SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini, Jumat yang teduh, 23 Januari 2026, bertepatan dengan 4 Sya’ban 1447 Hijriah, kita kembali bersua. Waktu seakan melangkah pelan, namun pasti, seperti langkah kaki menuju gerbang Ramadan yang kian dekat.
Bulan suci itu bukan semata soal menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang kesiapan hati: sejauh mana kita menata diri sebelum rahmat-Nya benar-benar mengetuk pintu.
Di sudut Kota Makassar, tanda-tanda kesiapan itu mulai terasa. Masjid Besar Al-Abrar di Jalan Sultan Alauddin No. 82 tak hanya bersolek pada dinding dan lantainya, tetapi juga pada barisan manusianya. Ketua Masjid, H. Hilal Kadir, SE Dg Lau, mengajak pengurus, petugas, dan remaja masjid duduk bersama, menyatukan niat, meluruskan langkah.
Amanah pun dibagi. Suhardi Dg Rurung, S.Sos.I dipercaya mengoordinasikan kebersihan lantai dua, pengaturan sound system, hingga memastikan lantunan azan Jumat menggema jernih, tanpa cela. Sebab rumah ibadah yang nyaman selalu menjadi cermin kesiapan jiwa para penghuninya.
Lewat Mozaik Kehidupan hari ini, penulis mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas syukur. Karena hidup yang bahagia bukan tentang bebas dari masalah, melainkan tentang kesiapan kita menyambut apa pun yang datang.
Namun hidup, seperti biasa, tak selalu berjalan mulus.
Di tengah penyelesaian naskah, layar gawai mendadak sunyi. Jaringan internet terputus. Sunyi digital melanda. Telkom Indonesia mengumumkan adanya gangguan nasional.
Ikon sinyal tampak “tersambung”, tetapi dunia maya terasa jauh tak tergapai. Data hilang, transaksi tertahan, dan naskah yang hampir rampung, lenyap sekejap.Barangkali ini cara semesta mengingatkan: jangan sepenuhnya menggantungkan hidup pada satu jalur.
Di tempat lain, keluhan mengalir. Pengguna IndiHome di berbagai daerah mengaku tak bisa mengakses internet sejak pagi. Ada yang menyalahkan hujan, ada pula yang terpaksa berbagi jaringan ponsel demi menuntaskan pekerjaan. Gangguan ini mengajarkan satu hal sederhana: ketergantungan yang berlebihan selalu menyisakan kerentanan.
Sementara itu, di ruang-ruang berita nasional, kabar lain bergema. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kebocoran pipa migas di Sumatra, pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia yang membuat aliran gas ke Blok Rokan terhenti.
Potensi kehilangan produksi minyak mentah diperkirakan mencapai dua juta barel. Musibah kecil, kata menteri, namun dampaknya tak sesederhana itu.
Dari sektor lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Aliran modal asing keluar, kebutuhan valas korporasi yang meningkat, serta ketidakpastian global membuat mata uang kita limbung. Ekonomi, seperti kehidupan, ternyata juga rapuh jika bergantung pada terlalu banyak variabel di luar kendali.
Namun di atas segala kegaduhan itu, ada kisah yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih berat. Di lereng-lereng terjal Gunung Bulusaraung, Pangkep, tim SAR gabungan terus berjibaku. Jurang dalam, bebatuan licin, dan cuaca yang tak selalu bersahabat menjadi teman setia para pejuang kemanusiaan.
Satu demi satu korban pesawat ATR 42-500 ditemukan. Ada yang telah kembali ke pangkuan keluarga, ada yang masih menunggu identifikasi, ada pula yang ditemukan tak lagi utuh.
Hingga Kamis, delapan korban berhasil dievakuasi. Proses jetring dilakukan dengan taruhan tenaga dan nyali. Setiap tarikan tali adalah doa, setiap langkah adalah harapan—agar semua korban bisa pulang dengan layak.
Di Jakarta, suasana duka menyelimuti Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Tangis pecah saat penghormatan terakhir untuk Deden Maulana. Namun di balik air mata, terselip rasa terima kasih—atas kehadiran negara, relawan, dan para penyelamat yang tak kenal lelah. Dalam duka, mereka tidak sendiri.
Sementara itu, sejenak kita tengok bagaimana untuk menjadi seorang Penulis ! Di ruang sebuah kelas kecil riuh oleh tawa getir.
“Sulitkah menulis?” tanyaku.
“Suliiittt…,” jawab mereka serempak.
Keluhan pun mengalir: sulit memulai, miskin kata, bingung merangkai kalimat, ruwet menentukan sudut pandang. Seperti kelas-kelas lain yang kutangani hampir tiga dekade ini bahkan dengan peserta bergelar profesor doktor—daftarnya selalu panjang.
Akar masalahnya sederhana namun dalam: sejak sekolah dasar, kreativitas kita perlahan dikekang. Kita jarang diajak bernalar, berdebat, dan berbeda pendapat. Imajinasi pun mati perlahan. Pikiran kita menjadi sekrup kecil dari mesin besar bernama sistem pendidikan.
“Lalu apa solusinya?” tanya seorang peserta.
“Langgar larangan,” jawabku singkat. “Dan gunakan otak kanan.”
Menulis adalah urusan kreatif, seperti melukis atau bermusik. Ia menuntut kebebasan. Tanpa kebebasan, kata-kata akan selalu terasa berat.
Pagi ini, Mozaik Kehidupan mengajak kita merenung: tentang kesiapan menyambut Ramadan, tentang kewaspadaan dalam keseharian, tentang rapuhnya ketergantungan pada teknologi, dan tentang kemanusiaan yang diuji di lereng-lereng sunyi Bulusaraung.
Semoga dari serpihan kisah ini, kita belajar lebih siap, lebih peduli, dan lebih bersyukur, menjalani hidup dengan hati yang terjaga. Selamat menjalani Jumat yang penuh berkah.
Salam Takzim : Syakhruddin Tagana

