SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini, Mozaik Kehidupan kembali menyapa Anda, membawa serpihan kisah tentang manusia, harapan, dan perjalanan waktu. Di usia yang kerap disebut senja, menulis justru menjelma cahaya.
Ia bukan sekadar hobi, melainkan ikhtiar menjaga ingatan tetap hidup. Orang bijak berpesan, ala bisa karena biasadan kebiasaan menulis adalah cara sederhana melawan lupa.
Di pelataran perahu RM Daeng Taba, Takalar, kemarin, tawa para lanjut usia pecah bersahut-sahutan. Anggota LLI Sulawesi Selatan merayakan kebersamaan dalam undian arisan perdana.
Nama Opa H. Daud Biantong, SH dan Ny. Nadiah Manaf, S.Sos mengalir dari pengeras suara, disambut tepuk tangan hangat dan senyum penuh syukur. Hari itu pula, dua wajah baru, Yenny Pakambanan dan Masri Maccu, menyatakan diri bergabung. Di usia yang tak lagi muda, mereka memilih tetap melangkah, sebab kebahagiaan sering lahir dari kebersamaan yang dirawat.
Namun, di sudut negeri yang lain, alam menulis kisahnya dengan nada duka. Dua pekan pertama Januari 2026, sejumlah wilayah di Jawa Barat dilanda bencana. Banjir, cuaca ekstrem, dan longsor silih berganti. Ribuan bangunan terendam, puluhan ribu jiwa terdampak, ratusan terpaksa mengungsi.
Di balik angka-angka itu, tersimpan cerita tentang keluarga yang bertahan, rumah ibadah dan sekolah yang ikut terendam, ketabahan yang diuji, serta solidaritas yang kembali dicari.
Sementara itu, ruang digital pun tak luput dari kegelisahan. Layanan kecerdasan buatan Grok di platform X diblokir sementara di Indonesia. Langkah ini diambil demi melindungi martabat manusia, terutama perempuan dan anak-anak, dari praktik deepfake seksual non-konsensual. Di sini, teknologi diuji bukan pada kecanggihannya, melainkan pada etikanya: apakah ia memuliakan manusia, atau justru melukainya.
Dari Gedung Pemuda Gereja Katedral Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan pesan yang menggugah nurani. Bangsa ini, katanya, membutuhkan pemimpin, bukan penguasa. Pemimpin memberi teladan, berani berkorban, dan menempatkan kepentingan bersama di atas segalanya.
Pesan itu sederhana, namun terasa mendesak, sebuah pengingat di awal tahun bahwa moralitas dan integritas adalah fondasi utama kepemimpinan.
Di sela hiruk-pikuk itu, budaya pun berbisik lembut lewat nama. Nama-nama perempuan klasik Indonesia kembali mengemuka, Rengganis, Dhiajeng, Sundari, Arum, nama yang bukan sekadar rangkaian bunyi, melainkan doa.
Setiap nama menyimpan harapan orang tua, merawat makna lintas generasi, dan mengingatkan kita bahwa identitas adalah warisan rasa.
Sementara itu, di tingkat akar rumput, dinamika sosial terus bergerak. Pengurus Shelter Warga Kelurahan Pa’Baeng-Baeng menggelar pertemuan dialog menyusul pengunduran diri Ketua Shelter Warga, Achmad Bahari.
Para Ketua ORW terpilih, diprakarsai Ketua ORW X Suhardi Dg Nojeng, menginisiasi dialog terbuka bersama tiga pilar: Lurah Pa’Baeng-Baeng Ibardarmadi, Bhabinkamtibmas Brigpol Andi Ruil Syar, dan Babinsa Koptu Ramli, serta sejumlah pengurus shelter warga.
Setelah mendengar masukan, saran, dan pandangan dari para Ketua ORW, Lurah Ibardarmadi memutuskan untuk melanjutkan pembahasan melalui pertemuan resmi di Kantor Kelurahan Pa’Baeng-Baeng, Jalan Andi Tonro II No. 18 pada hari Selasa 20 Januari 2026.
Pertemuan tersebut akan menentukan apakah Sekretaris Shelter Warga ditetapkan sebagai ketua atau sebagai pelaksana tugas hingga akhir masa jabatan.“Semua ini akan kita konsolidasikan bersama”.
Ketua ORW dan ORT cukup berperan sebagai koordinator, sementara pelaksana kegiatan akan direkrut dari mantan pejabat RT yang tidak ikut berkompetisi. Dengan begitu, seluruh potensi di Pa’Baeng-Baeng dapat dimaksimalkan menuju kelurahan yang bermartabat,” ujarnya.
Begitulah mozaik hari ini tersusun: tawa di Takalar, duka di Jawa Barat, kegelisahan di ruang digital, pesan moral dari para pemuka, doa yang hidup dalam nama, hingga denyut musyawarah warga di Pa’Baeng-Baeng.
Semua berpaut dalam satu kesimpulan sederhana: hidup adalah rangkaian cerita. Dan selama kita mau menulis, mendengar, serta peduli, cerita itu akan selalu menemukan maknanya (by.syakhruddin tagana)


Cuma satu kata untuk negeri kita tercinta : K O N O H A
Mantaplah