SYAKHRUDDINNES.COM – Selamat pagi, Di pertengahan Januari ini, hidup kembali menata mozaiknya—kadang berupa kabar bahagia, kadang kegelisahan, kadang harapan yang dititipkan pada waktu. Mozaik Kehidupan pagi ini hadir mengajak kita menunduk sejenak, membaca tanda-tanda iman, kemanusiaan, dan perjalanan bangsa.
Pagi itu, dari sebuah rumah sederhana di Jalan Sabutung No. 123, Cambaya, Kecamatan Ujung Tanah, terucap lafaz ijab kabul yang khidmat. H. Zainuddin, jamaah setia Masjid Besar Al-Abrar yang pernah mengemban amanah sebagai bendahara masjid di era kepemimpinan Ir. H. Mathori, memulai babak baru kehidupannya.
Di usia yang matang oleh pengalaman, ia mempersunting Riana binti Haji Baali, disaksikan jamaah, keluarga, dan doa-doa yang mengalir tulus, dengan sebentuk cincin dan uang tunai Rp30juta dibayar tunai.
Ketua Masjid Besar Al-Abrar, H. Hilal Kadir, SE, Daeng Lau, memimpin rombongan jamaah mengantar langkah sakral itu, dengan saksi Sariun Said, ST. Bukan sekadar pernikahan, tetapi pengingat bahwa cinta dan iman tidak mengenal batas usia, ia tumbuh ketika hati siap menerima amanah baru.
Insya Allah, pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1447 H), pasangan ini akan menggelar syukuran di kediamannya di Jalan Bontoduri I, Makassar. Sebuah peristiwa kecil yang mengajarkan bahwa hidup selalu menyediakan ruang bagi kebahagiaan, selama manusia mau bersyukur dan melangkah dengan niat baik.
Namun, pada saat yang sama, mozaik dunia memperlihatkan sisi lain yang lebih getir. Dari perairan Gabon, Afrika Tengah, kabar mencemaskan datang. Empat warga negara Indonesia dilaporkan diculik bajak laut saat berada di atas kapal ikan IB FISH 7.
Tujuh mil laut dari Equata, kapal itu diserang tiga pria bersenjata. Selain empat WNI, lima warga negara China turut menjadi korban. Enam awak kapal lainnya—WNI, WN China, dan WN Burkina Faso—dilaporkan selamat.
Di balik angka-angka itu, ada wajah-wajah yang menunggu di rumah. Ada keluarga yang menggenggam doa dalam senyap. Di sanalah negara diuji—bukan hanya oleh jarak, tetapi oleh tanggung jawab untuk menghadirkan rasa aman bagi anak-anak bangsanya.
Di tanah air, perhatian publik tertuju ke Ibu Kota Nusantara. Senin malam, 12 Januari 2026, Presiden RI Prabowo Subianto untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di IKN.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Presiden memberikan sejumlah koreksi desain dan fungsi pembangunan. Pesannya jelas: percepatan dan penyempurnaan.
Fasilitas legislatif dan yudikatif diminta menjadi prioritas agar IKN benar-benar siap menjadi ibu kota politik pada 2028. Di sini, pembangunan tak hanya soal beton dan baja, melainkan tentang keseriusan menata masa depan dan keadilan dalam satu ruang bernama negara.
Dari Papua Pegunungan, sebuah video memperlihatkan realitas keamanan yang belum sepenuhnya teduh. Kelompok separatis bersenjata OPM menembaki pesawat sipil yang mereka klaim membawa Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat melintas di udara Yahukimo, Selasa, 13 Januari 2026. Padahal, Wapres dalam kunjungannya menggunakan pesawat Hercules TNI AU.
Enam orang penyerang, dipimpin Akar Heluka, tampak dalam video yang dirilis juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom. Pesawat itu tetap melintas dan menjauh. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa di beberapa sudut negeri, damai masih harus diperjuangkan dengan kesabaran dan kehadiran negara.
Di tengah kabar besar dan tegang itu, kehidupan rakyat kecil tetap berjalan. Di halaman rumah, di teras sempit, di balkon-balkon kota, orang-orang menanam cabai.
Disusun rapi, estetik, bertingkat—bukan sekadar soal panen, tetapi tentang harapan. Tentang merawat kehidupan dari hal paling sederhana. Pot berwarna senada, rak kayu bertingkat, bedengan mini—semuanya menjadi simbol ketekunan dan kemandirian.
Menanam cabai adalah cara rakyat bertahan, menghias hidup, sekaligus memastikan dapur tetap mengepul. Di sanalah keindahan dan daya hidup bertemu dalam kesederhanaan.
Di tengah derasnya arus informasi, publik juga diingatkan agar tidak mudah percaya kabar palsu. Klaim bahwa Presiden ke-7 RI Joko Widodo telah meninggal duniadipastikan sebagai hoaks. Jokowi saat ini berada di Surakarta sebagai mantan presiden pasca-berakhirnya masa jabatan Oktober 2024. Di era digital, kewaspadaan adalah bagian dari literasi dan tanggung jawab bersama.
Sementara itu, dunia internasional kembali bergetar. Panglima Militer Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, menyatakan kesiapan penuh menghadapi kemungkinan perang. Iran mengklaim telah belajar dari konflik dengan Israel pada 2025.
Serangan balasan, tekanan Amerika Serikat, dan ancaman sanksi keras kembali memperlihatkan rapuhnya perdamaian global.
Di antara cinta yang dipersatukan, penculikan yang mencemaskan, pembangunan yang dikebut, konflik yang membayang, hingga cabai yang tumbuh rapi di halaman rumah—hidup terus menyusun mozaiknya sendiri.
Dan kita, pagi ini, belajar satu hal: bahwa iman, kewaspadaan, dan harapan adalah bekal paling setia dalam menapaki hari. Selamat menjalani Kamis dengan hati yang teduh (salam syakhruddin tagana)
