SYAKHRUDDINNEWS.COM — Pemilihan Ketua Organisasi Rukun Tetangga (ORT) se-Kota Makassar pada Rabu pagi, 3 Desember 2025, berlangsung ramai dan penuh antusiasme.
Namun di balik keriuhan pesta demokrasi tingkat akar rumput ini, tersisa tanya dan kekecewaan dari sejumlah tokoh masyarakat yang selama ini dikenal berpengaruh dan aktif dalam pelayanan sosial di wilayah masing-masing.
Alih-alih keluar sebagai pemenang, beberapa tokoh justru tersisih dengan cara yang dianggap tidak wajar. Dari hasil pemantauan penulis di lapangan dan sejumlah testimoni warga, terdapat sejumlah kejanggalan yang patut dicermati dan menjadi catatan evaluasi bersama.
Indikasi Kejanggalan Pelaksanaan Pemilihan
Berikut poin-poin kejanggalan yang teridentifikasi selama proses dan pasca pemilihan:
1. Lonjakan Data Pemilih Sementara (DPT)
Jumlah pemilih di beberapa wilayah tiba-tiba melonjak drastis. Warga yang diketahui telah lama pindah masih tercantum sebagai pemilih, sehingga memunculkan dugaan ketidakvalidan DPT dan berpotensi merugikan kandidat tertentu.
2. Pejabat Ketua ORT Ikut Berkompetisi
Penjabat sementara Ketua ORT atau panitia yang berwenang dalam persiapan pemilihan diduga terlibat langsung sebagai peserta melalui keluarga dekat seperti adik atau istri. Fenomena ini terlihat jelas melalui spanduk dan kampanye di kanal digital.
3. Distribusi Bantuan PKH Menjelang Pencoblosan
Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) disalurkan dalam intensitas tinggi menjelang pemungutan suara, baik berupa beras, minyak goreng, maupun uang tunai melalui Kantor Pos. Waktu distribusi ini memunculkan tafsir politis di kalangan warga.
4. Bantuan Dikaitkan dengan Pemilihan
Sejumlah penerima mengakui adanya pesan tersirat: apabila memilih calon tertentu maka bantuan akan terus mengalir pada tahun mendatang. Tekanan psikologis semacam ini sangat mempengaruhi dinamika pemilih rentan.
5. Minimnya Pengawasan Panitia
Proses mulai dari pendaftaran, pembagian undangan hingga pencoblosan tidak didampingi pengawasan independen. Situasi ini membuka ruang terjadinya keberpihakan.
6. Upaya menyulitkan Pendukung Kandidat Tertentu
Dukungan warga untuk kandidat tertentu diduga dipersulit melalui alasan administratif, seperti KTP harus dibawa, Kartu Keluarga tidak berbarkot, atau syarat mendadak lainnya yang dinilai tidak relevan.
7. Tokoh Pelayan Masyarakat Justru Tersisih
Tidak sedikit tokoh yang dikenal ramah, aktif melayani, serta memiliki kedekatan emosional dengan warga justru mengalami kekalahan yang sulit dinalar. Fenomena ini menimbulkan kekecewaan luas, terlebih lagi dengan memenangkan Pjs melalui jalur undian dan kemenangan dianggap tidak sah, dengan alasan banyak lobang di kertas suara, yang berdampak terhadap demontrasi di depan Kantor Lurah Pa’Baeng-Baeng.
8. Undian Penentu Pemenang
Di beberapa wilayah, hasil yang berimbang tidak diakhiri dengan pemilihan ulang, melainkan dengan pengundian di kantor kelurahan. Cara ini dianggap tidak memberi kepastian demokratis yang jujur dan adil, sebagian warga menuntut dilakukan pemilihan ulang.
9. Tiga Pilar Tidak Selaras
Warga juga merasakan adanya ketidaksamaan gerak antara tiga pilar kelurahan yaitu Lurah, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, sehingga masyarakat merasa kurang terlindungi dalam proses pemilihan.
10. Munafik dalam Kompetisi
Dalam dinamika sosial, muncul fenomena “bersahabat di depan, menikam dari belakang.” Situasi ini semakin memunculkan luka sosial di tengah masyarakat.
Lahirnya Komunitas Sahabat Seperjuangan Makassar
Kekecewaan kolektif ini tidak berujung pada perpecahan, namun mendorong terbentuknya wadah baru bernama Komunitas Sahabat Seperjuangan Makassar (KSSM).
Komunitas ini digagas oleh Drs. H. Andi Salehuddin Karaeng Gau, seorang tokoh masyarakat yang ingin menyatukan kembali jejaring mantan Ketua RT/RW, kader kemasyarakatan, serta para pendukung yang merasa mengalami ketidakadilan dalam proses pemilihan.
KSSM hadir bukan untuk memelihara luka, tetapi untuk menjaga silaturahmi, membangun solidaritas, serta memastikan kader sosial tetap berdaya dan eksis di tengah masyarakat.
Pemilihan ORT seharusnya menjadi pesta demokrasi tingkat warga yang menjunjung asas jujur, adil, dan riang gembira. Namun bila prosesnya menyimpan banyak kejanggalan dan melukai rasa keadilan, maka refleksi dan koreksi menjadi sangat penting.
Kekalahan bukanlah akhir, tetapi awal untuk bangkit dan memperkuat jejaring sosial dalam wadah baru yang lebih elegan dan dewasa.
Selamat menyambut babak baru, dan mari memperkokoh persatuan dalam Komunitas Sahabat Seperjuangan Makassar.
Karena perjuangan sosial tidak pernah berakhir di bilik suara, ia tetap hidup di hati masyarakat (sdn)
