SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini, para pembaca Mozaik Kehidupan yang kami banggakan, kita kembali menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Jumat hadir bukan hanya sebagai penanda waktu, tetapi sebagai ruang hening untuk merenung—tentang iman, kemanusiaan, dan perjalanan hidup yang kerap berliku.
Hari ini, Mozaik Kehidupan secara khusus mengajak kita menelusuri makna Isra Mikraj, sebuah perjalanan agung yang bukan sekadar kisah monumental dalam sejarah Islam, tetapi juga cermin bagi kehidupan manusia sepanjang zaman.
Isra Mikraj adalah peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad ﷺ. Isra—perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Mikraj—kenaikan Rasulullah ﷺ menembus lapis-lapis langit hingga Sidratul Muntaha, bertemu langsung dengan Allah SWT. Namun lebih dari sekadar perjalanan fisik, Isra Mikraj adalah perjalanan ruhani, perjalanan jiwa yang sarat makna dan penguatan.
Peristiwa agung ini terjadi bukan pada masa kemenangan, melainkan di saat Rasulullah ﷺ berada pada titik paling sunyi dalam hidupnya. Sejarah mencatatnya sebagai ‘Aamul Huzni—Tahun Kesedihan. Istri tercinta, Khadijah RA, wafat. Paman sekaligus pelindung dakwah, Abu Thalib, menyusul pergi. Penolakan, caci maki, bahkan kekerasan dari kaum Quraisy semakin menjadi. Dalam kondisi luka, letih, dan penuh duka, Allah justru “mengundang” Rasul-Nya untuk naik, untuk dikuatkan, untuk diteguhkan.
Seolah langit berbisik: setelah kepedihan, ada pengangkatan derajat.
Puncak dari Isra Mikraj adalah diwajibkannya salat. Awalnya lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima, dengan pahala tetap setara lima puluh. Salat menjadi satu-satunya ibadah yang diterima langsung dari Allah, tanpa perantara. Ia bukan sekadar ritual, melainkan tali penghubung antara hamba dan Tuhannya—penyangga iman di tengah badai kehidupan.
Barangkali, di tengah libur panjang Jumat hingga Minggu ini, kita patut bertanya jujur pada diri sendiri:
sudah sejauh mana salat benar-benar kita jaga, atau justru sering kita lalaikan?
Sebab hidup, sebagaimana Isra Mikraj, tidak selalu mendatar. Kadang manusia harus menunduk dalam kesedihan sebelum diangkat dalam kemuliaan.
Namun, Mozaik Kehidupan juga mencatat bahwa dunia hari ini tak pernah benar-benar sunyi dari kegelisahan. Dari belahan bumi lain, Iran bergolak. Ribuan demonstran ditangkap. Pengadilan dipercepat. Ancaman dan kekerasan berseliweran dalam laporan-laporan media internasional. Sementara di kawasan Timur Tengah, ketegangan geopolitik kembali memanas, dengan peringatan keras dan sikap saling siaga antarnegara.
Di saat yang sama, Indonesia menata masa depan. Presiden RI dijadwalkan melakukan kunjungan ke Inggris, membangun dialog pendidikan tinggi dengan universitas-universitas terbaik dunia. Sebuah ikhtiar agar generasi mendatang tidak hanya kuat secara iman, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan.
Di ruang lain yang lebih dekat dengan denyut masyarakat, layar-layar kecil Zoom menyala pada Kamis pagi, 15 Januari 2026. Para pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) dari berbagai daerah saling menyapa. Ada keterbatasan jaringan, ada daerah yang absen karena bencana, namun semangat kepedulian tak surut. Diskusi mengalir tentang kemandirian organisasi, tentang lansia yang tak boleh ditinggalkan, tentang martabat manusia hingga usia senja.
Sementara itu, di sebuah sekolah di Jambi, seorang guru menjadi korban pengeroyokan siswanya sendiri. Sebuah ironi yang menampar nurani kita bersama: ketika ruang yang seharusnya menjadi tempat menanam akhlak justru ternodai oleh kekerasan. Mediasi diupayakan, namun luka—baik fisik maupun batin—telah terlanjur ada.
Mozaik kehidupan memang tak selalu indah. Ia tersusun dari cahaya dan bayang-bayang, dari doa dan duka, dari langit yang agung dan bumi yang bergejolak.
Sejarah mengajarkan kita melalui sosok Ja’far bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah ﷺ yang paling mirip rupa dan perangainya dengan beliau. Ia syahid di medan Mu’tah, dalam pertempuran heroik yang tak seimbang. Dua sayap yang terpotong diganti Allah dengan dua sayap di surga. Kesedihan Nabi ﷺ berpadu dengan kebanggaan atas pengorbanan sahabatnya.
Dari Isra Mikraj hingga Mu’tah, dari masjid hingga ruang kelas, dari lansia hingga generasi muda—hidup selalu menuntut keteguhan iman dan kemuliaan akhlak.
Maka, Jumat ini, marilah kita kembali menautkan diri pada salat. Sebab siapa yang menjaga salatnya, sejatinya sedang menjaga jiwanya. Dan siapa yang mampu bangkit dari luka, ia tengah menapaki jalannya sendiri menuju mikraj kehidupan.
Selamat menunaikan ibadah Jumat, Selamat menata hati, Karena langit selalu terbuka bagi mereka yang tak lelah mengetuknya (by.syakhruddin tagana)


