SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hidup sering kali hadir dalam kepingan-kepingan kecil peristiwa. Ia tidak selalu megah, namun selalu menyimpan makna. Akhir pekan ini, kepingan itu berjatuhan satu per satu, di kampung, di ruang pesta, di langit penerbangan, hingga di lereng sunyi sebuah gunung.
Sabtu kemarin, langkah membawa Penulis ke Manongkoki, Kabupaten Takalar. Sebuah acara keluarga berlangsung khidmat: Panaik Leko Lompo, mengantar jujuran untuk calon mempelai pria, cucu dari almarhum Bapak H. Dahlan Dg Nganja, yang akan mempersunting gadis Kalampa.
Mahar yang disebutkan bukan sekadar angka, melainkan simbol kesungguhan: satu stel emas, satu unit mobil Honda RS, sebuah rumah, dan satu hektar sawah dirangkai dalam nilai yang fantastis, nyaris Rp1 miliar. Decak kagum pun tak terelakkan di tengah keluarga besar.
Calon mempelai perempuan dikenal sebagai CEO sebuah travel Umrah dan Haji di Takalar. Maka tak heran, akad nikah kelak akan dilangsungkan di Makkah Al-Mukarramah sebelum memasuki bulan suci Ramadan, sementara resepsi megah direncanakan di Gedung Islamic Center Takalar. Sebuah perjumpaan antara cinta, ikhtiar, dan keyakinan.
Dalam perjalanan pulang, kami singgah di Kampung Timpoppo, Kelurahan Mata Allo, Kecamatan Bajeng. Di sana, keluarga tengah berbahagia atas pernikahan Nur Fadhilah Syarif, S.Tr.Kes dengan Azhar Muammar CH Lanta. Dua hari telah berlalu sejak pesta berlangsung dan baru kali ini, ada kesempatan mengantar kembali undangan. Kehangatan sambutan mengajarkan satu hal sederhana: silaturahmi tak mengenal kata terlambat.
Dua momen itu menjadi pengingat awal Mozaik Kehidupan hari ini: peristiwa perlu dihadiri, dicatat, dan dirawat, agar kelak tak menjadi kenangan indah yang terbuang sayang.
Kini, pesta pernikahan juga menghadirkan fenomena baru: souvenir sebagai pengalaman. Tidak lagi sekadar barang di atas meja, tetapi kenangan yang dirangkai sendiri. Flower bar—tempat tamu memilih helai demi helai bunga untuk dibawa pulang, menjadi simbol kehangatan.
Salah satu penyedia, @_blossomlab, merekam antusiasme tamu lintas usia yang memilih bunga dengan senyum. Bukan soal nilai bunga, tetapi rasa yang dibawa pulang.
Dari bumi pesta, pandangan kita beralih ke langit. Indonesia akan menyambut dua maskapai baru: Air Borneo yang memperkuat konektivitas Kalimantan, dan Mukhtara Air yang fokus melayani penerbangan haji dan umrah.
Mukhtara Air, berbasis di Arab Saudi di bawah Manazil Al Mukhtara Company Holding, sejatinya telah menjejak langit Indonesia sejak 28 November 2025, saat Airbus A230 mendarat di Halim Perdanakusuma. Mobilitas ibadah kian dipermudah, sebuah kabar baik di awal 2026.
Namun kehidupan selalu menghadirkan dua sisi. Saat kabar baik terbang tinggi, berita kelam muncul di tanah: KPK melakukan operasi tangkap tangan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu Kanwil Jakarta Utara. Delapan orang diamankan, uang ratusan juta rupiah dan valuta asing disita. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa integritas adalah harga mati yang tak boleh ditawar.
Di Makassar, dinamika politik turut berdenyut. Mantan Presiden Joko Widodo dijadwalkan hadir dan memberi pengarahan pada Rakernas PSI 2026 akhir Januari. Kehadiran tokoh nasional selalu membawa makna strategis bukan hanya soal politik, tetapi arah dan harapan.
Namun di antara hiruk-pikuk itu, Mozaik Kehidupan mengajak kita berhenti sejenak. Menunduk. Bersyukur.
Di Dusun Malongpong, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, hiduplah Darsum, seorang tunanetra sejak kecil, tinggal di bawah Gunung Padang Salebu. Dengan keterbatasan penglihatan, ia tetap bekerja menyadap nira. Ia telah jatuh dari pohon kelapa 13 kali. Keponakannya, Sarsih, akhirnya melarang: terlalu berbahaya. Percakapan singkat mereka, terekam di sebuah kanal YouTube, justru menggugah nurani.
Darsum mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang kesempurnaan fisik, melainkan keteguhan hati. Sementara kita yang dianugerahi kesehatan sering kali lupa bersyukur, ia terus berjuang dalam gelap, tanpa keluh yang berlebihan.
Begitulah hidup:
di satu sudut ada pesta megah,
di sudut lain ada nira yang menetes pelan;
ada pesawat yang terbang,
ada kaki yang terpeleset dari batang kelapa.
Semua adalah mozaik. Dan tugas kita hanyalah satu: membacanya dengan hati, lalu mensyukurinya dengan rendah diri (by.syakhruddin tagana)
