SYAKHRUDDIN.COM – Pelaksanaan uji coba Standar Operasional Prosedure (SOP) penanganan banjir dan angin puting beliung, yang dilaksanakan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Maros, Sabtu 17 September 2022, telah berlangsung dengan baik dan menjadi arena temu kangen para Tagana se-Sulsel yang setelah dua tahun tak pernah melaksanakan pertemuan karena kasus Copid-19.
Dari pelaksanaan kegiatan simulasi, terdapat beberapa adegan yang tidak sesuai dengan naskah dan pelaksanaan di lapangan.
Dalam skenario pada kegiatan tanggap darurat, dimana anounser acara menyebutkan kondisi darurat, berarti kondisi chaos.
Kenyataan di lapangan “masih ada yang bermain bola” oleh para rekan-rekan dari Ojol yang sehari sebelumnya hadir perwakilan satu orang, dalam kegiatan gladi kotor dan gladi bersih.
Dari pengalaman lapang ini, ke depan perlu di persiapkan dua orang Tagana lokal mendampingi para pemain, sehingga ketika keadaan darurat, para pemain di lapangan langsung mengalami kepanikan, bukan justeru kembali bermain bola lagi.
Demikian halnya dengan para pemain bola, sesungguhnya bukan dari ojol, tapi anak-anak sekolah atau mereka yang bermukim di kawasan KSB.
Bahkan dijanjikan ada “Becak yang ditampilkan” namun sampai hari H tidak terlaksana.
Selain itu, soundsistim sangat menentukan dalam sebuah acara yang sifatnya lapangan luas. Soundsistim tidak menggema, maka perhatian para pemain juga tidak fokus.
Sementara itu, petugas soundtrack dan anounser saling berjauhan, sehingga antara musik dengan naskah yang diucapkan, tidak bersinergi.
Yang lebih membuat suasana makin gaduh adalah mobil-mobil penolong dengan suara sirine yang menggema, memasuki panggung kehormatan dan berputar sebanyak tiga kali, ini di luar skenario, padahal sebenarnya hanya sekali putaran langsung ke posisi pertolongan.
Mungkin terbawa dengan suasana eporia kegiatan, akhirnya mobil-mobil penolong melintas tiga kali di depan panggung utama, membuat segalanya menjadi buyar dari target sasaran,.
Semuanya diluar skenario, karena para pemain, bukan mengikuti arahan seperti yang disampaikan Adox Hermawan, sehari sebelumnya, tetapi membuat gerakan tambahan yang justeru diluar rencana simulasi.
Sesungguhnya yang ingin kami perankan, adalah bagaimana aktifitas Pengurus KSB di tengah suasan dan kondisi darurat, adapun dukungan dari luar setelah adanya permintaan daripihak Camat Maros Baru, begitu harapan dari jalannya skenario simulasi.
Demikian halnya dengan teman-teman dari Tim SAR, sudah diingatkan agar tripod bambu yang akan digunakan, telah dibuat dan diikat sehari sebelumnya.
Bukan pada saat simulasi berlangsung, akhirnya ada durasi waktu 30 menit hanya untuk sekedar mempersiapkan peluncuran, semoga hal ini menjadi pelajaran berharga untuk kegiatan selanjutnya.
Namun ada hal yang patut kita syukuri bersama, karena peran serta dari komponen para penolong di dunia kebencanaan seperti Basarnas, BPBD, PMI, Tim 119 , Sarsos, SatPol PP, Dinas Pekerjaan Umum, Lingkungan Hidup, Para camat serta relawan, tumpah ruah di acara simulasi KSB yang digagas Pemerintah Kab. Maros.
Semangat seperti Ini harus terus didengungkan dan dirawat, mengingat para relawan adalah insan sosial yang telah mewakafkan dirinya untuk membantu orang lain, karenanya mereka tidak perlu harus dibentak-bentak, atau dimarah-marahi di depan umum, seperti yang pernah dilakukan Menteri Sosial di salah satu lokasi bencana.
Khusus Pemkab Maros, pemberian ucapan dan piagam penghargaan kepada masing-masing Pembina Tagana yang hadir di Kabupaten Maros, merupakan nilai plus tersendiri sebagai penyelenggara simulasi.
Nah sekarang dengan terbentuknya KSB di Kecamatan Maros Baru dengan paket bantuan logistik yang cukup lumayan, sudah saatnya melakukan pencatataN, pengawasan dan pelatihan yang secara kontinyu.
Agar apa yang telah diperoleh selama tiga hari pelatihan, menjadi cikal bakal dalam melakukan aksi di tengah kondisi banjir di masa mendatang, semangat pagiiii (syakhruddin)


