SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi ini, hidup kembali memperlihatkan wajahnya yang berlapis. Ada tawa sederhana di meja makan, ada kabar besar dari panggung dunia, ada apresiasi atas prestasi, ada duka dari negeri jauh, ada kegelisahan hukum, dan ada air mata yang jatuh bersama hujan dan angin di kampung-kampung kita.
Semua hadir bersamaan, membentuk mozaik kehidupan, tak selalu rapi, namun jujur apa adanya.
Di sebuah rumah makan sederhana, RM Dg. Taba di Galesong, Takalar, para usia lanjut hari ini dirayakan dengan cara yang bersahaja namun bermakna.
Empat anggota Lembaga Lanjut Usia Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan merayakan hari lahir mereka dalam satu bingkai kebersamaan: Dra. St. Jumriati Sambe, M.Si (1 Januari), penulis sendiri (5 Januari), Syarif (13 Januari), serta Dra. Hj. Dharvawaty AS. Gani, M.Si (17 Januari).
Tak ada pesta mewah. Yang ada hanyalah senyum, doa, dan cerita yang mengalir dari masa lalu ke masa kini. Meski tujuh nama sempat direncanakan, tiga di antaranya memilih merayakan ulang tahun bersama keluarga masing-masing, termasuk didalamnya, Nurul Arifa Baga dari Gorontalo.
Namun, inti perayaan tetap sama: usia boleh menua, tetapi semangat untuk terus bergerak dan berkontribusi tak pernah padam. Di balik rambut yang memutih, masih ada langkah yang lincah dan pikiran yang hidup, bahkan ada yang sudah hidup menjanda.
Dari meja arisan itu, pandangan kita melayang jauh ke Jenewa. Indonesia, negeri yang dibangun dari keberagaman, resmi terpilih sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2026, bertepatan dengan dua dekade berdirinya lembaga tersebut. Penetapan ini dilakukan pada 8 Januari 2026 dalam pertemuan resmi Dewan HAM PBB.
Di balik capaian diplomatik itu, ada kerja sunyi para diplomat, ada strategi yang dirajut rapi, dan ada harapan agar suara kemanusiaan Indonesia kian terdengar di dunia. Sebuah pengingat bahwa bangsa ini tak hanya hadir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk nilai-nilai universal tentang martabat manusia.
Masih tentang penghargaan, dari dalam negeri kita menyaksikan langkah Presiden Prabowo Subianto yang memberi kenaikan pangkat luar biasa kepada prajurit TNI peraih medali emas SEA Games 2025. Sebuah keputusan yang dinilai tepat, karena prestasi tak seharusnya dibiarkan berlalu tanpa pengakuan negara.
Nama Rizki Juniansyah, lifter TNI yang memecahkan rekor dunia, menjadi simbol bahwa disiplin, pengorbanan, dan ketekunan layak dibalas dengan penghormatan. Di titik ini, negara hadir bukan hanya sebagai pengatur, tetapi sebagai pemberi semangat.
Namun, dunia tak selalu menyuguhkan kabar baik. Dari Iran, gelombang kerusuhan telah merenggut lebih dari 500 nyawa. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, di baliknya ada keluarga yang kehilangan, ada masa depan yang terhenti. Ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat kian memanas, menyisakan kecemasan global tentang kemanusiaan yang kembali menjadi korban konflik politik.
Di tanah air, perjalanan demokrasi dan pemerintahan juga menyimpan catatan kelam. Tiga nama Menteri Agama tercatat pernah tersandung kasus korupsi.
Fakta ini menjadi pengingat pahit bahwa jabatan tinggi dan teriakan gema NKRI harga mati tak otomatis menjamin kebersihan nurani. Kepercayaan publik adalah amanah yang mahal, dan sekali tercoreng, sulit dipulihkan.
Sementara itu, perdebatan tentang moral dan hukum kembali mencuat. Majelis Ulama Indonesia mengkritisi sejumlah pasal dalam KUHP baru, khususnya terkait pemidanaan nikah siri dan poligami.
MUI menegaskan, pencatatan perkawinan penting, namun pendekatan pidana bukanlah jalan terbaik. Edukasi dan kesadaran dinilai lebih manusiawi daripada hukuman.
Dan ketika langit muram menurunkan hujan tanpa kompromi, kehidupan warga kembali diuji. Di Kabupaten Gowa dan Luwu Utara, angin kencang merobek atap-atap rumah, menumbangkan pohon, dan memadamkan listrik.
Di Dusun Bungadidi, seorang ibu rumah tangga bernama Kasmawati harus menerima kenyataan pahit ketika seluruh atap rumahnya terlepas, dengan kerugian puluhan juta rupiah.
Di balik pendataan Tagana Gowa, ada rasa cemas, ada ketabahan, dan ada harapan bahwa uluran tangan akan segera datang. Di saat seperti inilah, solidaritas menjadi bahasa yang paling dimengerti semua orang.
Begitulah hidup hari ini, Antara ulang tahun dan duka, antara prestasi dan tragedi, antara hujan dan harapan. Mozaik kehidupan tak pernah memilih warna, ia hanya meminta kita untuk belajar memaknainya.
Selamat pagi, Semoga hari ini kita tetap menemukan alasan untuk bersyukur, meski dunia tak selalu ramah, salamaki ta-pada salama’ (by.syakhruddin tagana)
