SYAKHRUDDIN.COM – Pantun tua adalah jenis prosa berirama yang fokus pada penyampaian nasihat dan pelajaran hidup. Tidak seperti pantun anak-anak yang mengisahkan masa kanak-kanak atau pantun muda yang menceritakan pengalaman di masa muda, pantun tua memiliki tujuan untuk menyampaikan nilai-nilai atau nasihat yang patut dipegang teguh.
Ciri-ciri Pantun Tua
Pantun tua memiliki ciri-ciri yang sama dengan pantun pada umumnya, diantaranya:
Setiap bait terdiri dari empat baris.
Tiap baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata.
Dua baris pertama disebut sampiran, yang berfungsi sebagai pengantar, sedangkan dua baris berikutnya adalah isi pantun yang mengandung pesan utama.
Pola rima yang digunakan adalah a-b-a-b.
Fungsi dan Tujuan Pantun Tua
Pembeda utama pantun tua dari jenis pantun lainnya adalah makna dari isi pantunnya.
Pantun tua lebih mementingkan nasihat-nasihat dan pelajaran hidup yang dapat menjadi pedoman bagi orang-orang yang mendengarnya. Nasihat yang terkandung dalam pantun tua sering kali mencakup nilai-nilai moral, etika, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pantun tua berfungsi sebagai media untuk menyampaikan nasihat dan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting oleh masyarakat. Dengan cara yang indah dan terstruktur, pantun tua mampu menyampaikan pesan-pesan yang mendalam secara efektif.
Tujuan utamanya adalah mendidik dan memberikan bimbingan kepada generasi muda, sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh Pantun Tua
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di dalam kubur
Teringat badan tak sembahyang
Pohon di kebun habis berbuah
Disambut masak buah rumbiga
Mohonkan ampun dosa yang sudah
Hendak masuk dalam surga
Mengkudu buahnya pahit
Buah kepayang dingin airnya
Biar ilmu setinggi langit
Kalau tak sembahyang apa gunanya
Bunga kenanga di atas kubur
Pucuk sari pandan Jawa
Apa guna sombong takabur
Rusak hati badan binasa
Sandarkan galah pada pohon
Kayu tersandar berapit dua
Kepada Allah tempat bermohon
Kalau kita sandarkan nyawa
Pangkal berbelit di pohon jarak
Jarak tumbuh tepi serambi
Jangan dibuat dilarang syarak
Itulah perbuatan yang dibenci Nabi
Kera banyak tengah berhimpun
Sandarkan galah pada pohon
Segeralah kita minta ampun
Kepada Allah tempat bermohon
Bendahara datuk seri paduka
Memerintah kota dan negeri
Sengsara masuk dalam neraka
Hendaklah kita ingatkan diri
Sungguh indah pintu dipahat
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan
Batang keranji kalau diukir
Batang nangka dibelah-belah
Seberang janji kalau mungkir
Datang murka daripada Allah
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran pahamkan maknanya
Batang nangka dibelah-belah
Buah pandan jatuh tercebur
Jika datang murka Allah
Remuklah badan dalam kubur
Tiap napas tidaklah kekal
Siapkan bekal menjelang wafat
Tarulah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu manfaat
Colok dipotong dengan sekin
Sekin waja buatan Jawa
Hendaklah diturut dengan yakin
Yakin di hati selamatlah nyawa
Kalau ada jarum yang patah
Jangan disimpan di atas peti
Kalau ada kata yang salah
Jangan disimpan di dalam hati
Kalau ada di kembang baru
Bunga kenanga dikupas jangan
Kalau ada sahabat baru
Sahabat lama dibuang jangan
Pedati menarik muatan
Muatan dikumpul sehingga sarat
Hati-hati memilih teman
Salah bergaul hidupmu sesat
Kalau mau makan sukun
Jangan lupa makan kedondong
Kalau mau hidup rukun
Jangan lupa tolong menolong
Burung pipit burung dara
Berterbangan di pohon cempaka
Banyak teman banyak saudara
Banyak musuh banyak celaka
Jalan-jalan dekat pohon
Tenang ada kuda berlarian
Pada Tuhanlah kita memohon
Agar cita-cita kesampaian
Pantun-pantun tua ini bukan hanya indah dalam penyampaian, tetapi juga kaya akan pesan moral yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Dengan menjaga dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kita dapat terus melestarikan warisan budaya yang berharga ini.
