SYAKHRUDDINNEWS.COM – Selamat pagi, Sahabat Mozaik Kehidupan. Kita kembali berjumpa di sebuah pagi Sabtu—pagi yang tenang, ketika waktu seakan memberi ruang bagi kita untuk bernapas sejenak, merenung, dan tentu saja: menulis.
Kolom kecil ini lahir dari satu keyakinan sederhana: bahwa usia bukan penghalang untuk terus menorehkan kata. Menulis adalah cara paling jujur untuk melawan lupa.
Mereka yang berhenti menulis, perlahan akan tersisih dari ingatan sejarah. Bukankah Daeng Pamatte, tokoh legendaris Kerajaan Gowa, telah mengajarkan itu kepada kita?
Melalui Huruf Lontarak Makassar, ia bukan hanya menulis aksara, tetapi menitipkan peradaban tentang kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan tradisi surat-menyurat antar Kerajaan yang melampaui zamannya. Dari sana kita bercermin: menulis adalah warisan.
Kemarin, kisah kemanusiaan kembali mengetuk nurani kita. Tim SAR Gabungan resmi mengakhiri pencarian korban kecelakaan pesawat (Avion Transfort Regional) ATR 42 -500 di Gunung Bulusaraung setelah jasad korban ke-10 berhasil ditemukan.
Pagi ini, para relawan akhirnya bisa beristirahat, menyandarkan lelah setelah sepekan berjibaku dengan hujan lebat, kabut pekat, dan licinnya bibir jurang.
Di antara tugas menolong, mereka juga harus menyelamatkan diri sendiri. Dari mereka, kita belajar tentang keikhlasan berkorban tanpa pamrih, tentang kemanusiaan yang bekerja dalam senyap.
Namun di sisi lain kehidupan, ironi masih berdiri tegak. Kita masih menyaksikan betapa korupsi menggerogoti negeri, memaksa sebagian warga bertahan hidup dari bantuan sesaat—BLT, PKH, dan program-program yang kerap hanya cukup untuk hari ini, bukan esok. Mozaik kehidupan memang tak pernah satu warna.
Di sudut lain negeri ini, keadilan sedang diuji. Seorang dosen, yang seharusnya menjadi pelita ilmu dan moral, justru duduk di kursi terdakwa. Wirawan Jamhuri, Dosen di NTB dituntut 10 tahun penjara atas kasus pencabulan terhadap enam mahasiswinya. Ruang sidang tertutup, tetapi luka para korban terbuka lebar. Kekuasaan yang disalahgunakan selalu meninggalkan jejak panjang berupa trauma dan kehilangan kepercayaan.
Sementara itu, air bah kembali merendam Petamburan. Rumah-rumah terendam hingga 60 sentimeter, gang-gang sempit berubah menjadi aliran keruh. Aktivitas lumpuh, harapan tertahan.
Di langit selatan Nusantara, Bibit Siklon Tropis 91S mulai menampakkan ancaman, hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi mengintai NTB, Bali, NTT, hingga pesisir selatan Jawa. Alam kembali mengingatkan kita untuk waspada dan rendah hati.
Di tengah hiruk-pikuk itu, negara tetap berupaya merajut pemulihan. Reformasi Polri masih digodok, menyesuaikan diri dengan tuntutan KUHAP baru.
Sementara itu, Puluhan WNI korban perdagangan orang akhirnya kembali ke tanah air, disambut dengan rehabilitasi, pendampingan, dan harapan untuk memulai ulang hidup yang sempat direnggut.
Bahkan dari lantai bursa, ada secercah kabar baik: rupiah menguat, sentimen global membaik, dan optimisme perlahan tumbuh. Seperti hidup itu sendiri, selalu ada naik dan turun, selalu ada celah cahaya di antara kabut.
Di sudut lain dunia, Syifa—gadis 20 tahun asal Banten Jawa Barat, sedang menapaki persimpangan identitas. Dari Warga Negara Indonesia, ia memilih jalan sunyi menjadi bagian dari Army National Guard Amerika Serikat.
Sebuah keputusan besar yang tak sekadar soal seragam dan sumpah militer, tetapi juga tentang arah hidup, pengorbanan, dan rasa rindu pada tanah kelahiran. Sang ibu, Safitri, hanya bisa menguatkan dari kejauhan, menyadari bahwa cinta orang tua kerap diuji oleh pilihan anak yang melampaui batas negara.
Sementara di panggung politik nasional, Rusdi Masse akhirnya menutup satu bab dan membuka lembaran baru. Mundur dari Partai Nasdem, ia melangkah menuju PSI—partai berlambang gajah yang kini menjadi rumah politik baru. Di balik dinamika kekuasaan, keputusan ini mengingatkan kita bahwa politik, seperti hidup, adalah rangkaian pilihan yang tak selalu mudah, namun harus dijalani dengan penuh kesadaran dan keberanian.
Dan di jalanan kota, kisah kecil kembali berbicara. Lapak-lapak pedagang kaki lima di Jalan Nikel, Rappocini, dibongkar petugas. Tak ada sorotan kamera, tak ada pernyataan resmi yang panjang, hanya wajah-wajah pasrah yang kembali mengajarkan kita bahwa roda kehidupan sering berputar tanpa kompromi, terutama bagi mereka yang hidup di pinggirannya.
Begitulah mozaik hari ini: tentang pilihan, perpisahan, dan perjuangan dalam berbagai rupa. Dari negeri seberang, gedung parlemen, hingga trotoar kota. Semoga serpihan kisah ini mengingatkan kita untuk tetap manusiawi, saling memahami, dan tak lelah menaruh empati di tengah hiruk-pikuk zaman.
Inilah serpihan-serpihan peristiwa di sekitar kita. Mari kita nikmati Sabtu pagi ini dengan kesadaran penuh—menyimak alam, merawat empati, dan membaca mozaik kehidupan sembari menyeruput secangkir kopi (sdn)
Selamat bermalam minggu, Tetap waspada, tetap manusiawi.
Salam Taksim : Syakhruddin Tagana

Masya Allah memberikan inspirasi pagi bagi kami sebagai pemuda untuk lebih berkembang…………sehat selalu
Teruslah maju dan jangan lupa menulis