasi sakral 17-8-45, tradisi yang terus hidup hingga kini.
Dan sebagai penutup, mari kita beri ruang untuk senyum.
Di sebuah pesta, seorang pensiunan tua diminta naik ke panggung. Dengan tongkat dan langkah pelan, ia menjawab pertanyaan dengan keluguan yang cerdas.
Ia ke dokter agar dokter bisa hidup. Ke apotek agar apoteker bertahan. Obatnya dibuang karena ia juga harus hidup.
Tawa pun pecah.
Lalu ia menambahkan, sambil tersenyum,
“Saya harus aktif di grup WhatsApp. Kalau tidak, teman-teman mengira saya sudah mati, dan admin menghapus saya.”
Humor sederhana. Tapi sarat makna.
Semua orang ingin hidup. Semua ingin diingat.
Dan bukankah Mozaik Kehidupan juga tentang itu?
Selamat menikmati hari Selasa yang penuh kenangan (sdn)
Alhamdulillah Mozaik Kehidupan telah sampai
ke Ranca Bango, Tarogong, Ngamplang, Cilawu, Cipanas, Cikuray, hingga Leles
Tetap Semangat Pagiiii