SYAKHRUDDIN.COM – Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita, Ketua ORT 04 ORW 07, Muhammad Salim Said, SE Dg Ngitung Bin Muhammad Said (58).
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai pribadi yang kalem, bersahabat, dan menjadi ajudan Karaeng Gau sejak 2009. Banyak suka duka yang telah dilalui bersama.
Dalam keseharian, almarhum dikenal sebagai anggota Pandawa 4, bersama lima teman akrabnya, dalam grup warkop “Pandawa Lima”. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Fatmawati Dg Tene, Ketua Posyandu Asoka 6, serta dua orang anak, Fathul dan Fadillah, yang keduanya adalah pegawai Laskar Pelangi di SD Negeri Jongaya.
Kronologis kepergiannya berawal saat mengikuti jamaah sholat Ashar di Masjid Nikmatullah, Jalan Andi Tonro Raya Makassar. Begitu keluar dari masjid, almarhum menyeberang jalan dan dengan nafas tersengal, lalu duduk di bangku penjagaan Sekuriti Sekolah SD Negeri Jongaya Makassar.
Beberapa menit kemudian, almarhum jatuh tersungkur ke depan. Sekuriti sekolah mendatangi masjid untuk memanggil jamaah lain, dan setelah dibalik, ternyata adalah Bapaknya Fathul.
Sekuriti itu lalu ke rumah almarhum untuk menyampaikan kondisinya. Tiba di TKP, bersama anaknya, Fathul, mereka menggotongnya ke Puskesmas Jongaya. Setelah diperiksa oleh petugas jaga di instalasi gawat darurat, petugas mengatakan bahwa “Beliau Sudah Tidak Bernyawa”.
Semula ada niatan untuk membawa ke rumah sakit, namun pertimbangan keluarga mengatakan tidak usah, beliau sudah mendahului kita semua.
Informasi segera beredar di grup, dan banyak sahabat-sahabatnya kaget, karena pagi tadi masih sempat ngopi bareng di Warkop Anas bersama DR. Machmud dan Tim Pandawa, serta Pengurus Masjid Besar Al Abrar. Beliau hanya memesan teh hangat dan nasi kuning dan menikmatinya dengan lahap.
Banyak kenangan yang telah diukir almarhum. Salah satu yang sulit dilupakan oleh Karaeng Gau adalah pada saat pertemuan Raja-Raja sedunia di Kabupaten Bone.
Kala itu, untuk menerobos barikade dari tuan rumah, Karaeng Gau mencopot sebuah lambang kerajaan dan menyematkannya kepada almarhum. Akhirnya, mereka berhasil tiba di panggung utama dan duduk bersama Andi Syamsul Alam dan almarhum Amin Syam.
Sehari sebelum kepergiannya, kami bersama ketua shelter, Achmad Bahari, menerima kunjungan Ibu Hana dari DP3A Makassar, kemudian bersantap siang di rumah makan Mbak Daeng.
Sepulangnya dari sana, bersama ketua shelter, berjalan sembari merangkul bahu sebagai sahabat, lalu singgah sholat dhuhur berjamaah di Masjid Besar Al-Abrar Makassar. Rupanya, itulah kenangan terakhir yang ditinggalkan bersama ketua shelter warga, Achmad Bahari.
Malam ini kami semua berkumpul di rumah duka, di Jalan Andi Tonro II belakang Puskesmas Jongaya, bersama para Ketua ORT dan ORW serta Babinsa Serma Kamaruddin, sembari mengenang kenangan-kenangan indah yang pernah diukir bersamanya.
Selamat jalan, Daeng Ngitung, Doa kami mengiringimu, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun (sdn)



